Terlalu lemas karena mendengar hal tersebut, Astri jatuh terduduk kelantai. Menumpahkan seluruh makanan yang sudah ia ambil dari kantin sebelumnya. Orang yang tadi berada disebelahnya, segera membantu Astri untuk berdiri dan duduk diatas kursi diiringi pandangan dari seluruh pekerja yang ada disana.
“Apa dia baik-baik saja?” Seorang wanita berseragam keamanan W.A.E, menghampiri mereka berdua dan bertanya. Teman Astri tersebut tidak menggeleng ataupun mengangguk, karena ia bingung apakah keadaan Astri bisa dikatakan baik-baik saja atau tidak saat ini. Ia hanya mengambil air minum yang diberikan oleh wanita itu padanya untuk Astri.
“Aku tidak tahu, Astri minumlah dulu.” Ia memberikan air minum itu pada Astri dan membantunya untuk meneguk air tersebut. Wanita berseragam keamanan W.A.E itu menyipitkan sedikit matanya, dan berdiri dengan tegak, melipat kedua tangannya menatap pada Astri.
“Kssskk… Sektor pusat, ada yang mendengar ku?” talkie box milik wanita itu bersuara. Ia segera mengambil talkie box yang ada di pinggannya dan melapor pada sambungan tersebut. “Tiara disini, sambungan masuk!” wanita tersebut membalas, Astri dan temannya mendongak memperhatikan wanita yang bertugas di tim W.A.E devisi keamanan itu berjalan sedikit menjauh dari keduanya.
“Tim Luis telah dalam perjalanan kembali, tolong segera siapkan tim medis!” Sambungan tersebut meminta agar wanita yang bernama Tiara itu untuk segera menyiapkan tim medis karena tim Luis telah dalam perjalanan kembali ke markas W.A.E.
“Copy!” Wanita tersebut segera berlari menuju devisi medis, sesaat setelah sambungan tersebut terputus. Astri dan temannya saling bertatapan untuk sejenak, sebelum akhirnya mereka sadar dan bergegas menuju parking area.
Astri bersama temannya berdiri di batas tunggu parking area, memperhatikan sebuah pesawat evakuasi yang baru saja mendarat beberapa detik yang lalu. Lima buah ambulance telah bersiaga disana, sebenarnya Astri ingin sekali mendekat kesana. Namun tidak adanya izin dari pihak yang bertugas, membuat Astri hanya bisa melihat semua itu dari kejauhan. Beberapa brankar masuk kedalam pesawat, dan keluar membawa para anggota yang terluka, Astri menatap dengan seksama, ia takut jika teman-temannya menjadi salah satu dari mereka yang diangkat menggunakan brankar maupun tandu itu.
“Please… Please…” Astri semakin tidak tenang ketika melihat sebuah brankar membawa seorang anggota yang ditutupi seluruh tubuhnya dengan kain putih, dan terlihat bercak darah di kain tersebut. Tangannya saling tertaut memanjatkan doa, tidak lama dari sana Astri melihat Jina yang mendapat akses untuk mengurusi tim tersebut turun bersama dengan Luis yang memapah Arial. Astri segera berlari melewati batas tunggu menghampiri ketiga temannya itu, mengabaikan para penjaga yang menegurnya.
“Astri?” Jina terkejut ketika melihat Astri yang berlari kearah mereka, sedetik kemudian wanita itu sudah memeluk ketiganya termasuk Arial yang dipapah oleh Luis.
“Syukurlah!” Suara parau Astri terdengar dengan pelan ditelinga mereka.
Rio baru saja menginjakkan kakinya di Sektor 8 kota Sub., namun ia terkejut ketika melihat betapa hancurnya kota yang disebut sebagai pemukiman militer ini, ketiganya terdiam dengan tidak percaya atas apa yang ada dihadapan mereka. Harum bubuk mesium semerbak masuk kedalam indra penciuman Rio, Zeino, dan Dara, menandakan bahwa hal ini belum lama terjadi. Beberapa rumah hancur berkeping-keping, debu-debu dari bangunan yang hancur cukup tebal menyelimuti aspal hingga warna hitamnya tak lagi terlihat. Asap-asap dari sisa kebakaran bangunan masih membumbung ke langit.
‘Srek!’ Rio menatap benda yang baru saja secara tidak sengaja ia injak. Matanya menyipit melihat selongsong peluru yang memiliki panjang 5cm, sangat banyak berserakan di atas jalan tersebut.
“Rio, Dara… Apa tidak ada laporan mengenai hal ini?” Zeino bertanya pada Dara dan Rio, menatap mereka dengan wajah yang shock. Dara menggelengkan kepalanya, tanda ia pun tidak mengetahui situasinya seperti ini. Sementara Rio masih terdiam memperhatikan sekitar, tidak ada tanda-tanda keamanan disana, maka ia memutuskan untuk kembali berjalan ke arah pemukiman tersebut lebih lanjut.
“Dara, coba kau hubungi kantor pusat dan laporkan kondisi ini. Aku curiga mereka tidak mendapatkan laporan mengenai hal ini.” Rio memberikan perintah pada wanita itu, karena ia tahu Dara dapat melakukannya lebih cepat dibandingkan jika dirinya yang harus menghubungi kantor pusat. Dara mengangguk dan mulai menyambungkan sambungannya pada kantor pusat. Namun belum juga sambungan mereka terhubung, sebuah tembakan keras melesat hampir mengenai tubuh Zeino yang berdiri di damping kanan Rio. Ketiganya segera berlari kearah salah satu rumah yang sebagian besarnya sudah hancur, mereka bersembunyi di balik dinding rumah tersebut.
“Menyerah saja anggota W.A.E! kami telah berhasil mengepung kalian. Jika kalian tetap bersembunyi, kami tidak akan segan-segan untuk melepaskan beberapa tembakan. Kalian tahu dengan pasti kan, bahwa kami sangat serius dengan ancaman kami?” Salah satu dari keamanan pemerintah berteriak menggunakan pengeras suara untuk menyuruh tim Rio menyerah. Rio melirik pada Zeino dan Dara, kemudian ia menekan lima kali tombol Help code berwarna hitam yang ada di ikat pinggang miliknya.
Arial berbaring di atas sebuah ranjang ruang rawat W.A.E. Dirinya di sarankan untuk beristirahat setelah kelelahan karena berlari selama tiga jam, sebuah selang infus terpasang pada lengan kanannya. Tiga orang temannya tersebut, setia menunggui dirinya diruangan itu. Astri dan Jina mengobrol diatas sofa yang terletak tidak jauh dari ranjangnya. Sementara Luis duduk dijendela menatap kearah luar ruangan dan terdiam dengan beberapa pikirannya sendiri. Sedangkan Arial sendiri, ia terbaring menatap kearah langit-langit ruangan, ia memikirkan bagaimana nasib Patra dan timnya. Karena belum ada konfirmasi yang pasti mengenai helikopter yang Patra kendarai, dan ia tahu jika Luis pun tidak diberitahu mengenai hal tersebut.
“Kkksskk… ” Talkie box milik Arial yang tersimpan di atas meja disamping ranjangnya tersebut tiba-tiba berbunyi, membuat sang pemilik maupun teman-temannya menengok dan memastikan bahwa suara tadi memang berasal dari benda tersebut.
“Ksskkk… Patra disini, sambungan masuk?” Arial segera bangkit dari tidurnya menggapai talkie box tersebut dengan susah payah, Luis yang mendengar hal itu pun bergegas mendekati ranjang dimana Arial sudah terduduk.
“Sambungan masuk! Arial terhubung!” Arial berucap dengan perasaan panik sekaligus lega dalam satu waktu, terdengar suara yang tidak jernih dari sinyal Patra. Mungkin karena sinyal itu terlalu lemah, sehingga suaranya tidak sejernih biasanya.
“Tim Patra akan melapor! Keberadaan kami tidak jauh dari distrik 5 kota Lin. heli kami jatuh namun seluruh anggota selamat.” Arial sangat bersyukur mendengar hal tersebut, ia bersyukur karena Patra dapat melakukan tugasnya dengan baik, bahkan tidak menyebabkan korban jiwa. Jina yang bertugas sebagai putusan W.A.E Assignor Section pun segera berlari keluar untuk melapor dan menentukan tim mana yang akan menyelamatkan tim Patra.
Tanpa di perintah, Luis mengambil laptop virtualnya dan mulai memasukan beberapa kode kedalam sebuah aplikasi.
To be continued