Tim Penyelamatan

1944 Kata
Arial menatap seluruh anggotanya dan menarik nafas dalam sebelum memberikan sebuah amanat untuk mereka. “Jangan ada korban! Ingat! Tugas kita menyelamatkan Rivan dan Dio, tetap sambungkan komunikasi!” Arial kembali mengingatkan timnya, mereka semua mengangguk paham dan mengeratkan kepalan tangan mereka. “Ok!” Teriak semua tim, Arial tersenyum melihat hal tersebut. “5… 4…” Patra mulai menghitung mundur menjelang pintu dibuka. “Show them!” Arial berteriak hingga urat lehernya terlihat, sangking kencangnya ia berteriak. “3… 2…” “We Are Earth!” Seluruh tim menjawab teriakan itu dengan teriakan yang tak kalah kerasnya. “Go… go… go!” Patra berseru seraya menekan tombol hijau pembuka pintu, setelah pintu itu terbuka seluruhnya mereka melompat keluar, posisi heli yang tidak terlalu jauh dari tanah membuat mereka tidak harus terjun bebas dan menggunakan parasut. Setelah seluruh tim berhasil keluar, helikopter yang dikendarai Patra kembali terbang keatas dan dengan cepat menuju lokasi yang sudah Arial tugaskan menghindari kecurigaan para pihak keamanan. Arial dan rekan satu tim nya berlari menuju sebuah perempatan ditengah distrik 5, sebuah GPS menyala dihadapan keduanya, menunjukkan arah kemana mereka harus berlari. Alat tersebut bernama location detection, maps hologram yang muncul ketika mereka berlari menuju suatu tempat. Alat itu tersimpan di baju yang mereka kenakan, lebih tepatnya alat itu tersimpan pada kancing baju yang mereka kenakan. sehingga seluruh tim keamanan W.A.E sudah membawa alat itu setiap kali mereka bertugas tanpa harus mempersiapkannya. “2 meter lagi jarak tim keamanan pemerintah akan berhadapan dengan kalian!” sambungan W.A.E Information System memberitahu kepada Arial dan rekannya bahwa mereka akan menghadapi pihak keamanan pemerintah, mereka saling bertatapan dan mengangguk setelah mendengar informasi itu. Keduanya justru mempercepat lari mereka agar semakin cepat berhadapan dengan tim keamanan pemerintah. Ketika mereka sudah melihat kumpulan dari tim lawan, Arial segera mengganti shoot gun yang dibawa nya kedalam mode shoot electric bom. “Hei!” Arial berteriak dengan kencang, membuat seluruh tim keamanan pemerintah berhenti melangkah dan menengok kearah mereka. Arial segera menembakan satu tembakan electric bom yang berhasil membuat tiga orang dari mereka tersetrum seketika. “Tangkap mereka!” Salah satu anggota dari tim keamanan pemerintah berteriak pada rekan setimnya, segera saja Arial dan rekannya berlari menjauh menghindari terjangan peluru yang ditembakkan oleh lawan pada keduanya. “Rivan? Kau bisa mendengar ku?” Jizan salah seorang dari anggota tim keamanan W.A.E yang bertugas untuk menjemput Rivan dan Dio bertanya pada Rivan, memastikan sambungan keduanya tetap terhubung. Keduanya berlari dan terkadang bersembunyi jika mereka tidak sengaja akan berhadapan dengan para anggota dari pihak keamanan pemerintah. Berterimakasihlah pada location detection dan sambungan Information system W.A.E yang selalu terhubung dengan mereka semua. “Ya, aku dapat mendengarmu dengan jelas.” Jawaban Rivan setidaknya membuat Jizan dan rekannya bersyukur, mereka bersyukur karena anggota yang akan mereka selamatkan masih ada disana dan tidak hilang begitu saja. Karena hal itu pernah terjadi sebelumnya, dimana saat tim penyelamat datang, seluruh tim Speech yang akan diselamatkan hilang begitu saja sehingga tugas penyelamatan mereka di katakan gagal. “Oke, namaku Jizan. Aku dan temanku berada dua blok dari posisi kalian, bersiaplah karena kita akan segera pulang!” Jizan tersenyum saat mengucapkan hal itu, keduanya segera berlari dengan kencang menuju lokasi dimana Rivan dan Dio berada. “Patra, kita mendapat masalah disini!” Winda wanita satu-satunya dalam helikopter tersebut berucap panik pada Patra ketika ia melihat sebuah benda yang melayang cepat kearah mereka. “Just tell us!” Patra yang tidak bisa beranjak dari tempatnya karena ia seorang pilot yang harus mengendarai heli itu, hanya meminta Winda menjelaskan permasalahan yang mereka hadapi. Sementara seorang anggota yang bertugas memegang machine gun khusus helikopter itu, berjalan kearah sang anggota Information System untuk memeriksa masalah apa yang dikatakan oleh Winda. “Sebuah helikopter milik pemerintah sedang melaju dengan kecepatan tinggi kearah kita.” Akhirnya Winda melaporkan keadaan yang mendesak mereka, umpatan dari Patra terdengar jelas pada sambungan yang juga terhubung pada anggota lainnya dibawah sana. “Kssskk, Patra… Apa kau bisa atasi itu?” Arial yang memang mendengar semua percakapan mereka, kini bertanya pada rekannya tersebut. Dia hanya ingin memastikan bahwa Patra bisa menanganinya. “Jangan remehkan aku Arial! Aku dan Rifael pasti bisa.” Patra menjawab seraya diiringi sebuah kekehan kecil, ia melirik kearah co-pilot yang mengangguk mantap kearahnya. Patra kembali menatap keadarh tombol-tombol di hadapannya dan memegang tuas dengan erat. “Bagus!” Arial bangga dengan jawaban yang Patra berikan padanya, setidaknya itu dapat menaikan seluruh kepecayaan diri anggota lain. “Fokuslah pada tugas kalian, kami akan menjemput kalian di Pharmaceutical tower. Tunggulah diatap evakuasi!” Patra berujar, sebelum ia menutup pembicaraan dan fokus pada apa yang mereka hadapi di atas sana. “Baik!” “Copy That!” Setelah mereka mengatakan hal itu, dan setelah sambungan mereka terputus untuk sementara, Patra segera menekan tombol activated yang berfungsi untuk membuka pintu belakang dan mengeluarkan machine gun beserta seorang anggota yang memegangnya dengan tegap. “Indra, kau siap?” Patra bertanya pada rekannya yang bertugas untuk menjalankan machine gun tersebut dengan sedikit berteriak agar lelaki tersebut mendengarnya. Indra nama dari lelaki itu, ia menatap pada Patra dan menepuk machine gun dihadapannya seraya menjawab. “Everytime!” Dengan penuh percaya diri, dan saat helikopter milik pemerintah mulai terlihat, Indra dengan cepat menembaki helikopter tersebut bahkan sebelum heli milik pemerintah itu mengeluarkan senjata mereka untuk menembaki heli milik W.A.E. Baku hantam antara peluru dan badan helikopter yang tidak bisa terhindarkan terdengar sangat menegangkan, patra sebisa mungkin menghindari agar tidak bertabrakan dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi itu. “Hang on!” Patra berteriak pada semua anggotanya ketika ia tiba-tiba membelokkan helinya dengan tajam kearah kanan, sehingga ekor heli milik pemerintah tidak sengaja menyenggol sisi kiri sebuah gedung dan terjatuh kebawah. “Korban jiwa nol!” Winda yang memantau keadaan mereka juga bertugas untuk memastikan bahwa tidak ada korban jiwa atas tindakan mereka. Mendengar laporan dari Winda membuat Indra tersenyum dan memeluk machine gun nya. “Good, sekarang kita jemput mereka.” Patra segera memutar helinya menuju Pharmaceutical tower, namun sebuah tembakan tepat mengenai badan heli dan mengakibatkan goncangan kuat terjadi pada heli mereka. “Oh no, mereka mengirimkan jet rudal ke arah kitaa.” Winda terlihat panik ketika mendapati sebuah benda melayang dengan cepat dan berbentuk seperti jet rudal milik pemerintah. Mendengar hal tersebut, Patra dengan cepat menekan kembali tombol Activated sehingga pintu machine gun kembali tertutup membuat Indra kembali masuk kedalam heli. “Bagaimana ini?” Indra berjalan menghampiri Patra seraya bertanya pada pilot tersebut, Co-pilot tetap fokus pada tugasnya mengetahui Patra harus memikirkan keadaan ini dan keputusan ada di tangannya. Sementara Winda yang tidak beranjak dari tempatnya hanya menatap kearah para lelaki di depan sana, menunggu keputusan yang akan di ambil oleh Patra selaku ketua dalam heli ini. Kelompok penjemput Rivan dan Dio berlari kearah sebuah gedung kosong, keduanya tengah bersembunyi dari kejaran para pihak keamanan pemerintah. Rekan dari Jizan berulang kali menekan-nekan tombol yang ada pada jam tangannya, karena sambungan mereka tiba-tiba terputus. Seharusnya meskipun Patra mematikan sambungannya, sambungan milik mereka akan tetap berjalan. Tetapi beberapa waktu lalu sambungan mereka tiba-tiba saja terputus. “Kita tidak bisa terhubung dengan Winda saat ini karena mereka sedang sibuk!” Jizan berucap pada rekannya tersebut, agar dia berhenti mengetuk tombol-tombol pada jam tangannya. Langkah keduanya berhenti di sebuah gang buntu yang membuat mereka terpojok, mereka tidak terlihat panik dan memutuskan untuk mengecek, memastikan apakah keamanan pemerintah ada disana atau tidak. “Apa yang harus kita lakukan?” tanya lelaki itu pada Jizan, seakan-akan Jizan lah ketua dalam tim yang hanya memiliki dua anggota tersebut. “Trias, kita harus membuat sebuah pengalihan.” Jizan menjawab seraya mengangkat sebuah tabung berwarna merah yang memiliki garis putih ditengahnya yang ia keluarkan dari dalam tas miliknya. Trias, lelaki yang menggunakan topi hitam itu mengangguk setuju dan mengambil tabung dari tangan Jizan, memegangnya dengan erat. Ia melangkah mundur keujung gang dengan perlahan kemudian berlari sekencang mungkin kearah tembok pembatas dan melemparkan tabung berwarna merah itu kesisi lain dari block dimana mereka berada saat ini. “Bagaimana?” Trias segera ikut bersembunyi dengan Jizan yang bersembunyi dibalik sebuah tembok, ia kembali bertanya pada Jizan yang memperhatikan layar. Layar tersebut menunjukkan letak dimana tabung tersebut terjatuh. Area clear – zero population – status evacuation 3 km. Jizan dan Trias saling bertatapan setelah membaca keterangan tersebut, kemudian Jizan menyiapkan sebuah tombol merah yang berfungsi sebagai pemicu ledakan dari tabung tersebut. Trias mengeratkan genggaman senjata yang ada di tangannya nya, dan mengangguk mengiyakan pada Jizan. Jizan menekan tombol tersebut tanpa ragu, kemudian layar pemantau dihadapan mereka menjadi merah seraya menghitung mundur 3…2…1. Saat itu juga ledakan keras terjadi, mengakibatkan beberapa puing-puing bangunan terlempar jauh dan bahkan mengenai keduanya yang berada di balik tembok tinggi itu. “Block sebelah!” Jizan dan Trias dapat mendengar derap langkah kaki dari keamanan pemerintah yang berlarian menjauhi block dimana mereka berada. Mengetahui kondisinya sudah aman, keduanya segera berlari kearah yang berbeda dari para pihal keamanan pemerintah. “Ksssk Sambungan masuk? Rivan… Kami sampai!” Jizan mencoba menyambungkan sambungan mereka pada Rivan dan Dio melalui mikro earphone, dan ternyata sambungan mereka sudah kembali tersambung. Kedua anggota suara W.A.E itu segera mengadah ketika mendengar suara derap langkah dan dua pasang sepatu di hadapan mereka. Keduanya mendapati Jizan dan Trias yang telah sampai di hadapan keduanya dengan tersenyum. Helaan nafas lega terhembus dari keduanya, Jizan menghampiri Rivan yang mendapatkan sebuah luka tembakan di kaki sementara Dio tertembak dibagian lengan kanan. Trias mengeluarkan sebuah kotak jarum suntik kemudian menyuntikan sebuah cairan pada keduanya. Cairan yang berfungsi sebagai antibiotik yang akan memperlambat infeksi akibat luka yang mereka alami. “Ayo!” Jizan berucap seraya membopong tubuh Rivan, sementara Trias membantu Dio untuk berdiri. “Arial sebelah kanan!” Chalid, orang yang menjadi rekan satu tim Arial berterik padanya. Sontak Arial menengok arah tersebut dan mendapati lima orang keamanan tengah menembaki mereka dengan selongsong berisi peluru. Tanpa banyak menunggu, detik itu juga Chalid segera melempar bom hampa oksigen sebagai penangkal dari timah panas tersebut, peluru-peluru itu pun berjatuhan tepat sebelum mengenai keduanya. Arial menatap pada rekannya tersebut dan tersenyum puas. “Thanks!” Mereka kembali berlari menjauhi para keamanan pemerintah. Langkah mereka membawa mereka sampai pada sebuah gang kecil, dan keduanya mulai memanjat pinggiran gedung tersebut. Tim keamanan W.A.E memang dilatih untuk menguasai parkeur, sehingga ketika mereka memasuki saat terdesak mereka dapat menghindari musuh dengan cara tercepat, dan tentu saja jika posisi musuh tidak berada di udara. “Pharmaceutical tower!” Chalid berseru pada alat yang menempel di baju mereka, maps hologram kembali muncul di hadapan keduanya dan menuntun langkah mereka menuju Pharmaceutical tower. Tetapi ditengah perjalanan, Arial tiba-tiba menghentikan langkahnya. Membuat Chalid yang melihat hal tersebut ikut menghentikan langkahnya dan menatap heran pada Arial. * location detection adalah sebuah alat yang dapat menampilkan maps hologram yang akan muncul ketika mereka ingin menuju ke suatu tempat. Alat itu tersimpan pada seragam yang para anggota W.A.E kenakan, lebih tepatnya alat itu tersimpan pada kancing seragam yang mereka kenakan. sehingga seluruh tim keamanan W.A.E sudah membawa alat itu setiap kali mereka bertugas tanpa harus mempersiapkannya. Alat tersebut juga dapat mendeteksi berapa banyak musuh yang ada di dekat mereka, melalui sambungan W.A.E alat tersebut menjadi sangat berguna dalam menjalankan tugas penyelamatan mereka. * shoot electric bom adalah fitur canggih yang ada di dalam shoot gun milik W.A.E, fitur ini berfungsi layaknya bom namun mengeluarkan sengatan elektrik yang akan menyetrum orang-orang dengan jarak tertentu. Fitur ini sangat dibutuhkan ketika kita akan melawan beberapa orang secara bersamaan. * Pharmaceutical tower adalah gedung pembuatan obat yang ada di distrik 5 kota Lin. kota Lin sendiri adalah kota yang memiliki banyak tempat-tempat produksi obat dan alat kesehatan untuk masyarakat milik pemerintah maupun swasta. To be continued 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN