BAB 39

893 Kata

Asgaf tidak berhenti mondar-mandir di depan ruang operasi istrinya yang kini sedang bertaruh nyawa di dalam sana. “Nak, tenanglah,” tegur kedua orang tuanya. Asgaf lantas memilih duduk. Kedua jemarinya menggenggam satu sama lain dengan erat sementara kepalanya menunduk menatap lantai yang entah kenapa menjadi sasaran pandangannya saat ini. Pikirannya terus melayang karena sudah dua jam Nafla di dalam tapi belum ada seorang pun yang keluar dari sana. Seketika lampu operasi mati, menandakan operasi telah selesai dilakukan. Asgaf, kedua orang tuanya dan juga mertuanya berdiri menantikan Nafla juga bayi yang baru saja dilahirkan. Tak lama, harapannya terkabul untuk bisa melihat Nafla yang tampak begitu lemah. “Sayang,” Asgaf menghampirinya sementara kedua orang tuanya dan juga mertuanya l

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN