Nafla terbangun dari tidurnya pukul 11 disaat matahari hampir sepenuhnya naik. Ia melirik sampingnya dan melihat ranjang itu kosong. Nafla sejenak memejamkan matanya, membayangkan hal semalam yang ia lakukan dengan suaminya membuat dirinya tersenyum kecil. Ia jadi malu jika bertemu dengan Mas Asgaf nanti. Nafla mencoba bangkit dan sedikit merasakan nyeri di bagian bawah tubuhnya. Berjalan tertatih ke kamar mandi untuk menyikat gigi karena sebelumnya ia sempat membersihkan dirinya sebelum shalat subuh berjama’ah bersama sang suami untuk yang pertama kalinya. Setelahnya, Nafla beranjak keluar kamar dan melihat dekorasi rumah ini dengan jelas karena pagi ini, ia baru mampu melihat segalanya dengan terang. “Nyonya,” sapa seorang pembantu yang dipekerjakan oleh Asgaf di rumah ini untuk be

