Kabut prasangka yang menyelimuti Desa Terpencil semakin pekat, mencekik kehangatan dan persahabatan yang sebelumnya terjalin erat. Setelah pertengkaran semalam, Via dan Darwin seperti terperangkap dalam pusaran gosip dan tatapan sinis yang tak berkesudahan. Tekanan dari masyarakat desa semakin meningkat, membuat keduanya merasa terasing dan terkucilkan. Pagi itu, saat Via dan Darwin berangkat menuju ladang untuk melanjutkan proyek irigasi, mereka merasakan perubahan yang mencolok dalam sikap warga. Orang-orang yang dulu menyambut mereka dengan senyum ramah dan sapaan hangat, kini membuang muka atau berbisik-bisik di belakang mereka. Aura permusuhan terasa begitu kental, menusuk relung hati mereka dengan duri-duri tajam. "Apa kita harus terus begini?" gumam Via dalam hati, menahan

