Bab 44

1018 Kata
Masih dengan selang infus di tangannya yang ia gantungkan bersama infus milik Bima, Rio mendorong kursi roda itu dan membawa Bima menuju kamarnya yang ada di wilayah kantor speech devision. “Rio.” Bima memanggilnya, membuat lelaki itu menjawab dengan singkat tanpa menghentikan langkah cepatnya yang goyah dan terkadang limbung. Hal itu juga sebenarnya membuat Bima sedikit khawatir, bagaimana jadinya jika Rio tiba-tiba pingsa ketika mendorong kursi roda miliknya. “Hm…” Itulah jawaban yang Bima dengar dari mulut temannya tersebut. “Apa kau yakin dengan ini?” Suara Bima serak ketika menanyakan hal tersebut. Langkah Rio memelan ketika mereka sampai di depan kamar milik Rio. Ketika pintu terbuka, Rio segera mendorong kursi roda itu masuk dan berjalan kearah lemari pakaian miliknya. “Kita sudah pernah melakukan hal ini tanpa mereka, Bima. Apa yang kau takutkan?” Rio mengambil sebuah tas, memasukan beberapa barang penting dan mengambil satu buah tas lagi, untuk ia isi dengan senjata juga tabung-tabung merah miliknya. Bima terkekeh pelan ketika ia melihat tabung-tabung tersebut. “Kau masih menggunakan alat itu?” Pertanyaan Bima membuat Rio menghentikan kegiatannya, dan menatap lelaki itu dengan tatapan jengah. “Ini masih cukup berguna.” Mereka tertawa ketika sebuah ketukan tiba-tiba mengetuk pintu kamar Rio. Mereka berdua terdiam, dan saling bertatapan untuk beberapa saat. Sampai ketika pintu kembali terketuk, Rio segera berjalan dan membukanya. “Jina?” “Rio! Apa yang kau katakan? Kenapa…” Jina terdiam ketika ia melihat Bima yang duduk di atas kursi rodanya, menatap padanya dengan wajah yang terkejut. “Jina?” Sama seperti Rio sebelumnya, Bima hanya memanggil namanya tanpa mengatakan apapun lagi. Jina tidak menjawab apapun, ia lebih memilih untuk masuk kedalam kamar Rio dan memeluk Bima dengan erat sehingga lelaki itu mengaduh kesakitan, atau lebih tepatnya mengerang sesak. “Jina, Bima baru selesai menjalankan operasinya.” Mendengar hal tersebut, Jina segera melepaskan pelukannya dan menyampaikan permintaan maaf. “Maaf!” Bima tersenyum dan mengelus rambut Jina dengan pelan, menatapi wajah temannya yang semakin cantik itu. “Tidak apa Jina… Aku baik-baik saja.” Jina tersenyum mendengar hal tersebut, matanya berkaca-kaca karena bahagia. Rio tidak terganggu sama sekali dengan kehadiran Jina di dalam kamarnya, tetapi satu pertanyaan yang mengganggu pikirannya adalah, mengapa Jina datang menemuinya dan pertanyaan apa yang akan Jina tanyakan padanya tadi. “Apa yang membawamu kemari, Jina?” Rio menatap pada wanita yang berbalik menatapnya saat ini. Sebelum Jina membuka mulutnya, kedatangan Arial di depan kamar Rio membuat mereka bertiga menatapnya. “Rio!” Arial memanggil Rio, dan terkejut ketika melihat Jina juga Bima yang ada di dalam kamar itu. “Apa yang sebenarnya akan kalian lakukan?” Jina berdiri dari posisi berlututnya dan menghadap pada Rio juga Arial. Arial menatap wanita itu, memegang kedua bahunya seraya berucap padanya untuk tenang. “Jina… Tunggulah disini, kami akan menyelamatkan Luis. Kau dan Astri tidak perlu ikut bersama kami.” Jina menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Arial, ia menepis tangan Arial yang berada di pundaknya. “Dengan melanggar aturan W.A.E? Tidak! Aku tidak akan membiarkan kalian berdua melakukannya.” Jina menolak keras keputusan Arial dan Rio, ia tidak ingin kedua temannya tersebut terjun ke dalam bahaya sedangkan mereka tidak berada dalam perlindungan W.A.E. “Sebenarnya kami bertiga.” Jina menatap terkejut pada Bima yang baru saja berucap padanya. “Apa?” Tanyanya lagi, sekaan ia merasa bahwa dirinya salah mendengar. Rio tidak ikut kedalam pembicaraan tersebut dan melanjutkan untuk mengemasi barangnya, karena menurutnya waktu adalah hal yang paling penting. “Aku akan ikut bersama mereka, Jina.” Bima menjelaskan pada Jina bahwa dirinya akan ikut bersama dengan Arial dan Rio untuk keluar dari organisasi ini. Jina terdiam, ia menggelengkan kepalanya berulang kali. “Oh hell No! Kau tidak bisa melakukan itu, Bima… Kau tidak boleh pergi lagi!” Jina menolak keras keputusan itu, dia tidak bisa membiarkan Bima kembali pergi setelah ia baru saja bertemu dengannya. Jina tidak bisa membiarkannya pergi, apalagi dengan kondisi seperti itu. “Jina, Luis membutuhkan kita…” Rio yang sudah selesai mengemasi barangnya, menggendong tas tersebut dan memberikan satu tasnya lagi pada Bima. Ia menatap Jina ketika ia mengatakan hal tersebut, Jina menghela nafanya untuk menenangkan dirinya menghadapi ketiga lelaki itu. “Yahmar sudah menyiapkan tim terbaik untuk membantunya, mereka sedang bersiap dan…” “Tapi dia tidak akan memasukanku kedalam tim itu!” Arial memotong ucapan Jina, saat ia mendengar Yahmar telah menyiapkan sebuah tim untuk menyelamatkan Luis. Jina berbalik menatap padanya dan melangkah mendekati Arial. “Dia akan! Dia telah memasukanmu! Aku menjamin itu, Arial.” Nada bicara Jina memelan, ia meyakinkan pada Arial bahwa Yahmar telah memasukan dia kedalam tim penyelamatan itu. Mendengar hal tersebut membuat Arial mengalihkan pandangannya pada Bima dan Rio yang berdiri di belakang Jina. “Tetapi aku dan Rio juga ingin menolongnya, Jina.” Bima kembali membuka suaranya, ia berucap dengan tegas. Sebuah nada dan suara yang sudah lama tidak mereka dengar itu, membuat mereka terdiam beberapa saat. Jina kembali berbalik, kali ini untuk menatap pada Bima yang sudah memasang wajah serius. “Tidak… Kumohon jangan lakukan ini!” Jina memelas ketika ia tidak tahu lagi bagaimana cara untuk mencegah ketiga sahabatnya itu agar tidak pergi meninggalkan W.A.E, organisasi besar ini. Rio mendorong kursi roda milik Bima, memberikannya pada Arial agar lelaki itu yang membawanya. “Maafkan aku, kami berjanji kami akan kembali untuk menemuimu dan Astri. Tinggalah disini karena kalian aman bersama W.A.E.” Rio terdiam ketika ia berada tepat di hadapan Jina, ia mencoba memberikan Jina pemahaman agar wanita itu menerima keputusan mereka. Namun Jina menggelengkan kepalanya, ia menolak apapun penjelasan dan janji yang di berikan oleh ketiganya. “Bawa aku bersama kalian!” Jina memegang kedua tangan Rio, ia memohon pada lelaki itu untuk membawanya pergi bersama mereka. Tetapi sepertinya ketiga lelaki itu mempunyai keputusan dan pemikiran yang sama, mereka tidak membiarkan Jina dan Astri ikut karena ini sangat beresiko. Rio perlahan melepaskan tangan Jina dari kedua tangannya, seraya menggelengkan kepalanya pelan. “Maafkan aku.” Rio berbisik ketika kedua tangan mereka terlepas. Jina menatap pada Arial, memohon agar lelaki itu mengizinkannya. Tetapi sekali lagi, mereka telah memiliki keputusan yang sama. “Tidak!” Arial menolak nya dengan sangat keras. “Kumohon… ” Jina menangis menatap ketiga lelaki itu, ia merasa bahwa kini dirinya berada di ujung jurang tidak bertepi, melihat pada tiga orang di hadapannya yang bersiap jatuh kedalam sana dan memohon agar mereka mengajaknya jatuh bersama. “Maafkan kami!” Ucapan Bima menjadi akhir perbincangan mereka. Rio, Arial dan Bima meninggalkan Jina yang terduduk lemas di lantai seraya menangis terisak.  To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN