Bab 41

1269 Kata
“Kenapa kode ini begitu panjang?” Arial menggerutu saat tangannya tetap sibuk mengetik kode-kode itu. Chalid meliriknya dan menaikan satu alis miliknya. “Tapi kau bisa mengingat semuanya. Kenapa kau bisa?” Pertanyaan Chalid tersebut sukses membuat Arial terkekeh pelan, dan menjawab tanpa merasa terganggu sama sekali. “Bagaimana mungkin aku tidak mengingatnya, ketika sang perancang alat ini terus mendesakku agar mengingat semuanya. Setiap hari, bahkan setiap jam di saat aku ada di ruangan ini bersamanya?” Chalid tertawa ringan mendnegar jawaban tersebut. Ia mengerti bagaimana rasanya menjadi Arial yang mendapatkan rekan seruangan seperti Luis. Karena dulu, saat ia berada satu tim dengan lelaki itu, ia pun merasakan apa yang Arial rasakan. Luis terus mendesaknya agar mengingat bagaimana cara menggunakan sebuah alat bernama BLS156 buatannya. Alat itu bukan sebuah senjata, alat itu hanya sebuah alat perekam kecil yang didesain sehingga bisa masuk kedalam celah sekecil lubang semut sekalipun. Namun pada akhirnya, hal itu berhasil dan alat tersebut menjadi alat yang paling di andalkan oleh Chalid ketika ia mendapatkan misi untuk mengintai. Arial selesai memasukan semua kode-kodenya dan menekan tobol enter. Seketika semua layar itu berubah menjadi warna ungu gelap, dan tidak lama muncul garis-garis yang memiliki warna berbeda serta ribuan kotak yang tersusun, meski ada beberapa yang tidak tersusun. Itu adalah sebuah peta geografis yang sangat sederhana, namun jika di lihat dari dekat atau di perbesar, nama-nama tempat disana dibuat sedemikian rupa dan terperinci. “Sh*t! Amazing!” Chalid mengumpat ketika ia melihat hal yang menakjubkan tersebut, disana terdapat banyak cahaya yang berbeda yang tidak Chalid mengerti. Namun ia tahu bahwa Arial pasti mengerti apa tanda dari cahaya-cahaya itu. “Kau ini mengumpat apa terkesan?” Arial tanpa mengalihkan pandangannya dari layar itu, menegur Chalid yang berkata cukup kasar di sampingnya. “Dimana…” “Aku sedang mencarinya Chalid!” Chalid terdiam begitu Arial menjawab pertanyaan yang bahkan belum sepenuhnya terucap dari mulutnya. Chalid kembali melihati satu persatu cahaya itu, tetapi ketika ia dekati matanya pada layar tersebut. Dia melihat sebuah nama di dalam cahaya tersebut, Chalid kembali menegakkan tubuhnya. Melirik pada Arial seraya kembali meminum minuman miliknya. ‘Lebih baik aku menanyakan itu nanti.’ Chalid memutuskan untuk tidak menanyakan hal tersebut saat ini, karena ia takut mengganggu konsentrasi Arial yang sedang kembali memasukan kode-kode rumit. “Ini dia!” Arial berseru, Chalid segera melirik ke arah layar itu. Melihat sebuah bertanda hitam yang terdapat tulisan ‘Tracker Hostage’ di tengahnya. Keduanya saling menatap ketika melihat tempat dimana sinyal itu berada. “Aku akan melaporkan ini!” Chalid berdiri dari tempatnya dan hendak melangkah keluar, tetapi tangan Arial menahan nya. Chalid berbalik menatap pada Arial yang melihatinya dengan kedua mata yang serius. “Ada apa Arial?” Tanyanya, apakah ada yang salah dengan melaporkan hal ini pada kantor pusat? Bukan kah ini akan mempermudah mereka menemukan Luis? Chalid masih diam menunggu jawaban Arial, lelaki itu menyipit ketika ia menduga suatu hal yang terjadi disini. “Apa kau berencana untuk membiarkan mereka mencari keberadaan Luis, padalah kau sudah mengetahuinya? Ataukah… Kau?” Arial menatapnya dengan kedua alis yang saling bertautan, ia melihat ada sebuah kecurigaan dari Chalid padanya. “Tidak! Bukan seperti itu Chalid. Dengarkan aku, Oke?” Arial melepaskan tangannya yang sebelumnya menahan temannya tersebut, dan mengangkat kedua tangannya ke atas layaknya seorang tersangka yang tertangkap oleh polisi. Chalid menganggukkan kepalanya, memasukan kedua tangannya pada saku celana miliknya kemudian menatap Arial, menunggu penjelasan yang di janjikan itu. “Aku hanya ingin memastikan bahwa aku di masukan kedalam tim pencarian. Aku akan menggunakan ini sebagai jaminan, kau mengertikan maksudku, Chalid?” Arial akhirnya memberikan alasan mengapa ia mencegah Chalid untuk melaporkan keberadaan Luis pada kantor pusat. Chalid terkekeh pelan dan mengeluarkan kedua tangannya dari dalam saku celana, kemudian melipat kedua tangan itu ke depan. Masih dengan menatap ke arah Arial dengan tatapan tidak percaya, sekaligus menatapnya dengan tatapan meremehkan. “Kau benar-benar licik, Arial. Aku tidak menyangka kau akan melakukan hal seperti ini demi kepentingan… mu?” Chalid menyipitkan matanya ketika ia menyadari kalimat terakhir yang ia ucapkan. Jika di pikirkan kembali, dengan ikutnya Arial ke dalam tim pencarian tidak merugikan. ‘Kepentingan siapa? Arial? Kepentingannya adalah untuk menyelamatkan Luis. Dan ini memang tentang menyelamatkan Luis… Jadi? Dimana sisi buruknya?’ Chalid beragumen dengan pikirannya sendiri mengenai kepentingan siapa yang lebih baik disini, karena pada dasarnya kedua nya sama saja. Arial mengangkat sebelah alisnya ketika kedua mata Chalid menatapnya dengan serius. “Kau setuju denganku?” Tanya Arial pada Chalid.   Di dalam ruang rapat kantor pusat, semua ketua devisi telah duduk termasuk Rio yang datang bersama dengan dokter Samuel. Meskipun mereka sering bertengkar dan beragumen, tetapi dibandingkan dengan mereka semua, Rio sangat dekat dengan dokter Samuel. “Bagaimana kabarmu, Rio? Aku terkejut kau sudah diperbolehkan untuk mengikuti rapat ini.” James datang memasuki ruangan dan langsung menghampiri Rio. Menanyakan kabarnya yang terlihat menggunakan baju pasien dan sebuah selang infus yang masih menusuk kulitnya. Rio hanya tersenyum mendengar ucapan tersebut, ia melirik sejenak pada dokter Samuel yang duduk di sampingnya. “Dia sudah ku perizinkan mengikuti rapat ini. Tenanglah, semua akan baik-baik saja.” Dokter Samuel menjelaskan pada James mengapa Rio sudah bisa mengikuti rapat ini. James mengangguk dan mengambil kursi tepat di samping Rio dan Matt, kemudian menunggu kedatangan Yahmar juga Gantara. “Maaf, kami terlambat!” Yahmar yang masuk kedalam ruangan, langsung memohon maaf karena keterlambatannya selama dua menit itu. Yahmar datang ke dalam ruangan bersama dengan Gantara dan Bima. Bima terlihat sangat berbeda dengan kumis dan jenggot yang sudah ia rapikan. Rambutnya yang ia ikat dengan gaya manbun membuat penampilannya semakin kuat, meskipun ia masih mengenakan baju pasien dan duduk di atas kursi roda yang di dorong oleh Gantara. “Tidak sepenuhnya terlambat.” Ucap Matt dengan begitu santainya. Mereka pun memulai rapat untuk menentukan devisi yang tepat untuk Bima. Saat rapat, mereka terdiam ketika melihat data tentang Bima yang sudah di rangkum oleh Information system sebelumnya. Yahmar memijat pelan keningnya saat membaca data tersebut, James terlihat mengaga ketika membacanya, sementara Gantara dan dokter Samuel membaca data itu dengan sangat serius. Rio yang melihat keheningan tersebut segera mengambil data milik Bima dan membacanya juga, sebelumnya ia merasa ia tidak perlu membaca data tersebut karena ia sangat mengenal bagaimana kepribadian Bima. Tetapi saat ia melihat reaksi dari para ketua devisi lain, ia segera mengeceknya. Takut-takut Matt  menuliskan sebuah informasi yang salah tentang sahabatnya tersebut. Bima yang duduk di kursi rodanya di samping Matt, hanya melirik mereka semua dengan kebingungan. Kemudian ia menatap pada Matt yang terlihat tenang menunggu para ketua devisi itu selesai membaca. “Apakah ada yang salah dengan informasi yang ku ucapkan?” Bima berbisik pada Matt, menanyakan mengapa para ketua devisi, termasuk Rio terlihat sangat diam. Ia takut jika informasi yang ia berikan, mempunyai banyak kesalahan. “Entahlah… Kau sudah mengatakan yang sebenarnya kan? Tidak ada yang kau buat-buat?” Matt menjawab pertanyaan Bima dengan pertanyaan kembali. Karena Matt pun merasa bingung dengan kediaman mereka, padahal ia melakukan pelaporan yang sesuai dan seperti biasanya.           * BLS156 adalah alat buatan Luis yang digunakan pada saat misi pengintaian, alat ini bukanlah sebuah senjata. Alat ini hanyalah sebuah alat yang memiliki fungsi merekam semua hal yang terjadi. Alat ini berukuran sangat kecil yang di desain sedemikian rupa hingga alat tersebut dapat masuk ke dalam celah sempit sekecil lubang semut sekalipun. Alat BLS156 adalah sebuah alat mata-mata yang banyak di gunakan oleh Organisasi W.A.E ketika Luis meluncurkannya sebagai alat yang boleh di gunakan oleh setiap anggota W.A.E. * Tracker Hostage Adalah nama dari alat pelacak yang Luis ciptakan. Alat ini berupa chip kecil yang di tempelkan pada baju, tas, kulit, rambut atau sepatu sekalipun. Alat ini mempunyai ke akuratan letak dan titik yang sangat tepat, namun kekurangan dari Tracker Hostage adalah kode-kode rumit yang harus dimasukan kedalam layar virtual yang dapat memakan waktu cukup lama. Kode-kode rumit itu terdiri dari empat ribu huruf yang harus di masukan secara continue dan tidak boleh berhenti.  To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN