Nafla menarik napas dalam-dalam sebelum keluar dari mobil yang disupiri oleh Pak Sardi. Mengelus perutnya yang membesar dan berdoa dalam hati bahwa ia mampu menguatkan hatinya menghadapi kenyataan pahit itu. Nafla melihat temannya sedang duduk seorang diri di cafe dimana mereka berjanji untuk bertemu sambil melirik pergelangan tangannya sesekali. "Non," panggil Pak Sardi menyadarkan Nafla. "Saya tunggu disini saja." Nafla menggeleng pelan. "Tidak usah, Pak. Saya bisa pulang naik taksi nanti." "Tapi, pesan Den Asgaf—" "Ngga pa-pa, Pak. Pak Sardi lebih baik jemput Caca saja di sekolah, sebentar lagi dia akan pulang." Walau terlihat ragu, Pak Sardi mengangguk mengiyakan, karena bagaimana pun Caca masih butuh pengawasan ketat dari orang tuanya. Apalagi, berita banyak menyampaikan tentang

