Luna berjalan keluar dari kamar dengan pakaian rapi. Ia mencepol tinggi rambutnya, memakai riasan bold tak seperti biasanya. Mengenakan kemeja lengan panjang dan rok pensil berpotongan sedikit di bawah lutut. Serta sepatu high heels hitam yang senada dengan shoulder bag miliknya. Ia berjalan anggun menuju ruang tamu. Seakan sesuatu yang baru menimpanya tidak pernah terjadi. Luna memutuskan untuk bangkit dan membalas sakit hatinya. Tapi bukan seperti orang bodoh yang menyerang musuhnya dengan sembarangan. Ia berjanji akan membalas setiap perlakuan lelaki itu dengan caranya sendiri. Tetapi, ia harus menemukan bayinya terlebih dulu, sebelum lelaki itu yang duluan menemukannya. Itu yang penting. Luna menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya kembali. Menghirup udara untuk mengisi ruang

