“Rio!” Suara dokter Samuel yang menggema di sepanjang lorong, sukses membuat mereka berhenti. Rio menatap kearah dokter Samuel yang berjalan tergesa-gesa menghampirinya.
“Aku tetap akan pergi, Samuel. Kuharap kau tidak akan menahanku karena aku tidak akan mendengarkan apapun ucapanmu.” Sebelum Samuel berbicara, Rio sudah terlebih dahulu memberikan sebuah peringatan bahwa dia tidak akan mendengarkan perkataan Samuel untuk tetap di dalam organisasi. Tetapi Samuel menggelengkan kepalanya dan memberikan sebuah talkie box pada Rio. Membuat lelaki itu menatapnya kebingungan.
“Aku tidak akan menahanmu, Rio. Tetapi tetaplah hubungi aku dan laporkan keadaan kalian, aku akan membantu jika kalian berada dalam keadaan mendesak.” Samuel tersenyum pada ketiganya dan memberikan sebuah tas kecil pada Bima. Tas itu berisikan circumsisi set yang lengkap, dengan beberapa jenis botol obat juga jarum dan perban.
“Itu adalah strandar keselamatan yang harus kalian miliki, aku akan mengirimkan lebih banyak jika kalian membutuhkannya.” Dokter Samuel kembali berucap, ia mengulurkan tangannya pada Rio dan menatap lelaki itu dengan wajah serius.
Rio menyambut tangan tersebut dan memeluk dokter sekaligus teman dekatnya di antara ketua devisi lain. “Terima kasih!” Rio mengucapkan hal tersebut, karena Doker Samuel adalah orang pertama yang mendukung keputusan mereka.
“Berhati-hatilah! Bawa Luis kembali jika kalian sudah berhasil menyelamatkannya” Rio mengangguk, mengiyakan ucapan Dokter Samuel padanya. Arial melangkah dan menjabat tangan dokter tersebut, begitupun dengan Bima yang ada di atas kursi roda.
“Aku juga sudah menyiapkan obatmu di dalam sana, Bima. Minumlah sesuai dengan aturan yang kutulis!” Bima mengangguk paham ketika Dokter Samuel mengingatkannya. Ketiganya kembali berjalan menuju parking area dimana mobil yang akan mereka gunakan tersedia disana.
“Astri!” Gantara datang kedalam ruang devisi hijau, dan menemui Astri yang sedang sibuk meneliti tanah yang akan mereka beli. Astri berbalik menghadap pada Gantara ketika kursinya diputar begitu saja.
“Ada apa?” Astri menatap raut wajah Gantara yang terlihat khawatir. Gantar tidak menjelaskannya di ruang yang penuh dengan anggota devisi hijau tersebut. Dia menarik tangan Astri untuk menjauh dan duduk di tempat yang tidak ada satupun orang di sekitarnya.
“Dengarkan aku, Astri. Ini mengenai Arial dan Rio, mereka…”
Astri terdiam dengan wajah yang shock ketika Gantara menjelaskan semua hal yang terjadi padanya. Lelaki itu belum selesai dengan penjelasannya, namun Astri sudah terlebih dahulu berlari keluar ruang devisi hijau, menuju parking area. Tempat dimana ia meyakini bahwa ketiga temannya sudah berada disana.
“Astri!” Gantara mengejarnya, karena ia juga harus mencegah jika-jika wanita itu justru mengikuti langkah kedua lelaki yang memilih untuk pergi dari W.A.E.
Astri terus berlari dengan kencang, melewati lorong-lorong devisi tanpa melihat kearah kanan dan kiri. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah, ia harus cepat sampai di parking area dan mencegah ketiga temannya untuk pergi.
Sampai di mana ada sebuah pintu yang mengharuskan para anggota menunjukkan kartu akses mereka, namun Astri tidak berhenti dan terus berlari. Pintu itu hanya setinggi satu meter, dan Astri melompatinya dengan begitu saja, membuat beberapa keamanan W.A.E terkejut dan hendak mengejarnya jika saja Gantara tidak mengkonfirmasi pada keamanan W.A.E bahwa ini adalah hal penting dan waktunya sangat mendesak.
“Rio!!” Astri berteriak ketika ia melihat Rio masuk kedalam sebuah Carflying o.7, lelaki itu tidak mendengar teriakan Astri yang jauh di belakangnya.
Astri melihat pintu Carflying o.7 tersebut menutup dan mesinnya mulai menyala, Astri kembali berteriak dengan sangat kencang, sekencang yang ia bisa sampai tenggorokannya terasa sakit.
Namun semua itu sia-sia, Carflying o.7 yang di kendarai ketiga teman mereka mulai naik ke atas udara dan berangkat, menghembuskan angin yang kencang yang tepat mengenai Astri yang baru sampai di tempat dimana mobil itu terparkir sebelumnya.
Astri terjatuh dan menangis, menyadari dirinya terlambat mencegah ketiganya. Bahkan ia tidak melihat wajah mereka untuk terakhir kalinya, karena ia takut jika mereka tidak akan pernah bertemu kembali.
Gantara yang baru memasuki wilayah parking area, dan melihat posisi Astri, – yang duduk di atas tanah seraya menangis – segera menghampiri wanita itu. Ia memegang berjongkok, memegang kedua bahu Astri dan memeluknya.
“Aku terlambat! Mereka tidak boleh pergi begitu saja, Gantara… Bawa mereka kembali! Bawa mereka kembali!” Astri berteriak-teriak pada Gantara, sang ketua penggerak W.A.E devisi hijau.
Zrak! Yahmar datang dengan tergesa-gesa ke kamar Rio, sebelumnya ia hendak mencegah lelaki itu untuk tidak pergi. Namun ia lebih memilih agar Jina yang melakukannya, ia yakin ketiga lelaki itu akan menurut dan mempertimbangkan apa yang wanita itu pinta pada mereka. Apalagi jika Bima adalah kekasih Jina, ia tidak mungkin akan meninggalkan wanita itu sendirian disini.
Tetapi saat ia mendengar pembicaraan mereka melalui cctv yang ia pasang, dan memantaunya di dalam ruang kerja miliknya. Ia terkejut ketika apa yang ia lihat dan dengar melalui cctv, berbeda dengan yang ia duga dan perhitungkan.
Kedua matanya melebar saat ia mendengar permintaan Jina pada ketiga lelaki itu, untuk membawanya pergi bersama mereka. Dan di saat itu pula Yahmar berlari dengan terburu-buru menuju kamar Rio. Ia harus mencegah ini agar tidak terjadi, ia tidak boleh membiarkan Jina ikut bersama mereka. Tidak apa jika ketiga lelaki itu menginginkan pergi, tetapi ia tidak bisa membiarkan Jina pergi. Wanita itu harus tetap aman di bawah naungan W.A.E.
Dan kini, Yahmar yang terengah-engah di depan kamar Rio. Melihat Jina tengah terduduk di lantai dan menangis hingga terisak-isak. Yahmar menghela nafasnya berulang kali, dan berjalan mendekati Jina dengan perlahan. “Jina…” Yahmar berlutut dan mengusap bahu wanita itu, membuat kedua mata Jina yang merah dan membengkak itu menatap matanya.
“Yahmar… Aku gagal membuat mereka bertahan disini! Yahmar… Aku gagal.” Yahmar berusaha menghentikan tangisan wanita itu, ia merasa bersalah telah memerintahkannya menghalagi ketiga lelaki tersebut.
“Sshhh… Jina, aku akan melakukan apapun untuk membantu mereka.” Yahmar mengucapkan janjinya begitu saja, tanpa memikirkan semua resiko yang akan ia terima nantinya. Tentu saja setiap keputusannya memiliki resiko, tetapi janji yang baru saja ia ucapkan adalah sebuah janji yang bisa saja membuatnya terhukum.
“Aku ingin ikut dengan mereka!” Yahmar menggelengkan kepalanya ketika mendengar permintaan tersebut, ia memegang kedua pipi Jina dan menyuruh wanita itu untuk menatap padanya.
“Apapun akan aku lakukan, tapi kumohon tetaplah disini… Ini semua demi kebaikanmu, Jina. Situasi di luar sana sangat berbahaya. Bantulah mereka dari sini, dan itu akan lebih berguna dari pada kau mengikuti mereka.” Jina terdiam mendengar ucapan Yahmar yang benar adanya. Jika ia ingin membantu Arial, Rio dan Bima… Ia bisa membantunya dari kantor W.A.E.
Jina menganggukkan kepalanya berulang kali, masih dengan mata yang mengeluarkan air, ia menatap pada Yahmar, lelaki yang selalu mengatakan bahwa ia akan membantunya.
Kedua jempol Yahmar perlahan mengusap air mata Jina di pipinya, ia tersenyum dengan lembut pada wanita itu. Kemudian Yahmar bangkit dari posisi berlututnya, menjulurkan tangan kanannya untuk wanita itu.
“Kita akan bicarakan ini dengan Astri dan Gantara.” Yahmar berucap, Jina kembali mengangguk dan meraih tangan yang membantunya berdiri itu. Keduanya berjalan keluar ruangan Rio, menuju ruang putusan W.A.E Assignor section.
To be continued