“Apakah… Ini benar?” Yahmar mengangkat kepalanya, menatap pada Matt yang membuat informasi data tersebut. Matt menganggukkan kepalanya dengan sangat yakin. Kemudian Yahmar menatap kepada Rio, karena ia yakin bahwa Rio lebih mengetahui tentang Bima. Bukannya ia meragukan informasi yang Bima berikan pada Matt, hanya saja ia curiga bahwa Bima telah mengalami geger otak ringan ataupun ilusi dan lain sebagainya yang bisa saja membuatnya menceritakan informasi palsu.
“Rio?” Panggilan Yahmar tersebut sukses membuat lelaki yang sedang membaca data tentang temannya itu menghentikan kegiatannya, dan menatap pada Yahmar. Seluruh anggota rapat, termasuk Bima kini menatap pada Rio.
“Ya?” Tanyanya, ia kebingungan ketika menyadari seluruh anggota rapat menatapnya. Rio segera menutup data yang tengah ia baca, dan menegakkan tubuhnya. Dengan wajah pucatnya, ia hendak berdiri dan menjelaskan apa yang ada dalam pikirannya. Tetapi Yahmar segera mencegahnya, karena ia tahu kondisi Rio tidak bisa di paksakan.
“Tidak perlu berdiri Rio!” Rio yang hendak berdiri pun kembali duduk ke atas kursinya, kemudian kembali menatap pada Yahmar.
“Jelaskan saja, apa benar… Data milik Bima seperti ini?” Yahmar melirik pada Bima yang menatapnya dengan mengerenyitkan dahi ketika mendengar perkataannya yang terkesan meragukan Bima tersebut.
“Aku mendengar sebuah keraguan disana.” James menyela ketika Rio akan berbicara, mereka semua terdiam melirik pada James yang tersenyum menatap Yahmar.
“Diamlah!” Gantara menegurnya. James memang sering melakukan candaan di tengah rapat, namun saat ini Gantara merasa candaan itu kurang tepat. Karena candaan yang baru saja ia lakukan bisa menjadi akar masalah, jika-jika Bima adalah seorang yang memiliki kontrol emosi yang kurang baik.
“I am just kidding, okay?” James mengangkat kedua bahunya dan menatap pada Gantara yang menatapinya dengan tajam. Yahmar hanya membuang nafasnya dengan pelan, dan kembali menatap pada Rio. Menunggu jawaban dari lelaki itu.
“Aku…” Rio melirik pada Bima untuk sesaat dan kembali pada penjelasannya.
“Benar, semua informasi yang di tulis oleh Matt, dan dikatakan oleh Bima adalah informasi yang sama yang ku ketahui tentangnya dulu.” Yahmar terdiam begitu mengetahui informasi tersebu benar, ia kembali melihat pada data tersebut. Informasi, Senjata, Perhitungan rencana, Kedokteran… Semuanya dapat ia lakukan.
‘Dimana aku dapat menempatkannya? Dia pandai melakukan segala hal. Apakah sebaiknya aku melakukan apa yang Jina inginkan?’ Yahmar kembali berpikir ketika ia merasa kebingungan menempatkan posisi untuk Bima.
“Sebenarnya, bolehkah aku bersuara?” Bima berucap, para ketua menatap kearahnya. Yahmar yang sedari tadi terdiam kini mengangguk mempersilahkan lelaki itu mengutarakan pikirannya.
“Setelah aku melakukan pembicaraan dengan Matt, dan mencari tahu tentang semua hal yang ada di sini… Hm, Organisasi W.A.E ini, ku rasa aku telah memilih sebuah devisi yang aku inginkan.” Mereka mempertimbangkan perkataan Bima tersebut. Tentu saja mereka menginginkan Bima masuk kedalam devisi mereka, apalagi dengan kehebatan yang dimilikinya, itu akan membantu devisi yang mereka naungi.
“Baiklah, kita akan mendengar kan dulu keinginanmu untuk menjadi bahan pertimbangan.” Dokter Samuel yang kini menengahi semuanya, karena jika Yahmar tidak segera bertindak. Mungkin saja James, Matt atau bahkan Gantara menginginkan Bima berada di devisi mereka.
“Baiklah, kita akan dengarkan keinginanmu.” Yahmar menyetujui usul yang dokter Samuel sarankan. Dengan itu, para ketua devisi tidak perlu repot-repot mempertahankan argumen mereka.
“Aku ingin menjadi bagian dari Suara W.A.E Speech Devision.” Bima melirik pada Rio yang terkejut mendengar hal tersebut. Begitupun dengan para ketua devisi lainnya, mereka tidak menyangka akan hal ini.
“Tunggu! Haruskah kita menempatkannya disana? Kita tidak bisa kehilangan orang sepertinya lagi, Yahmar!” Gantara berdiri dari kursinya, orang yang pertama mendebat keinginan Bima untuk masuk kedalam Speech Devision. Bima hanya menatap heran pada lelaki itu, ‘Kenapa mereka bertingkah seolah-olah aku adalah orang yang sangat penting?’ pikirnya.
“Tenanglah Gantara, aku mengerti kau sangat menginginkannya berada di dalam devisimu. Tetapi bukankah dia lebih baik di tempatkan pada posisi yang lebih menguntungkan, yang dapat membuat pertahanan W.A.E semakin kuat?” James yang kini berucap dengan sangat santai, namun sebuah seringaian tidak lepas di wajah tampannya.
“Hah… Kalian benar-benar naif, katakan saja bahwa kalian menginginkannya. Tanpa harus saling menyalahkan.” Kini Matt yang duduk di samping Bima bersuara, di dalam ruangan itu yang terdiam hanyalah Yahmar, Rio, Dokter Samuel dan Bima sendiri. Sementara ketiga orang lainnya sibuk saling menyalahkan dan menyindir.
Rio menghela nafasnya ketika mulai merasa pusing dengan rapat tersebut, Yahmar menatap pada dokter Samuel yang menggelengkan kepalanya tanda ia juga tidak setuju. Kemudian Yahmar kembali menatap ada Bima yang masih terlihat bingung, dan diam.
“Oke cukup semuanya!” Mereka terdiam begitu Yahmar mengucapkan hal tersebut, dan kembali duduk dengan tenang. ‘Jadi begini cara mereka rapat? Hh… Seperti anak kecil sekali.’ Bima menertawakan para ketua devisi itu di dalam hatinya.
“Aku akan memberikan sebuah opsi, jika Rio tidak menerimanya di Speech Devision. Putusan W.A.E Assignor section yang akan menjadi devisimu jika Rio tidak menerimamu masuk kesana.” Ucapan Yahmar tersebut tentu membuat semuanya terkejut, termasuk Rio sendiri. Karena pada kesimpulannya, Yahmar menunggu keputusan yang Rio pilih. Apakah dia akan menerima Bima atau tidak?
“Pikirkan baik-baik.” Yahmar kembali berucap saat Rio menatapnya, mereka semua terdiam menunggu jawaban Rio.
“Jadi… Kau menyuruhku untuk memutuskan?” Rio memilih untuk bertanya, daripada menjawab apa keputusannya.
“Itu tergantung padamu, Rio. Tim Speech Devision telah kehilangan banyak anggota, dan kau selaku ketua terlalu sering terjun ke dalam misi.” Yahmar kembali berucap, namun ucapan tersebut membuat Rio mengerenyitkan dahinya.
“Itulah aku, Yahmar. Bagaimanapun keadaan anggotaku, aku akan selalu terjun kedalam misi.” Rio yang keberatan dengan ucapan yang Yahmar ucapkan padanya, segera angkat bicara.
“Maka dari itu, pikirkan ini dengan baik-baik.” Yahmar kembali berucap, dan entah mengapa untuk pertama kalinya dalam sebuah rapat bersama dengan orang itu, Rio merasa kali ini benar-benar emosi. Ia kemudian menatap pada Bima yang menunggu keputusannya.
“Aku…”
Tok… Tok… Tok… Pintu terketuk tiga kali dari luar, membuat Rio menghentikan ucapannya dan melirik kearah sana seperti apa yang dilakukan oleh para ketua devisi lainnya.
“Apakah anggota lain tidak diberi tahu bahwa saat ini kita sedang rapat?” Gantara berdiri dari tempatnya, dan berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu tersebut. Ia terdiam ketika melihat Arial dan Chalid yang berdiri di balik pintu tersebut.
“Apa yang…” Gantara tidak melanjutkan pertanyaannya, ketika Arial dengan sigap memperlihatkan sebuah layar pelacak pada nya. Kediaman Gantara di ambang pintu membuat para ketua devisi merasa bingung, Yahmar yang menangkap siluet orang lain di balik pintu segera bertanya.
“Gantara? Siapa itu?” Yahmar akhirnya bangkit dari tempat duduknya, dan menghamiri pintu dimana Gantara berdiri. Yahmar menaikan kedua alis matanya, mentap Arial yang juga menatapnya.
“Apa kau tidak tahu bahwa saat ini kami sedang mengadakan rapat?” Tegur Yahmar padanya, ia sedikit merasa terganggu dengan kehadiran Arial yang tiba-tiba. Seharusnya lelaki itu menghargai para ketua devisi yang sedang melakukan rapat di dalam ruangan tersebut.
“Aku tahu, tapi Luis tidak bisa menunggu!” Arial memberikan layar tersebut pada Yahmar yang terlihat kebingungan. Ia menatap layar pelacak yang ada di tangannya tersebut.
“Izinkan aku dan Chalid masuk ke dalam tim penyelamatan, dan kami akan berangkat sekarang sebelum mereka menyadari bahwa ada alat pelacak itu di tubuh Luis.” Yahmar mengangkat wajahnya untuk menatap lelaki yang berucap dengan sangat serius padanya. Dibelakang sana, seluruh ketua devisi termasuk Bima dapat mendengar perbincangan itu dari dalam dengan jelas.
Rio bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu, Dokter Samuel sempat menahannya namun ia mengatakan bahwa ia harus pergi melihat hal tersebut. Bima yang penasaran juga sebenarnya ingin pergi kesana namun ia tidak bisa karena ia masih berada di atas kursi roda yang dikunci oleh Matt.
To be continued