Jonathan terkejut ketika dengan tiba-tiba, ia menerima seluruh data mengenai misi Badian dan Tameer dari Daniel, dan ketika ia mencoba menghubungi Daniel, sinyal itu lenyap dari layar milik Jonathan. Ia melirik pada Arial yang berada di sampingnya, yang juga melihat ke arah layar virtualnnya. ‘Kemana perginya Daniel dan pesawat evakuasi milik mereka? Apa yang mereka lakukan sehingga sambungan tersebut terputus?’ itulah hal yang ada di benak Jonathan saat ini.
“Peluru peledak.” Seakan mengerti tatapan Jonathan padanya, Arial menjawab apa yang seharusnya ia jelaskan sebelum hal itu terjadi.
“Peluru peledak? Bukankah itu sangat beresiko untuk mereka yang hanya menggunakan pesawat evakuasi biasa dengan mesin turbo hipersonik. Apa yang kau pikirkan Arial? Kau bisa membuat mereka terbunuh!” Bukan Jonathan yang menegur Arial, melainkan Luis yang duduk jauh disana. Ia dapat membaca dengan jelas mulut Arial yang berucap ‘peluru peledak’.
Arial beserta seluruh anggotanya menatap pada Luis yang terlihat marah, ia memaksakan dirinya untuk bangkit dari tempat itu, berjalan menghampiri Arial dengan sempoyongan. Arial segera menghampiri Luis ketika lelaki itu terjatuh keatas tanah, begitu pun dengan seluruh anggota yang segera menghampiri ketua tim mereka tersebut.
“Apa yang kau rencanakan Arial?!” Luis menggeram, menatap tajam pada Arial yang memegangi bahunya, seluruh anggota lain terdiam melihat kedua orang yang menjadi pelopor lahirnya W.A.E dan sudah berteman lama tersebut bertengkar dihadapan mereka.
“Aku sudah membicarakan ini dengan Brian dan Kahar, dan mereka menyanggupinya.” Arial menjelaskan hal itu pada Luis.
“Tanpa sepengetahuanku?!” Nada bicara Luis meninggi, ia kecewa dengan keputusan Arial yang sangat membahayakan ini, hingga membuat sambungan mereka terputus dengan pesawat evakuasi. Jonathan yang kini menerima misi Badian serta Tameer tidak terlalu mendengarkan argumen yang terjadi antara Luis dan Arial, karena ia harus menyelamatkan kedua orang itu dari pihak militer. Jadi dia memilih untuk menjauh dan memberikan arahan pada kedua orang itu.
Yoesef berusaha melerai keduanya ketika Arial berucap bahwa Brian pasti bisa melaluinya dan Luis semakin merasa emosi dengan berteriak. “Tapi kau tidak akan tahu bagaimana hasilnya!” Yoesef berhasil menahan Luis yang hendak bangkit untuk memukul Arial, dan merasakan suhu tubuh leader teamnya tersebut semakin tinggi.
Raihan hanya terdiam melihat mereka semua, sedangkan Andre membawa Arial menjauh dari Luis, meskipun mereka tahu bahwa Arial tidak akan melakukan hal kasar pada Luis. “Kau tidak tahu bagaimana rasanya ketika rencanamu gagal dan memakan korban!” Yoesef terdiam melirik pada Luis yang mengepalkan kedua tangannya, kepala lelaki itu tertunduk mengingat kejadian yang pernah ia lalui bersama dengan teman-temannya… Bima.
“Aku tahu Luis.”
“Kau tidak!”
“Aku juga berada disana Luis!” Arial berteriak saat rasa emosinya mulai datang, ia tahu persis bagaimana rasanya jika rencana yang ia lakukan gagal. Karena Arial ada disana, dia ada ketika Bima meledakkan dirinya di apartemen itu. Arial tahu bagaimana keributan yang terjadi di apartemen itu, dia juga merasakan rasa sedih, penyesalan dan ketakutan di saat yang bersamaan sama seperti apa yang Luis rasakan. Arial juga sudah mengenal Luis cukup lama, dan dia sangat mengerti bagaimana perasaan Luis saat ini, karena mereka telah melalui banyak hal bersama selama empat tahun lamanya.
“Aku berada disana! Aku tahu bagaimana perasaanmu.” Mereka terdiam begitu Arial mengatakan hal seperti itu, bahkan Jonathan yang sibuk dengan misi Badian pun sempat terdiam menatap Arial dan Luis. Intonasi ucapan Arial tidak meninggi seperti yang Luis lakukan tadi, tetapi semua ucapannya penuh dengan penekanan yang mengartikan bahwa dirinya juga marah.
Saat suasana diantara tim itu memanas, tiba-tiba Luis meringis kesakitan seraya memegangi kepalanya yang terasa sangat pening. Yoesef yang berada di sampingnya itu pun, segera menahan Luis yang hendak jatuh ke atas tanah.
Raut cemas dan terkejut dapat mereka tangkap dari wajah Yoesef, dia menatap pada Arial dengan mata yang lebar dan mengatakan bahwa ada sesuatu hal yang janggal. “Tubuhnya sangat panas, reaksi dari racun itu bekerja secara berlebihan. Aku tidak yakin jika racun yang masuk kedalam tubuh Luis hanya racun biasa, Arial.” Mendengar hal tersebut, Arial dengan tergesa-gesa menghampiri Luis dan menekan tombol dari talkie box miliknya untuk berbicara dengan kantor pusat W.A.E. Keadaan Luis harus segera ia laporkan, agar mereka dapat mengidentifikasi hal apa yang sebenarnya Luis alami.
“Arial, kita harus bersiap dalam hitungan sepuluh detik lagi!” Jonathan memberikan aba-aba agar mereka bersiap untuk melakukan misi mereka sesuai dengan waktu yang sudah mereka perhitungkan sebelumnya. Arial mendecik kesal, mengapa saat seperti ini datang diluar dugaannya.
“Sepuluh…” Arial menatap pada Yoesef yang memegangi Luis yang sudah tidak sadarkan diri, sepuluh detik lagi ia harus menyelamatkan Rio, tetapi ia juga harus memastikan bahwa Luis baik-baik saja.
“Aku akan memastikannya, kau pergilah.” Arial sedikit mengerenyitkan dahi ketika Yoesef mengajukan dirinya untuk tinggal dan memastikan keadaan Luis.
“Enam…” Arial sempat terdiam untuk berpikir dan mengangguk setelah mempertimbangkan beberapa hal, Arial memberikan sebuah Talkie box pada Yoesef, Talkie Box yang di rancang oleh Luis untuk mereka berenam.
“Bawa ini, dan laporkan keadaan pada Jina atau Astri!” ucap Arial, Yoesef mengangguk paham dan menyimpan Talkie box itu kedalam sakunya. Arial menjabat tangan Yoesef untuk menitipkan temannya pada orang tersebut, dan memeluk Luis yang tidak sadarkan diri. Tanpa disadari oleh seluruh anggotanya, Arial menyelipkan sebuah chip pada saku celana Luis.
“Satu!” Hitungan Jonathan terhenti disana, mereka semua terkecuali Yoesef melirik pada Arial yang berbalik menatap ketiganya.
“Show them!” Arial memberikan teriakan penyemangat pada tiga orang tersebut.
“We are Earth!” Ketiganya berteriak dengan penuh semangat dan berlari ke arah yang Jonathan berikan untuk mereka, meninggalkan Luis dan Yoesef di tempat itu.
Diruangan itu, Rio hanya terdiam ketika alarm merah menyala dan bunyi sirine yang sangat keras terjadi. Tangannya yang sebelumnya berniat untuk menekan tombol merah yang terus ia genggam selama ini, ia urungkan. Benar, Rio menyembunyikan sebuah bom aktif yang berukuran kecil pada saku jaket miliknya. Ia berniat untuk melakukan apa yang Bima lakukan dulu. Ia sudah merancang semua ini, dan akan menggunakan bom tersebut saat dirinya tertangkap. Rio berpikir inilah waktu yang tepat untuk melakukan itu, tetapi saat ia melihat Arial dan Luis yang datang untuk menjempunya. Pemikiran itu seketika berubah… Rio tidak dapat meninggalkan mereka semua, apalagi Bima sudah menitipkan mereka padanya.
Jadi saat ini, Rio hanya menunggu. Dia menunggu kedatangan tim penyelamat yang akan menyelamatkannya sambil terus berdo’a.
Rio membuka kedua matanya yang terpejam ketika seseorang masuk kedalam ruangannya dengan penuh emosi. Lelaki tua itu kembali dengan beberapa penjaganya, menatap pada Rio dengan penuh amarah.
“Apa yang teman-temanmu lakukan? Apakah mereka ingin bunuh diri?!” Lelaki itu membentak, namun Rio hanya terdiam. Ia lebih memilih untuk memikirkan bagaimana keluar dari ruangan ini di bandingkan mendengarkan gerutuan lelaki tersebut.
Tidak lama, datang seorang berpakaian militer ke dalam ruangan itu dan melaporkan sebuah berita. “Lapor Sir. Ada ledakan susulan yang terjadi di blok tujuh wilayah utara, dan sebuah pesawat terlihat di udara.” Laporan dari orang tersebut mampu membuat lelaki tua itu kembali mengumpat.
“Sial! Jadi mereka memiliki niat untuk menyerang wilayah utara terlebih dahulu? Hh… Aku tidak memperhitungkan ini. Kirim pasukan ke wilayah utara, dan kirim pasukan udara kesana.” Lelaki itu memerintah seraya terseyum licik pada Rio yang kini menatapnya. Sebenarnya Rio tidak mengetahui bahwa mereka akan menyerang wilayah utara dan bukan menyerang wilayah pusat. Meski begitu ia menduga bahwa Arial dan Luis pasti memiliki niat tersembunyi.
“Pindahkan dia ke ruang tahanan isolasi! Mereka tidak boleh mengetahui keberadaannya di ruangan ini!” Lelaki tua itu berjalan keluar ruangan dan memerintahkan agar Rio di pindahkan ke ruangan lain. Dua prajurit militer pemerintah yang menutupi wajah mereka dengan masker itu pun segera menghampiri Rio dan memborgol kedua tangannya ke belakang. Menyuruh Rio untuk berdiri dan menyeretnya keluar dari ruangan. Rio tersenyum ketika ia mempunyai sebuah ide untuk melarikan diri.
Ditengah perjalanan mereka menuju ruang tahanan isolasi, Rio terus menggera-gerakan bahunya. Terlihat tidak nyaman dengan jaket yang ia gunakan, namun kedua prajurit itu tidak memperdulikannya. Rio terus melakukan itu berulang-ulang hingga ia merasakan ada benda yang terjatuh kebawah, dengan cepat Rio berpura-pura tersandung dan mengambil benda tersebut.
“Apa kau tidak bisa melangkah dengan benar?! Berdiri!” Salah seorang dari dua prajurit militer itu memaksa Rio untuk kembali berdiri, dan mendorong agar Rio melanjutkan langkahnya.
“Aku hanya lemas karena kalian tidak memberiku minum.” Itu yang Rio ucapkan untuk membalas pertanyaan kasar dari prajurit militer tersebut. Orang tersebut terkekeh geli, dan menatap Rio dengan sangat tajam.
“Tidak ada minum saat perang terjadi nak!” ucapnya, Rio hanya membuang pandangannya dan menghela nafas.
Mereka telah sampai di depan sebuah pintu besi yang lumayan besar, orang yang tadi berbicara pada Rio melangkah membuka pintu tersebut dengan sandi-sandi, dan seorang prajurit lainnya tetap berdiri di belakang Rio. Menjaga agar Rio tidak kabur. Saat ia digiring untuk masuk ke dalam ruangan tersebut, Rio menjatuhkan satu dari dua benda yang ia ambi tadi. Benda tersebut bernama PLS7.1, benda itu setipis kertas sehingga kedua prajurit tersebut tidak sadar ketika Rio menjatuhkannya tepat di ambang pintu yang terbuka tersebut. Rio kembali di ikat pada sebuah kursi yang terbuat dari besi, kemudian ia di tinggalkan dalam ruangan itu sendirian. Ia menunduk menunggu pintu besi itu agar tertutup dengan sempurna, setelah apa yang dia tunggu terjadi, Rio mengangkat kepalanya dan menatap sekeliling. Tidak ada kamera disana, meski Rio yakin mereka pasti memasangnya di suatu sisi yang tersembunyi.
* PLS7.1 Adalah benda berbentuk seperti kertas yang memiliki fungsi sebagai laser dimana laser tersebut dapat melelehkan benda padat lainnya seperti besi, titanium, emas, perak dan lainnya yang dapat di cairkan menggunakan suhu panas. Tingkat kepanasan yang dimiliki benda ini dapat mencapai 1000 celcius, dan dapat menjadi alat ledak yang berbahaya.
* Pesawat W.A.E yang di tumpangi oleh tim Brian akan mengalami hal yang sangat berbahaya jika peluru peledak LPP-1K500 di tembakan. Karena, Jika peluru peledak di tembakkan dari jarak 800 meter, dengan kecepatan yang dimiliki peluru sejauh 944.88 meter per detik. Maka pesawat hanya mendapatkan kesempatan untuk menjauh dari lokasi target peluru jatuh, sejauh 1,67 kilometer. Dan pesawat akan dapat menghindari efek ledakan yang dihasilkan peluru itu yang hanya memiliki jarak ledak 1 kilometer. Tetapi jika pesawat menggunakan kecepatan hipersonik, maka mereka dapat menjauh sejauh 2.4 kilometer. Jauh dari kata tidak selamat dari efek ledakan. Tetapi, bahaya yang mengintai pesawat mereka adalah efek dari gelombang kejutnya. Mereka tetap tidak akan dapat menghindari efek dari gelombang kejut yang memiliki kecepatan 5.3 kilometer per detik. Pesawat yang mereka tumpangi akan merasakan benturan dengan efek tersebut pada detik berikutnya, di jarak 4.1 kilometer. Sebenarnya hanya 0.9 kilometer per detik lagi kecepatan yang mereka butuhkan untuk dapat meloloskan diri dari gelombang kejut itu, tetapi kecepatan mereka sudah pada tingkat maksimal.
* Benturan pesawat dengan gelombang kejut yang terjadi akan mengakibatkan kerusakan di beberapa mesin, atau lebih parahnya adalah tidak berfungsinya seluruh mesin dalam waktu yang bersamaan. Hempasan yang terjadi dari gelombang kejutlah yang dapat mengakibatkan pesawat gagal terbang dan jatuh.
To be continued