Mendengar perkataan yang dikatakan rendi tadi membuatku tidak bisa banyak berbicara banyak karena untuk saat ini otakku masih belum bisa berfikir dengan jernih. Aku jadi lebih banyak diam, padahal rendi saat ini tepat berada dihadapanku. Ya aku dan rendi duduk berseberangan karena saat ini aku tidak ingin berdekatan dengannya dulu. Aku sengaja menjaga jarak dengannya, jujur saja aku masih syok dan tidak tahu harus apa saat ini. "Ranti sayang kenapa kamu jadi berubah menjadi pendiam dan kamu tidak ingin berdekatan denganku?? aku masih rendi yang kamu kenal yang. Ia berusaha mendekatiku dengan berpindah tempat duduk tepat disampingku dan berusaha menggenggam tanganku namun segera kutepis. "Maaf, untuk saat ini jangan sentuh aku bukankah sudah aku bilang untuk memberikanku waktu 1 minggu untuk berfikir dan juga tidak ada sentuhan darimu. Dengan wajah kecewa rendi segera menjauh iapun kembali duduk berseberangan denganku. "Iya sayang aku hormati keinginanmu untuk tidak ada sentuhan karena aku benar benar mencintai kamu dengan tulus, aku tahu pasti kamu berfikir kalau aku hanya menginginkan tubuhmu saja tapi itu tidaklah benar. Aku sengaja melakukannya agar kamu benar benar hanya milikku saja seutuhnya. Tidak ada niat untuk yang lainnya. segera kutepis dengan perkataanku segera "aku tahu kamu melakukan ini untuk mengetahui benar atau tidaknya kalau aku masih perawan bukan?? aku mengatakan seperti ini karena mendengar penjelasanmu kalau mantan tunanganmu oh tidak lebih tepatnya mantan istrimu karena kalian sudah nikah siri.kalau ia sudah tidak perawan benar bukan yang kukatakan ini??? tanya ku pada rendi.
Ia hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan yang aku lontarkan padanya."Apakah yang baru saja kukatakan ini salah menurutmu?? kenapa kamu diam tidak menjawab??" kulihat wajah rendi nampak marah karena tidak terima perkataan dariku. "Saat ini kamu sedang emosi yang, jadi aku pamit pulang dulu agar emosimu mereda, tolong percaya padaku aku sudah berkata jujur sama kamu. Sekarang lebih baik kamu beristirahat, aku pulang dulu nanti begitu aku sampai rumah aku telpon kamu yang.aku benar benar cinta dan sangat merindukanmu. Rendipun segera berlalu pergi meninggalkanku yang masih duduk terdiam masih dalam fikiran yang kalut dan kacau. Saat ini aku sungguh membutuhkan kehadiran sila, aku butuh teman yang bisa ku ajak bertukar fikiran. Saat ini aku sangat membutuhkan saran dan masukan dari sila. Tiba tiba ponselku berbunyi dan kulihat ada telpon masuk dari rendi namun segera kutolak panggilan telpon darinya, kemudian ia kembali menelponku namun lagi lagi tidak kujawab telponnya. dan iapun menelpon lagi lalu kuletakkan ponselku dimeja dan kutinggalkan menuju kamarku. Untuk saat ini aku butuh sendiri dulu.Sesampainya dikamar aku melihat fotoku dan rendi yang terpajang dikamarku yang membuatku menangis pilu merasa hancur. Difoto tersebut terlihat kebahagiaan yang hakiki terpancar dari wajahku dan rendi namun setelah apa yang terjadi sekarang ini membuatku begitu rapuh dan tak berdaya disatu sisi aku begitu mencintainya dan disisi lain aku tersakiti oleh sebuah kebohongan dari rendi mengenai masa lalunya. Oh tuhan ...apa yang harus kulakukan sekarang??
Kurebahkan tubuhku diatas ranjang dengan lunglai saat ini aku sangat butuh istirahat, yah tubuh dan fikiranku sangat membutuhkan istirahat saat ini. Apakah masalah ini kuceritakan kepada mama dan papa atau tidak?? Lebih baik tidak kuceritakan pada mereka karena aku takut mereka akan kecewa padaku.