BAB 32

1234 Kata

Mungkin memang hidupnya sama sekali tidak diizinkan untuk bahagia walau hanya sejenak saja. Apakah ia tetap harus berada di sini atau justru membiarkan Caca kembali kepada ibunya? Padahal, Nafla selama ini tidak pernah menuntut lebih akan kehidupan yang dijalani. Menelan saliva dengan susah payah, Nafla mengendarai mobilnya dalam sunyi. Sunyi yang menghantam dadanya hingga ke ulu hati seakan membuat dirinya perlahan mati. Air matanya yang mengalir sedikit mengaburi pandangannya pada jalanan. Nafla melajukan mobilnya untuk pulang ke rumahnya tanpa sepengetahuan Asgaf. Banyak yang ingin ia ceritakan kepada ibunya dan membiarkan Rena menghabiskan waktu bersama Caca dan ayahnya. Mungkin ini adalah pilihan bodoh, tapi Nafla tidak bisa melihat keponakannya itu bersedih terus menerus. Seketika,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN