Rio hanya terdiam menatap pada Arial yang terlihat stress di kursi miliknya, kedua tangan lelaki itu terlihat saling meremas jari-jari mereka dan ia menundukkan kepalanya. Rio tidak yakin apa hal yang membuat Arial menjadi sesetress itu, tetapi tidak adanya Luis di pesawat penjemput itu membuat Rio sadar. Mungkin saja Luis adalah alasan mengapa Arial bersikap seperti tadi.
“Rio.” Rio menoleh pada Bima yang duduk di sampingnya. Meskipun ia tidak terbiasa dengan keadaan sekarang, namun ia tetap bersyukur mengetahui bahwa Bima masih hidup.
“Ya?” Jawab Rio pada temannya tersebut. Bima terlihat kebingungan melihat orang-orang yang ada di dalam pesawat tersebut. Sebagian dari mereka terus mencuri pandang untuk menatapnya, meskipun sebagian lagi terlihat tidak peduli.
“Siapa mereka?” Pertanyaan itu yang keluar dari mulut Bima, Rio tahu bahwa Bima pasti kebingungan dengan kondisi saat ini. Tetapi ia rasa ini bukanlah waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya pada Bima, dan ia memilih untuk menceritakannya nanti.
“Aku akan menceritakannya nanti, sekarang lebih baik kau beristirahat. Bim… Bima.” Bima terkekeh ketika mendengar Rio yang gagap menyebutkan namanya.
“Kurasa kau belum kembali terbiasa melihatku kan? Kalian semua pasti mengira aku telah meninggal saat itu.” Rio mengangguk tanpa berucap ketika Bima mengatakan hal tersebut. Pasti ada rasa canggung dan tidak percaya ketika melihat kerabat yang telah lama di anggap meninggal, namun tiba-tiba ia berdiri di hadapanmu sebagai manusia yang hidup. Dan itulah yang kini Rio rasakan saat ia berbicara pada Bima. Meskipun Bima adalah sahabatnya, teman yang paling dekat dengannya. Tetapi saat ini rasanya berbeda, dia seperti berbicara pada orang asing yang sebenarnya ia kenal.
“Maaf… Aku meninggalkanmu saat itu.” Rio menundukkan wajahnya, ketika ia mengingat saat dimana ia meninggalkan Bima seorang diri menghadapi pihak keamanan pemerintah. Saat itu, dia meninggalkan Bima bukan semata-mata karena permintaan Bima saja. Tetapi… Ada rasa takut dalam diri Rio yang mendorongnya untuk mengiyakan dan menuruti permintaan Bima yang sebenarnya bisa ia tolak tersebut.
Bima melirik ke arah Rio yang tertunduk itu, dan menepuk bahunya dengan pelan.
“Hei… Aku yang menyuruhmu untuk berlari, ingat? Jangan salahkan dirimu, aku masih disini. Aku masih hidup. Dan jika pun benar aku mati, itu adalah pilihan ku saat itu.” Bima menenangkan Rio, dan mengatakan bahwa hal itu bukan salahnya. Itu adalah pilihan Bima, dan ia tidak pernah menyalahkan Rio yang meninggalkannya.
Rio tetap terdiam, dia tidak membalas sepatah katapun ucapan dari Bima. Yang kemudian membuat Bima kembali berucap. “Seharusnya aku yang meminta maaf padamu, Rio. Karena membuatmu hidup dengan rasa bersalah selama ini.” Mendengar ucapan maaf tersebut, Rio dengan cepat mengangkat kepalanya. Menatap pada Bima yang tersenyum lebar dihadapannya. Rio menggelengkan kepalanya, ia juga tidak menyalahkan Bima atas rasa penyesalan yang ia rasakan selama 4 tahun ini.
“Kalau begitu kita impas!” Ucap Bima yang bersandar pada kursi duduknya, Rio terkekeh mendengar kata ‘Impas’ tersebut.
Pintu kamar istirahat terketuk untuk beberapa kali, Astri dan Jina yang memang tidak tertidur segera membuka pintu tersebut.
“Pesawat penjemput akan tiba dalam beberapa menit, kurasa kalian ingin menunggu mereka di parking area.” Yahmar yang berdiri di balik pintu itu, segera menjelaskan begitu pintu terbuka. Astri mengangguk, tentu saja ia ingin berada di sana saat ini. Sementara Jina hanya terdiam mengikuti langkah keduanya yang berjalan ke arah parking area.
Sebuah tangan menyodorkan jaket hitam tebal pada Jina, membuat wanita itu menatap pada sampingnya. Yahmar yang memberikannya, ia tidak tega melihat Jina yang terus menggunakan jas miliknya yang tidak membantu untuk menghangatkan tubuhnya sama sekali. Sementara udara di parking area pasti sangat dingin. Mengingat hari sudah masuk ke waktu fajar.
“Aku akan tetap menggunakan ini, Yahmar.” Jina menolak jaket tersebut, dan mengeratkan jas yang ia gunakan. Yahmar terdengar mendengus pelan sebelum akhirnya memakaikan jaket tersebut pada Jina tanpa ia minta.
“Kumohon, jagalah kesehatanmu untuk teman-temanmu.” Ucapan Yahmar tersebut, sukses membuat Jina yang hendak protes, terdiam. Wanita itu akhirnya membiarkan jaket hitam tebal tadi berada di tubuhnya, ketika mereka menunggu kedatangan pesawat penjemput.
Astri yang melihat ambulan dan petugas kesehatan dengan jumlah yang banyak di sana, melirik pada Gantara yang berdiri di samping kanannya. Dengan wajah yang khawatir, Astri bertannya.
“Apakah mereka baik-baik saja?” Gantara yang mendapat pertanyaan tersebut, menatap pada wanita itu dan melihat pada tim medis yang sudah bersiaga jauh di depan sana.
“Aku tidak tahu, Astri. Mereka hanya mempersiapkan untuk kemungkinan terburuk saja.” Jawaban Gantara sama sekali tidak membantu Astri untuk merasa tenang, ia justru membuat wanita di sampingnya itu semakin khawatir.
Pesawat penjemput telah tiba di sana, Jina dan Astri serta seluruh ketua Devisi belum dapat mendekat karena tim keamanan dan tim medis yang bersiap disana di perintahkan untuk masuk kedalam pesawat itu terlebih dahulu. Mengecek, keadaan para anggota tim apakah pesawat itu terbebas dari pihak militer dan dari kemungkinan-kemungkinan buruk lainnya. Hal ini tidak seperti biasanya, Jina menyadari bahwa para ketua Devisi yang sedang bersamanya itu mengantongi hand gun di tangan mereka.
Ketika salah seorang anggota dari tim keamanan keluar dari pesawat itu dan berteriak. “Clear!” Ketika itu juga para medis segera masuk kedalam sana. Gantara membuka pembatas yang membatasi mereka dengan parking area, pertanda mereka boleh mendekati pesawat.
Jina dan Astri tidak melihat Arial maupun Rio berada di salah satu brankar yang keluar dari dalam sana. Namun di saat terakhir, mereka berdua melihat Arial berjalan keluar bersama dua brankar dibelakangya. Rio berada di salah satu brankar itu dengan selang infus dan oksigen yang terpasang. Sementara satu brankar lagi, memperlihatkan seseorang yang keadaannya sangat kacau, para dokter segera mempercepat langkah mereka untuk mendorong brankar itu masuk kedalam ambulance.
“Siapa itu?” Jina menyipit ketika melihat lelaki yang di bawa para dokter itu terasa tidak asing baginya. Astri yang memang tidak terlalu memperhatikan orang lain selain temannya hanya menggelengkan kepala dan berlari untuk memeluk Arial.
“A…”
“Kita bahas ini nanti. Yahmar, ada hal yang ingin ku laporkan.” Begitu Arial melepaskan pelukannya pada Astri, dia segera menghentikan Astri yang baru saja akan membuka suaranya. Dan memilih untuk menghadap pada Yahmar yang ada di belakang sana. Yahmar mengangguk dan menatap pada Astri yang terdiam atas ucapan Arial barusan.
“Kita akan membicarakan ini bersama-sama, dengan seluruh anggota tim. Dan juga bersama dengan seluruh ketua devisi.” Arial menyetujuinya dan berjalan ke arah seluruh anggota tim yang berangkat bersamanya kemarin malam.
Yahmar berbalik, menatap Jina yang masih terdiam dan bungkam. Ia menepuk bahu Jina dan memintanya untuk berganti pakaian.
“Gantilah pakaianmu dan datang ke kantor pusat bersama dengan Astri. Kalian juga harus ada disana.” Jina mengangguk, dan mengiyakan perintah Yahmar tersebut. Ia mengajak Astri untuk bersiap dan merapihkan diri mereka yang terlihat sudah sangat tidak karuan.
“Gantara!” Yahmar memanggil lelaki yang ini tengah berbincang bersama beberapa orang dari tim penjemput itu, Gantara meliriknya dan menyudahi perbincangan mereka. Kemudian menghampiri Yahmar.
“Katakan pada Sam, bahwa kita akan membahas permasalahan ini sesegera mungkin. Sekitar setengah jam dari saat ini!” Gantara mengangguk dan segera pergi menemui Sam yang sibuk di devisi kesehatan untuk menangani mereka yang baru saja datang dengan kondisi terluka.
To be continued