Bab 40

1038 Kata
“Itu bukan keputusanku, Jina. Kita akan mengadakan rapat bersama, untuk menentukannya.” Yahmar menjawab permintaan tersebut, karena memang seperti itu cara kerja mereka. Meskipun ia adalah seorang ketua Assignor Section, ia tetap harus bertanya pada ketua devisi lainnya dan menilai Bima dengan profesional. “Tapi kau bisa mengusahakan itu.” Jina kembali berucap, seakan ia memaksa pada Yahmar. Sam melirik pada Yahmar, dan membaca raut wajah lelaki itu saat ini. Kemudian saat ia kembali menatap pada Rio, lelaki tersebut telah menatapnya dengan satu alis yang terangkat. “Apa?” Tanya sang dokter pada pasiennya itu, membuat mereka melirik padanya. Rio menggelengkan kepalanya dengan pelan seraya tersenyum sangat tipis. Membuat Sam sang ketua devisi kesehatan itu menghembushkan nafasnya dengan keras dan memukul lengan kanan Rio dengan cukup keras. “Awh…” Rio meringis kesakitan saat Sam memukulnya. “Sam!” Dia membentak dokternya tersebut, tidak terlalu keras namun cukup membuat mereka semua terkejut. “Aih… Mengapa kau begitu mengesalkan Rio? Hah~ hariku benar-benar buruk karena pasien ini.” Samuel berjalan menjauhi ranjang tersebut dan menghampiri Yahmar juga Gantara yang terkekeh mendengar ucapan itu. “Hei! Kau menyalahkanku? Bagaimana mungkin seorang dokter menyakiti pasiennya seperti tadi?” Rio menatap Sam yang berjalan menjauh itu sambil mengusap-usap lengan kanannya. “Sudahlah kalian berdua, ini bukan saatnya untuk bercanda.” Gantara menyudahi pertikaian mereka yang lebih mirip dengan lelucon itu. “Aku tidak bercanda.” “Dia tidak bercanda, aku benar-benar kesakitan Gantara.” Jina dan Astri terkekeh mendengar ucapan mereka yang diucapkan di waktu yang bersamaan, Arial hanya tersenyum tipis menimpali hal tersebut. Sementara Yahmar hanya menggelengkan kepalanya, ketika melihat Gantara terkejut dengan ucapan keduanya. “Rapat akan di adakan tiga puluh menit lagi, gunakan waktumu untuk istirahat dengan cukup Rio. Melihat dokter Sam yang memukulmu, aku yakin bahwa keadaanmu sudah baik-baik saja dan stabil.” Yahmar berdiri dari duduknya dan mengatakan bahwa rapat akan di adakan pada Rio. “Kami akan menunggumu di kantor pusat, Aku permisi.” Yahmar tersenyum sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan mereka di susul oleh Gantara dan Dokter Samuel.   Setelah kepergian mereka bertiga, Arial melirik pada Rio untuk menanyakan suatu hal. “Kau akan tetap rapat?” Tanyanya, Rio mengangguk. Sebegai ketua devisinya, tentu dia harus menghadiri rapat itu meski keadaannya tidak memungkinkan. Lagi pula dia juga harus memastikan devisi mana yang cocok untuk Bima. “Kalau begitu, kuharap kau bisa mencegah mereka agar tidak memasukan Bima ke dalam devisi berbahaya kan, Rio?” Astri bertanya padanya, ia bertanya dengan penuh harap. Ia dan Jina memang belum melihat Bima secara langsung, tetapi mereka benar-benar tidak menginginkan lelaki itu kembali kedalam misi yang berbahaya. “Maafkan aku, Astri. Yahmar benar, kami harus mengikuti prosedur dengan profesional. Dan dalam rapat nanti, bukan hanya aku yang memutuskan Bima akan masuk ke dalam devisi mana.”  Astri menundukkan wajahnya, ia mengerti jika ia tidak bisa memaksakan hal tersebut jika Rio sudah mengatakan seperti itu. “Tapi aku akan mengusahan yang terbaik untuknya.” Astri dan Jina menatap pada Rio yang tersenyum menenangkan keduanya. Setelah itu mereka membiarkan Rio beristirahat dan kembali menuju ruang devisi mereka masing-masing.   “Arial!” Arial membalikan badannya ketika ada seseorang yang tiba-tiba memanggilnya dari belakang. Begitu ia berbalik, ia melihat seorang yang masih menggunakan seragam tim Keamanan menghampirinya. Lelaki itu memberikan sebuah minuman kaleng pada Arial, dan merangkul bahunya. “Chalid?” Arial terkejut ketika teman satu tim nya itu tiba-tiba datang dan memberinya sebuah minuman. “I know… Tenanglah Arial, aku akan membantumu sebisaku untuk menyelamatkannya.” Arial tersenyum begitu mendengar ucapan Chalid padanya tersebut. Ia belum sempat bercerita pada siapapun mengenai masalah ini, tetapi Chalid sudah mengetahui itu terlebih dahulu. “Dari mana kau mengetahuinya?” Tanya Arial ketika ia yakin bahwa seharusnya informasi ini tidak bocor ke siapapun dan ke devisi manapun. Arial duduk pada sebuah kursi yang ada di lorong tersebut, Chalid tentu mengikutinya dan duduk di sampingnya. “Aku hanya melihat seluruh tim tanpa dua orang yang kembali, Arial. Dan aku mengetahuinya ketika melihat raut wajahmu ini.” Arial mengangguk dan meminum minuman kaleng tersebut. Chalid yang berada di sampingnya menatapinya untuk sejenak sebelum kembali bertanya. “Apakah dalam misi pencarian Luis, kau akan di izinkan untuk masuk ke dalam tim?” Pertanyaan itu sukses membuat Arial terdiam. Pertanyaan itu juga yang sebenarnya mengganggu pikirannya sedari tadi. Apakah ia akan di perbolehkan untuk kembali melaksanakan tugas ketika ia telah membuat misi sebelumnya gagal dan di batalkan. “Aku tidak tahu.” Itulah hal yang Arial katakan pada Chalid, dengan suara yang tidak terlalu pelan dan tidak keras itu. Chalid mendengar adanya sebuah rasa penyesalan dalam ucapan itu, yang membuat dirinya ikut merasa bersalah telan menanyakan hal tadi. “Ayo. Lebih baik kau beristirahat terlebih dahulu. Mungkin saja kau akan kembali masuk ke dalam tim pencarian.” Chalid berdiri dari tempatnya dan mengulurkan tangan pada Arial. Membantunya untuk berdiri dan mengajak lelaki itu untuk beristirahat. “Tunggu sebentar!” Arial menghentikan langkahnya dan menatap pada Chalid dengan mata yang melebar. Chalid yang terkejut hanya menatapnya dengan kebingungan. “Ada apa?” Tanyanya, namun Arial tidak menjawab. Dia berlari dengan sangat kencang ke arah ruang devisi tim keamanan. “Arial!” Chalid segera mengejar Arial, karena ia takut hal buruk terjadi. Dia menyusul Arial masuk kedalam ruang devisi, masuk kedalam ruangan Arial dan menghampiri lelaki yang kini tengah sibuk menyalakan komputernya juga komputer milik Luis. “Ada apa, Arial?” Tanyanya lagi dengan nafas yang tersengal-sengal, ia menatap seluruh ruangan Arial dan Luis yang terlihat sangat berbeda dengan ruangan-ruangan lainnya. Di ruangan ini terdapat begitu banyak layar komputer yang tidak ia ketahui fungsinya. Bisanya di ruangan lain, mereka hanya akan menggunakan dua buah komputer saja, atau bahkan mereka lebih memilih layar virtual di bandingkan dengan komputer. Tetapi dalam ruangan ini, Chalid merasa bahwa mereka benar-benar hebat dengan banyaknya layar yang memenuhi dinding itu. “Aku baru mengingat sesuatu, Chalid! Aku ingat bahwa aku menyelipkan sebuah alat pelacak pada tubuh Luis.” Arial menjawab seraya kedua tangan dan matanya sibuk pada satu layar komputer, ia memasukan kode-kode rumit yang tidak Chalid mengerti. Tetapi mendengar jawaban tersebut, Chalid merasa sangat lega. “Kalau begitu, sebaiknya kau memindai dimana pelacak itu. Sebelum musuh mengetahuinya.” Chalid menghampiri Arial dan ikut menatap layar tersebut. Suara ketikan keyboard terdengar sangat cepat di telinga Chalid. Arial memasukan kode-kodenya dengan sangat cepat tanpa berpikir dan melihat pada sebuah catatan apapun. “Aku tahu, Chalid. Maka dari itu aku segera kemari dan memasukan kodenya.” Ucap Arial, Chalid menganggukkan kepalanya dengan pelan sambil melihat dengan takjub ke arah tangan Arial yang belum juga berhenti mengetik kode-kode untuk memasukannya kedalam layar. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN