"Ray!" teriak Tamma. Pria tua itu berdiri mengejar Rasya. "Dasar laki-laki b******k! Kau sama sekali tidak punya malu!" maki Rasya. Ia tak mampu menahan dirinya lagi. "Kau pikir siapa dirimu, hah? Apa kau tidak memikirkan perasaan perempuan itu? Dia juga punya keluarga, Raka! Bagaimana mungkin dia bisa mengatakannya pada mereka? Bisa-bisa orangtuanya akan mengusirnya. Apa kau tidak memikirkan itu sebelum menyakitinya?" Bentak Rasya. "Kalau kau tidak bisa menahan hasratmu, harusnya kau ajak Kalina untuk menemanimu. Bukannya malah meniduri perempuan lain!" pekik Rasya. Kedua tangannya terkepal kuat. Sontak teriakan itu mengejutkan Liliana dan kedua menantunya. Ketiganya bergegas meninggalkan ruang makan dan segera menuju ruang tamu. Liliana membelalakkan matanya lebar, begitupun dengan

