Bab 38

1332 Kata
“Bagaimana bisa kau menyelamatkan seseorang yang bahkan wajah nya sendiri kau lupakan?! Hah… Sudahlah, kita akan bahas itu nanti. Tetapi apa yang kau lakukan membuahkan hasil yang bagus.” James yang hendak menegur Raihan, akhirnya mengurungkan itu karena mengetahui orang yang anak itu selamatkan adalah Bima, orang penting bagi W.A.E ataupun Arial dan teman-temannya. “Maaf.” Raihan menundukkan wajahnya, ketika ia menyadari kesalahannya. Meski James tidak lagi terlihat marah. Jonathan yang ada di sampingnya menepuk pelan bahu anak itu seraya bergumam kecil untuk memuji kerjanya. “It’s not a fault, good job!” bisikan Jonathan terdengar di telinga Arial, membuat lelaki itu melirik pada Raihan dan ikut menenangkannya dengan mengusap-usap rambut anak muda tersebut. “Tidak! Itu bukan suatu kesalahan, Raihan. James menegurmu hanya karena khawatir kau akan melakukan hal yang sama tetapi terhadap musuh. Yang nantinya akan mengakibatkan dirimu tertangkap. Sebisa mungkin, jika kau berada dalam sebuah misi penyelamatkan kembali. Kuharap kau mengingat dengan pasti, bagaimana wajah dari orang yang akan kau selamatkan. Ok?” Gantara yang melihat hal tersebut segera memberikan penjelasan yang lebih dalam mengenai maksud dari James menegurnya tadi. Karena memang pada kenyataannya mereka pasti mengkhawatirkan jika hal tersebut terjadi kepada orang yang salah. Beruntunglah Raihan menyelamatkan seorang Bima… Lelaki yang dianggap telah meninggal sebelumnya. “Saya akan berusaha untuk tidak mengulang hal yang sama… Saya berjanji!” Raihan segera mengangkat wajahnya, menatap pada mereka semua seraya berucap dengan suara yang memekik, tidak… Lebih tepatnya melengking. Membuat semua anggota rapat tertawa pelan. “Baiklah, kami akan menunggu kabar selanjutnya tentang perkembangan pencarian sinyal Luis dan Yoesef yang sedang di lakukan oleh devisi sambungan W.A.E. Selagi menunggu, aku persilahkan kalian untuk melakukan aktivitas seperti biasa. Ku harap kita segera mendapatkan kabarnya, terimakasih.”  Yahmar menutup rapat tersebut dan segera menghampiri Sam juga Gantara yang saling berbincang. Jina menarik tangan Astri untuk menghampiri Arial yang berjalan bersama tim W.A.E yang hadir. Arial menghentikan langkahnya, ketika kedua wanita itu mendekat. “Arial.” Jina memanggil lelaki itu, dan berdiri tepat di hadapannya. Mereka terdiam untuk beberapa saat. “Dia hidup?” Arial dan Jina melirik pada Astri yang bertanya dengan suara paraunya, wanita itu menatap pada Arial penuh harap. Ingin mendengar konfirmasi langsung dari lelaki yang terjun ke lapangan dan menyaksikannya. “Dia masih hidup.” Arial menjawab dan menganggukan kepala. Setelah mendengar hal tersebut, Astri tiba-tiba memeluk Arial dengan kencang dan menangis dengan isakkan kecil. Hal itu tentu saja membuat Jina dan Arial terkejut, atas apa yang terjadi. Arial mengusap-usap pelan punggung Astri seraya menatap pada Jina yang menahan tangisnya dengan mengadah ke atas. Saat Jina menatap pada Arial, lelaki itu mengangguk pelan dan merentangkan satu tangan lainnya. Memberikan pundaknya yang lain pada wanita itu, dan membuatnya di peluk oleh dua wanita yang telah menjadi temannya selama lebih dari 4 tahun ini. Yahmar, Gantara dan Sam yang masih ada di dalam ruangan itu, menatap pada Arial yang sedang di peluk oleh dua orang wanita yang menangis tersebut. “Mereka pasti merasa sangat bersyukur.” Ucap Sam yang menatap ketiganya, Gantara mengangguk membenarkan apa yang Sam ucapkan. “Kau benar, mereka pasti sangat merasa bersyukur.” Gantara menimpali ucapan Sam. Sedangkan Yahmar yang juga bersama keduanya, hanya terdiam menatap pada Jina yang memeluk Arial di sana. ‘Setidaknya dia merasa bahagia… Dan aku akan tetap menjaganya, meski dari kejauhan.’ Itulah yang kini Yahmar pikirkan. Sam menyadari kediaman Yahmar, dan segera menyadarkan lelaki itu dengan menepuk bahunya. “Yahmar.” Panggil Sam, Yahmar menatap pada kedua lelaki di dekatnya itu. “Ya?” Tanyanya, Sam dan Gantara saling melirik kemudian Gantara lebih memilih untuk meninggalkan mereka, keluar dari ruangan itu. “Aku akan mencari tahu kembali mengenai Yoesef.” Ucapnya, dan berjalan meninggalkan Yahmar juga Sam. Keduanya juga melihat Arial, Jina dan Astri berjalan meninggalkan ruangan itu. Sam kembali melirik pada Yahmar yang berjalan di sampingnya ketika mereka hendak menuju ruang rawat di devisi kesehatan. “Biar ku tebak… Apakah benar, Jina adalah pacarmu?” Pertanyaan yang keluar dari mulut Sam itu, sukses membuat Yahmar meliriknya tajam tanpa menghentikan langkah mereka. Satu helaan nafas dapat Sam lihat, dan itu merupakan satu penjelasan bahwa mereka tidak berpacaran. “Jadi hanya kau yang menyukainya?” Lagi, pertanyaan itu sukses membuat Yahmar kembali menatapnya. Namun kali ini ia menghentikan langkah, membuat Sam juga mengikutinya dan menatap padanya. “Sam…” “Yahmar.” Sam tersenyum saat menggoda Yahmar dengan kembali menyebut nama lelaki itu saat menyebut namanya. Yahmar menghela nafasnya, sebelum ia bertanya pada dokter di hadapannya itu. “Bagaimana mungkin kau mengetahui itu?” Pertanyaan Yahmar tersebut membuat Sam merasa bangga dengan tebakkannya, dan menjawab dengan penuh kesombongan. “Aku adalah peramal, jadi ceritakan saja semuanya maka aku dapat meramalkan apa yang harus kau lakukan selanjutnya.” Jawab Sam, Yahmar terkekeh dan kembali berjalan menuju devisi kesehatan. “Kau hanya memberiku nasihat, bukan sebuah ramalan.” Ucap Yahmar, Sam yang berjalan di sampingnya hanya mengangguk-anggukan kepalanya. “Jadi, bagaimana kondisi Bima? Apakah luka di kakinya sangat… Parah?” Yahmar kembali membuka pembicaraan dengan menanyakan kabar dari Bima, lelaki yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Tetapi dia yakin lelaki ini sangat baik dan berani, terbukti dari keberaniannya meledakkan diri demi menyelamatkan seluruh temannya. “Aku tidak tahu bagaimana keadaannya saat ini, karena ketika aku akan mengoperasinya, kau menyuruhku datang. Jadi aku berikan tugas itu pada Rina, kuharap dia melakukannya dengan baik.” Ucap Sam sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku jas dokter miliknya. Yahmar tersenyum samar dan merangkul bahu dokter tersebut. “Dia pasti melakukannya dengan baik, Sam. Adikmu tidak akan kalah hebat darimu.” Sam terkekeh mendengar pujian itu, ia merasa Yahmar benar. Adiknya adalah dokter yang hebat, sama sepertinya. Namun ia tidak pernah memiliki kesempatan untuk memperlihatkan kehebatannya itu, karena sebelumnya Sam tidak pernah memberikan tugas berat pada adiknya, dokter Rina itu. Ia terlalu takut jika sang adik menghadapi kegagalan yang akan membuat psikisnya tertekan. Jadi sebisa mungkin, Sam menjaga sang adik dari ruang berat seperti operasi, dengan wewenang miliknya. “Berikan dia kesempatan dan kepercayaan, Sam.” Yahmar kembali berucap, dan Sam mengangguk menyetujui hal yang Yahmar katakan. “Aku akan mulai memberinya kesempatan, Yahmar. Setelah ku pikirkan, mungkin keputusanku dan langkahku selama ini, bisa menjadi boomerang baginya. Aku takut nanti dia tidak siap ketika ia di butuhkan di saat situasi genting.” Sam menatap pada Yahmar, menjelaskan bahwa mulai dari sekarang dia akan berhenti menghalangi kesempatan yang seharusnya adiknya miliki itu. Dan hanya akan membantunya ketika ia dalam kesulitan. Yahmar mengangguk dan menepuk pelan bahu Sam. “Kau adalah kakak yang sangat baik.” Puji Yahmar padanya. Tok… Tok… Tok… Pintu ruang rawat milik Rio terketuk, ia tidak yakin siapakah di balik pintu itu, tetapi ia mempersilahkan orang tersebut masuk. “Masuklah.” Setelah ia berucap demikian, pintu itu pun terbuka. Tiga orang masuk ke dalam ruangan, dua orang wanita cantik tersenyum padanya dan Arial yang berada di belakangnya hanya menatapnya dengan santai. “Bagaimana keadaanmu Rio?” Tanya Jina ketika mereka duduk di samping lelaki yang terbaring di atas ranjang itu. Rio tersenyum dan mengangguk pada mereka. “Aku baik-baik saja, Apakah kalian sudah menemui Bima?” Tanya Rio, ia melihat kedua wanita itu hanya menggelengkan kepalanya tanpa terlihat terkejut. Yang membuatnya mengerenyitkan dahi, kemudian menatap Arial. “Kalian tidak terlihat terkejut, Arial pasti sudah mengatakannya. Benar?” Tanyanya kembali, dan melihat kedua wanita itu menggelengkan kepala untuk yang kedua kalinya.    “Tidak, bukan Aku yang mengatakannya. Tetapi dokter Samuel, ketua devisi kesehatan yang membahasnya di rapat tadi.” Rio menyipitkan matanya, mendengar kata ‘Rapat’. Rapat adalah kata yang biasa untuk mereka, tetapi yang tidak biasa adalah mengapa para ketua devisi rapat bersama dengan Jina dan Astri? Juga… Dengan Arial. “Apa ada hal yang penting? Sehingga Rapat di lakukan?” Tanya Rio, dia adalah ketua dari devisi Speech dan mengetahui itu bukanlah hal biasa. “Mereka menyuruh kami untuk hadir di sana, karena… ” Astri tidak melanjutkan ucapannya, dan kini hanya menatap pada Arial. Berharap lelaki itu yang akan menjelaskan pada Rio alasan mengapa rapat di adakan. “Kami membahas tentang pembatalannya misi ini, dan tentang kembalinya Bima.” Arial menjelaskan hal itu hanya sampai di situ, ia tidak menjelaskan hal tentang Luis. Itu membuat Jina dan Astri memaklumi karena kondisi Rio saat ini, namun lelaki itu sudah mengetahui nya terlebih dahulu. Sehingga ia bertanya, membuat Arial terpojokkan. “Bagaimana dengan kabar Luis?” Hening… Mereka terdiam, ketika Rio menanyakan hal tersebut. Haruskah mereka berbohong padanya? “Dia…”  To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN