“Kssskk… Gantara, masuk?” Talkie box milik Gantara berbunyi saat ia masih memeluk Astri di tengah lapangan parkir.
Gantara segera mengambil talkie box nya tanpa melepaskan Astri yang masih menangis. Ia melihat pada layar yang memperlihatkan bahwa Yahamar ada di balik sambungan tersebut, ia menjawabnya dengan tidak tergesa-gesa.
“Gantara terhubung, Ada apa Yahmar?” Astri yang mendengar bahwa Gantara sedang mendapatkan sambungan dari Yahmar, segera menghentikan tangisannya, melepaskan pelukannya pada Gantara dan menatap pada lelaki itu.
“Kssskk… Keruanganku sekarang, bersama dengan Astri. Kita akan membicarakan masalah ini dengan Jina.” Gantara menatap pada Astri ketika mendengar perintah dari Gantara tersebut. Entah apa yang akan mereka bahas di ruangan Yahmar nantinya, yang terpenting saat ini, mereka harus segera pergi kesana.
“Baik.” Gantara berucap dan memutuskan sambungan tersebut, kemudian ia berdiri dari duduknya. Melirik pada Astri yang ikut berdiri dengan pelan, dan merangkulnya untuk kembali masuk ke dalam kantor devisi W.A.E.
“Gantara.” Astri memanggil lelaki itu dengan pelan, membuatnya melirik sebentar pada Astri yang tidak menatapnya.
“Ya?” Tanyanya, Astri menunduk di tengah langkah mereka menuju ruang Yahmar. Ia terdiam sejenak untuk memikirkan bagaimana caranya berterima kasih pada sang atasan yang telah membantunya untuk tenang dan memeluknya di saat ia menangis tadi.
“Terima Kasih.” Itulah ucapan yang didengar oleh Gantara dari Astri, lelaki itu mengangguk dan tersenyum pada wanita disampingnya tersebut. Ia tahu bahwa saat ini, Astri sedang merasakan rasa malu ketika mengatakan hal tersebut yang dapat ia lihat dari rona di pipi wanita itu.
“Tidak masalah Astri, ingatlah… Aku adalah temanmu, dan kau bisa berbagi semua hal padaku. Aku bukan hanya atasanmu, oke?” Astri menatap Gantara yang hanya melihat ke arah depan, tidak menatapnya saat mengucapkan hal tersebut.
Akhirnya Astri kembali menatap ke arah lantai dengan tersenyum dan mengangguk, mengiyakan ucapan yang baru saja Gantara ucapkan padanya.
Rio, Arial dan Bima yang sudah berada di atas Carflying o.7 menyusun sebuah rencana yang akan mereka siapkan untuk kembali mengambil Luis. Kota Mehali adalah kota di mana sinyal pelacak Luis berada, kota yang dikenal dengan pusat perdagangan tersebut adalah kota yang memiliki ribuan perusahaan terdaftar di dalamnya.
“Aku tidak menyangka jika kita akan terjun ke kota ini.” Ucap Rio yang kini sedang mengganti baju pasien nya dengan sepasang celana model jeans dan kaos hitam. Dia mengenakan jaket hitam dan topi yang juga berwarna hitam. Arial menatapinya dengan satu alis yang terangkat, kemudian ia menggelengkan kepalanya seraya terkekeh.
“Apa?” Tanya Rio yang kebingungan dengan Arial, Bima hanya terseyum di kursi belakang. Dia juga sedang mengganti baju pasien yang ia kenakan dengan sebuah kaos berwarna merah dan celana hitam.
“Kau mengenakan pakaian yang sangat… Mencurigakan Rio, bagaimana bisa kita berjalan di sana dengan pakaianmu yang seperti itu? Hahaha…” Arial tertawa di sela-sela penjelasannya, namun Rio tidak terlalu menganggapnya karena ia tahu bahwa Arial hanya bercanda.
“Ayolah. Aku merindukan gaya pakaian yang seperti ini, Arial. Selama aku bertugas di Speech devision, kami harus terus menggunakan pakaian yang terang.” Arial mengangguk-anggukan kepalanya mendengar ucapan Rio yang terkesan merengek itu. Ia mengerti jika sahabatnya itu merindukan gaya pakaian hitam tersebut, karena peraturan W.A.E yang sangat ketat. Mereka melarang seluruh anggota speech devision menggunakan pakaian gelap, alasannya karena pakaian yang terang melambangkan masa depan yang cerah.
“Hahaha, benarkah itu?” Bima bertanya pada keduanya ketika mendengar bahwa Rio tidak di perbolehkan untuk menggunakan pakaian gelap. Rio berbalik menghadap padanya dan mengangguk dengan raut yang sedikit kesal.
“Aku juga tidak mengerti mengapa ada peraturan seperti itu.” Bima terlihat menahan tawanya, kemudian membenarkan penyanggah kaki yang akan membantunya untuk berjalan nanti.
“Kalau begitu, aku mengurungkan niatku untuk menjadi anggota Speech devision.” Seketika Bima mendapatkan tatapan tajam dari sahabatnya tersebut, yang akhirnya membuatnya tidak bisa lagi menahan tawa dan tertawa dengan keras.
“Kita sudah tidak berada di sana lagi, Bima.” Ucapan santai Arial membuat Bima mengangguk-angguk paham. Kemudian ia menghela nafasnya, dan bertanya pada dua lelaki di hadapannya ini.
“Sangat banyak yang telah kulewatkan, maafkan aku tidak berada di sisi kalian saat itu.” Arial dan Rio terdiam saat Bima berucap seperti itu, ini bukan salahnya. Mengapa ia harus meminta maaf seolah-olah apa yang terjadi pada mereka adalah hal yang buruk.
“Tidak Bima… Kami berterima kasih padamu yang sangat berani saat itu.” Arial tidak mengiyakan dan menolak, ia tidak setuju dengan ucapan Bima. Karena semua hal yang mereka lalui saat ini, sangat menguntungkan untuk bumi dan tujuan mereka.
“Tapi… Jika boleh ku tahu, Bima. Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah saat itu kau membawa sebuah bom dan… Ada satu orang yang di laporkan meninggal di lokasi kejadian. Dan itu adalah pelaku, yang berarti itu adalah dirimu.” Rio menatap pada Bima, dirinya benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi saat itu. Apakah Bima dihidupkan kembali oleh pemerintah? Tidak mungkin, sangat mustahil jika pemerintah dapat melakukan hal tersebut. Belum lagi penyebab Bima meninggal adalah sebuah Bom yang akan membuat tubuh Bima hancur. Tetapi saat ini di hadapannya dan Arial, Bima duduk dengan badan yang masih utuh, hanya ada luka besar di bagian dadanya dan luka bekas operasi yang masih segar di kakinya.
“Sebenarnya, saat itu…”
Bima berdiri dengan seluruh tenaganya, ia kembali mengalihkan pandangannya kearah depan ketika sudah memastikan bahwa Rio telah meninggalkannya. Ia melirik ke arah tangan kanannya, melihat pada tabung merah dengan garis dan sebuah timer yang telah ia setting sebelumnya. Timer tersebut terus menghitung mundur, Bima dengan perlahan mamasukan tabung merah tersebut ke dalam saku jaket miliknya.
Bima menghela nafas dengan pelan dan mengambil electric gun di hadapannya.
“Jangan bergerak!” Seorang dari pihak keamanan berteriak padanya. Bima mengadah kedepan, menatap seluruh pihak keamanan yang sudah menodongkan senjata mereka padanya.
“Seharusnya kalian sadar, bahwa aku bukanlah lawan kalian! Tapi… Jika keadaan sudah seperti ini, maka tidak ada gunanya kami kembali!” Bima dengan cepat mengatur volt electric gun yang ada di tangannya, dan menembak seorang pihak keamanan dengan volt tersebut. Membuat pihak keamanan itu seketika terjatuh dan pingsan.
“Tembak!” Bima memejamkan matanya dengan sangat erat, ia pasrah jika harus mati saat itu juga. Satu, Dua, Tiga, Empat, tembakkan ia rasakan mengenai tubuhnya.
“Tahan tembakan kalian!” Sebuah suara berat berteriak, membuat seluruh pihak keamanan menahan tembakan mereka, dan Bima membuka matanya dengan pelan. Ia merasa tidak asing dengan suara ini.
Seseorang muncul dari balik kerumunan pihak keamanan, lelaki tua dengan uban yang tidak terlalu banyak di rambutnya itu menatap pada Bima.
“Dia teman anakku, dan anakku bersamanya.” Bima terkejut saat ia menyadari bahwa lelaki tua itu adalah Ayah dari Jina. Dengan darah yang masih mengalir, kesadaran Bima mulai berkurang. Ia terjatuh berlutut ke atas lantai, Lelaki itu segera menghampirinya dan memegang bahu Bima.
“Dimana Jina? Kumohon bawalah dia pulang Bima… Aku tahu kau anak yang baik, kumohon jangan lakukan ini.” Lelaki itu berucap pelan pada Bima, dan Bima mendengarnya dengan sangat jelas, tetapi dia tidak bisa berbicara lebih banyak. Bom yang ada di sakunya akan meledak dalam beberapa detik lagi.
“Tidak! Paman pergilah!” Bima berusaha mendorong Ayah Jina agar tidak mendekatinya yang mempunyai bom dalam sakunya. Namun Ayah Jina yang tidak mengerti, Justru semakin mendekat dan kini memegang kedua lengan Bima. Bima yang sudah kehilangan tenaganya hanya dapat melihat ekspresi Ayah Jina yang terkejut ketika menyadari dalam saku anak itu terdapat sebuah tabung. Ayah Jina segera mengambil tabung tersebut dan melihat hitungan detik sudah menunjukkan angka satu. Ia berbalik memunggungi Bima dan memeluk tabung tersebut.
“Tidak Paman!” Bima berteriak, berusaha merebut tabung itu dari tangan Ayah Jina.
To be continued