Bab 47

1119 Kata
“Dan setelah itu, aku sadar saat aku sudah berada di sebuah rumah sakit milik pihak militer pemerintah. Aku di jadikan tahanan dan berulang kali di introgasi, sampai pada akhirnya mereka berpikir bahwa aku sudah tidak berguna. Mereka hanya menahanku di ruang tahanan isolasi, dengan kaki yang patah.” Rio dan Arial terdiam, mereka terkejut mendengar bahwa orang yang meninggal di lokasi kejadian adalah Ayah dari Jina. “Jadi maksud mu, seseorang yang gugur di saat itu adalah…” Rio terdiam, dia tidak bisa melanjutkan lagi ucapannya. Ia tidak tahu bagaimana reaksi Jina jika mendengar hal ini, wanita itu pasti akan sangat shock dan sedih. “Benar, Pemerintah memalsukan kematianku. Dan menggantinya dengan Ayah Jina. Aku tidak tahu bagaimana caranya menceritakan hal ini padanya, Rio. Bagaimana jika ia membenciku setelah ini? Meskipun aku tidak masalah jika memang akan seperi itu, tetapi kenyataan ini dapat membuatnya sangat terpuruk.” Arial mengangguk, ia menyetujui perkataan Bima. Kenyataan ini memang akan membuat wanita itu terpuruk dan ada baiknya jika mereka tidak perlu menceritakan hal ini padanya dulu. “Tetapi cepat atau lambat dia akan menyadarinya, Bima. Jadi sebelum dia mengetahui dari orang lain, aku sarankan agar kau yang memberitahunya sebelum itu.” Rio memberikan sebuah saran. Bagaimanapun juga, Jina harus mengetahui hal ini. Karena jika Jina mengetahuinya dari pihak lain, ia mungkin akan sangat mebenci Bima lebih dari yang harus dia lakukan. “Aku akan memberi tahu Jina, saat kita sudah berhasil menyelamatkan Luis.” Ucap Bima, Rio mengangguk mengiyakan, begitu pula dengan Arial.     Sebuah ruangan yang tidak terlalu gelap juga tidak terlalu terang, masuk ke dalam indera pengelihatan Daniel. Seluruh tubuhnya terasa sakit, dan ada beberapa alat yang menempel di tubuhnya. Selang infus dan darah yang dapat ia lihat menggantung di samping kanan kepalanya. Daniel mencoba mengingat apa yang terjadi padanya di saat terakhir kesadaran bersamanya. Saat itu ia merasakan getaran hebat di bagian pesawat, dan tiba-tiba seluruh mesin pesawat mati. Ia berusaha menggapai tas parasut yang ada di dekat pintu keluar, namun pesawat telah terlebih dahulu terjun. Membuanya terhempas begitu saja karena tidak memakai sabuk. Daniel melihat pada Brian dan Kahar yang masih berusaha mengendalikan pesawat ini dengan beberapa manuver yang telah mereka kuasai. Daniel juga melirik pada Padhil yang berusaha membantunya agar kembali duduk. Nafas nya terasa sangat berat ketika pesawat terasa semakin cepat terjatuh kebawah, Daniel berhasil menggapai salah satu kursi dan mengikat dirinya dengan sabuk. Ia juga melihat salah satu sayap pesawat telah terbelah dan patah. Daniel hanya mempu berdo’a dan memejamkan matanya. “A…” Daniel berusaha mengeluarkan suaranya, namun tenggorokkannya terasa sangat perih dan sakit. Ia kembali terdiam dan mengatur nafasnya agar tidak panik. ‘Bagaimana dengan Brian, Kahar dan Padhil? Dimana mereka? Apa aku berhasil di evakuasi oleh W.A.E?’ Itulah pertanyaan yang menempel di kepalanya, Daniel takut jika anggota lainnya tidak selamat dan hanya dirinya yang berhasil selamat. Cleck! Daniel tidak dapat melihat siapa yang masuk ke dalam ruangan ini, ia hanya menunggu orang tersebut menghampirinya. Seseorang yang wajahnya sangat asing di ingatan Daniel, membuatnya mengerenyitkan dahi. “Oh! Kau sudah sadar?” Lelaki muda itu terkejut dan sedikit berteriak, kemudian ia lari keluar dari kamar tersebut untuk memanggil seseorang yang lebih berhak untuk mengecek keadaan Daniel. Tidak lama dari kepergian anak itu, Daniel kembali mendengar pintu kembali terbuka. Dia melihat seorang lelaki dan wanita menggunakan baju piyama menghampirinya. “Apakah dia tidak bisa menggerakan tubuhnya, Eliot?” Tanya sang wanita pada lelaki yang bernama Eliot tersebut. “Aku tidak tahu, Vani. Panggilah ketua timnya, dan katakan bahwa dia sudah sadarkan diri!” Daniel merasa bahwa dia benar-benar tidak salah mendengar ucapan tersebut. Lelaki bernama Eliot ini menyuruh wanita tadi untuk memanggil ketuanya, itu berarti bahwa seluruh tim nya baik-baik saja dan selamat. ‘Oh, Tuhan! Syukurlah.’ Daniel merasa sangat bersyukur dan bahagia, tidak ada lagi rasa takut di dalam hatinya saat ini ketika mengetahui hal tersebut. “Bagaimana keadaannya?” Daniel mendengar suara Brian di telinganya. ‘Benar! Dia adalah ketuaku!’ Daniel benar-benar lega, namun ia hanya bisa terdiam saat lelaki bernama Eliot itu memeriksa keadaan tubuhnya. “Dia sudah sadar, tetapi dia belum bisa berbicara karena luka yang terdapat di tenggorokannya. Dan tubuhnya juga belum bisa bergerak dengan normal. Aku tetap akan memberikan obat padanya. Mungkin dia sudah bisa di ajak untuk berkomunikasi.” Jelas Eliot pada Brian, Daniel kemudian mendengar pintu itu tertutup dan hening seketika datang. Daniel tidak mengerti apakah Brian tidak ingin menengoknya dulu ataukah ada sesuatu yang harus ia bicarakan dengan anggota tim yang lain. Namun disaat Daniel hendak kembali menutup matanya untuk beristirahat, ia melihat Brian yang berada di atas kursi roda, mendorong kedua roda itu ke sampingnya. Daniel terkejut, namun ia tidak bisa menanyakan apa hal yang terjadi pada Brian. “Daniel… Kau pasti bertanya mengapa aku berada di atas kursi ini. Hh… Tidak perlu kau pikirkan sekarang. Pulihkanlah dulu dirimu, dan kita akan membicarakan ini ketika keadaanmu sudah memungkinkan.” Daniel masih terdiam menatap pada Brian dengan kedua matanya yang besar, Brian tidak berucap kembali, ia hanya tersenyum dan akhirnya pergi dari ruangan tersebut. ‘Aku akan segera sembuh, dan kita akan melaporkan hal ini pada Kantor pusat! Tenanglah.’ Itulah yang sebenarnya ingin Daniel katakan, namun saat pintu itu tertutup sepenuhnya, Daniel hanya bisa tersenyum dan menyimpan ucapan itu untuk nanti.   Tok… Tok… Tok… Jina dan Yahmar menatap pada pintu yang terketuk tersebut, saat ini mereka berdua tengah menunggu kedatangan Gantara dan Astri yang sebelumnya di minta untuk segera datang oleh Yahamar. “Masuklah.” Pintu terbuka saat Yahmar memberikan izin pada seseorang di baliknya. Benar saja, Gantara dan Astri masuk kedalam ruangan Yahmar. Yahmar mempersilahkan mereka duduk, dan mulai membahas apa yang sebelumnya ia ingin bicarakan dengan mereka. “Apa yang akan kita bicarakan?” Gantara terlebih dahulu menanyakan hal yang menjadi topik utama mereka di dalam ruangan itu. Yahmar melirik pada Jina dan Astri yang sama-sama terlihat habis menangis. Bagaimana tidak? Keduanya ditinggalkan oleh para lelaki nekat itu. “Aku akan melakukan pemantauan pada Rio, Arial dan Bima.” Ucapan Yahmar tersebut sukses membuat Gantara terkejut. Astri dan Jina yang tidak terlalu paham dengan hal itu hanya menatap keduanya dalam diam. “Kau tidak bisa melakukan itu, Yahmar.” Ucap Gantara mengingatkan pada ketua Putusan W.A.E devisi Assignor section itu, jika dia tidak bisa dengan santainya melakukan pemantauan pada Rio, Arial dan Bima. Karena ada peraturan yang mengatakan bahwa para anggota W.A.E tidak di perizinkan untuk memantau begitu saja kegiatan yang ada dalam pemerintahan, karena hal tersebut dapat membukakan celah bagi pemernitah menemukan keberadaan mereka semua. “Kenapa?” Tanya Jina yang heran dengan ucapan Gantara, mengapa Yahmar tidak bisa melakukan pemantauan pada ketiga temannya. Gantara melirik pada Jina yang menatapnya, ia hendak membuka mulutnya tetapi Yahmar sudah terlebih dahulu menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Membuat kedua wanita di hadapan mereka itu semakin kebingungan. Yahmar menatap pada Gantara dan menggerakkan alisnya, memberikan isyarat bahwa dia harus berpura-pura menyutujui hal tersebut. Gantara mengedipkan matanya berulang kali, menyetujui hal tersebut.  To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN