Malam ini aku dan Fitri sudah berada di depan Cafe Quenna, kebanyakan tamu yang hadir adalah teman-teman kampus kami.
Aku mencoba percaya diri dengan gaun hitam ini, rambut panjangku yang kata Fitri lebih baik aku gerai membuatku merasa semakin percaya diri untuk bertemu Nina dan Azka.
Azka, apa pendapatnya dengan gaunku nanti? Nampak biasa saja ataukah tidak.
Aku dan Fitri melangkah ke dalam kafe, pencahayaan di ruangan ini redup, lebih banyak menggunakan lampu-lampu lampion. Walaupun juga ada lampu warna-warni yang berkelip, tapi tak terlalu banyak.
Saat aku tengah kagum akan dekorasi dan hiasan ruangan itu, tiba-tiba saja terdengar suara memanggilku.
"Kania. Just for you." Suara Azka membuatku menoleh ke atas panggung yang tak terlalu tinggi.
Lagu Beri Aku Waktu, dari grup band Ungu yang dinyanyikan Azka membuatku larut dalam alunan suaranya yang begitu merdu.
Melihat Azka berdiri di atas panggung dan bernyanyi, membuatku larut bersama merdunya suara Azka yang terdengar begitu tulus.
Aku sejenak bisa melupakan tentang Radit dan rasa sakit yang begitu menyakiti hati. Pengkhianatan Radit, membuatku merasa begitu tak berdaya.
Namun, Azka datang dengan menawarkan perlindungan dari seorang sahabat. Tentu saja aku tak semudah itu bisa menerima semua keadaan ini. Terlebih ada Karin yang masih menyimpan rasa untuk Azka.
Aku melihat Azka tersenyum ke arahku sambil terus bernyanyi. Pancaran mata yang tulus dan juga lagu yang seakan-akan mewakili perasaannya, membuatku membalas senyuman Azka tanpa sadar.
Suara musik telah berhenti, Azka tiba-tiba saja mendekatiku setelah selesai tampil di atas panggung. Laki-laki yang dulunya adalah sahabatku itu kini telah menjadi suamiku, aku tak pernah memperhatikan jika Azka memang terlihat sangat tampan seperti ini.
"Besok mau pergi seharian denganku?" tanya Azka saat telah berdiri di hadapanku.
Entah aku sedang tersihir suasana atau tersihir apa saat ini? Aku hanya menganggukan kepala tanda menyetujui permintaannya.
Perasaan apa ini? Menyelinap masuk perlahan dari cela luka yang Radit tinggalkan di hatiku. Membuat aliran listrik kecil itu mengalir dalam tubuh.
Azka meraih tanganku, menarik diri ini mengikuti langkahnya menuju halaman belakang Cafe Quenna.
Azka mengambil sesuatu dari dalam saku celana, sebuah kotak merah yang begitu indah ia buka tepat di hadapanku.
Sebuah kalung bertuliskan inisial namaku dengan permata putih di ujung huruf. Indah, sangat indah. Jika boleh jujur aku sangat menyukainya.
Azka kini berada tepat di belakangku, tangannya meraih rambutku dan diletakan di samping pundakku, ia lalu memasangkan kalung itu.
Ada desiran aneh dalam tubuhku saat tangan Azka menyentuh tengkukku.
Rasa apa ini?
"Kamu suka?" Pertanyaan Azka membuatku tersadar.
Aku mendongak menatap mata Azka, sekilas aku mengingat momen seperti ini dengan Radit, saat Radit memakaikan cincin di jari manisku dulu.
"Suka, bagus sekali, tapi seharusnya kamu gak boros Azka, apa lagi kalau sampai kamu membeli ini dari uang meminta Mama ataupun Papa."
"Kamu tenang aja Kania, uang ini adalah uangku sendiri. Nina membayar penampilanku di muka. Beruntungnya lagi pemilik toko mau menyelesaikan pesananku dengan cepat. Lagian, apa kamu tidak tahu semenjak menikah aku menolak uang bulanan dari Mama ataupun papay?"
Perkataan Azka menyentuh hatiku, kenapa aku tidak pernah sadar bahwa Azka sebenarnya tengah mencoba untuk bertanggung jawab atas diriku?
"Mana mungkin aku tahu, banyak hal di diri kita yang seperti sebuah misteri dan rahasia," gumamku.
Azka seperti tengah memikirkan sesuatu, tapi aku tak tahu apa yang saat ini tengah mengganggu pikirannya.
"Azka, aku cari kamu dari tadi tahunya kamu disini."
Nina kini sudah berada di samping Azka sambil mengandeng tangan Azka. Sikap agresif Nina tidak pernah hilang.
"Kania. Gimana menurutmu gaunku ini, baguskan? Ini Azka yang memilihkannya loh," ucap Nina manja.
"Bagus, oh, iya Nina selamat ya atas kafe barumu ini, aku gak tahu kalau kamu ternyata tertarik di dunia bisnis." Aku berusaha tenang menghadapi Nina.
"Gimana bisa kamu tahu tentang aku, kitakan bukan teman dekat, tapi makasih kamu sudah mau datang ke acaraku malam ini." Nina makin bersikap seolah-olah dia dan Azka adalah pasangan.
Aku menatap Azka dan melirik ke arah tangan Azka yang sedang digandeng Nina bahwa aku tidak suka Nina menggelayuti tangannya seperti itu.
"Nina, kenapa kamu mencariku?" kata Azka sambil melepas tangan Nina dari lengannya.
"Kamu lupa tugasmu setelah ini ya Azka?" tanyanya dengan nada manja itu lagi.
Sejujurnya aku muak melihat adegan itu, maka dari itu aku memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka dan masuk kembali ke kafe.
***
Aku dan Fitri tengah mengobrol dengan Alvian dan Dika saat tiba-tiba Azka datang dan memanggil Alvin.
"Alvin," panggil Azka membuat Alvian menoleh.
Alvian yang lebih sering dipanggil Alvin adalah teman dekatku dan Azka saat SMA dulu, dia juga pemain gitar di grup band Azka bersama Dika.
"Kenapa, Bro?" tanyanya.
"Gini Vin, besok ada waktu gak? Nina mau ajak kita jalan, kamu ada waktu buat ikut gak?" tanya Azka pada Alvin memastikan.
"Nina? Boleh." Alvin langsung mengiyakan ajakan Azka.
Jadi itu tujuannya mengajakku kencan dia ingin bersama Nina. Lebih baik aku memutuskan untuk pulang sekarang juga.
Dasar Azka sangat-sangat menyebalkan!
"Kania, mau ke mana?" tanya Alvin saat aku menuju pintu keluar.
"Mau pulang!" Aku menjawab tanpa mau menoleh lagi.
***
"Menyebalkan, ternyata dia mengajakku jalan karena dia ingin aku dan Alvin menemani dia dan Nina berkencan." Aku terus berbicara sepanjang jalan karena kesal dengan Azka.
"Terus apa maksudnya lagu yang ia katakan hanya untukku, kalung ini, apa maksudnya? Apa dia hanya ingin bersikap baik saja padaku?" Meluapkan pertanyaan pada diri sendiri.
Fitri yang tengah fokus menyetir motor sesekali melirik dari kaca sepion.
"Kania, kamu kenapa sih? Cemburu?" tanya Fitri.
"Cemburu?"
Aku tak tahu ini rasa apa? Yang aku tahu aku kesal. Dia memintaku menghabiskan waktuku bersamanya ternyata karena ada udang dibalik batu.
"Kania, cemburu pada Azka dan Nina menurutku wajar. Nina itu cantik, terlepas dari muka temboknya, Nina adalah gadis yang pintar dan mandiri, bahkan, dia menunjukan rasa sukanya pada Azka. Tidak sepertimu yang antara ada dan tiada. Hati-hati jangan sampai Azka menjadi tetarik pada Nina,hehehe ...." tawa Fitri.
***
Benarkah aku cemburu?
Nina saja yang jadi wanita tidak memiliki rasa malu, apa-apaan itu menunjukkan perasaannya pada laki-laki dan jika aku harus menjadi seperti Nina, hal itu gak akan pernah aku lakukan. Mana harga diriku sebagai wanita.
Namun, lagi-lagi sampai saat aku telah berada di kamar kata-kata Fitri tetap terngiang di telingaku. Nina, gadis cantik dan mandiri, berani menunjukkan perasaannya pada Azka.
Bagaimana jika nanti Azka berbalik membalas perasaan Nina?
"Tidak!" Aku berteriak sembari menutup kedua telinga.
Kulirik jam dinding tepat pukul sebelas malam, tepat saat aku mendengar suara motor Azka masuk ke halaman rumah. Langsung saja aku masuk ke selimut, saat ini tak ingin meliatnya apa lagi untuk berbicara dengannya.
Suara pintu kamar terbuka, kemudian tertutup. Langkah kaki kini juga terdengar semakin mendekat ke arahku.
"Yakin sudah tidur?" Suara Azka terdengar yakin bahwa aku belum tidur.
Lebih baik kuabaian saja.
"Kelihatannya sudah tidur, malam ini aku ingin tidur di atas tempat tidur saja, capek juga tidur di sofa setiap malam." Ucapan Azka membuatku takut jika ia benar-benar akan melakukan hal itu.
Terpaksa kubuka selimutku dengan cepat dan menatap tajam ke arah Azka.
"Jangan macam-macam ya Azka!" Peringatan yang selalu aku ucapkan untuknya.
"Maca- macam, apa? Aku hanya ingin meminta hakku yang belum kamu berikan padaku." Mendekatkan wajahnya padaku, lagi-lagi sikapnya ini membuatku merasa ketakutan.
"Hahaha ..., aku cuma meyakinkan saja apa benar kamu bisa tidur sebelum aku pulang?" Azka berjalan menuju sofa sambil tertawa puas.
Degh!
Azka membuatku tersadar, sejak kapan aku mulai tak bisa tidur jika Azka belum pulang ke rumah?
Ada apa ini? Azka merebahkan tubuhnya di atas sofa dan memejamkan matanya.
Sementara aku masih memandang langit-langit kamar. Mencoba mencerna setiap kata-kata Azka.
***
Pukul 14:05 WITA aku dan Alvin sampai di depan mall yang telah Azka infokan lokasinya pada kami.
Hari ini aku lebih memilih memakai celana jeans biru yang aku padukan dengan kemeja berlengan panjang putih polos. Jam tangan hitam dan juga tas selempang hitam kecilku menjadi hal wajib yang harus dipakai saat pergi.
Tidak lupa sepatu putih pemberian Fitri saat ulang tahunku tahun lalu juga menjadi pilihanku hari ini, sedangkan
untuk gaya rambut aku memilih untuk dikuncir satu agar tak gerah.
"Ayo masuk, mereka sudah di dalam!" Alvin menarik tanganku.
***
Sampai di tempat makan, aku lihat Azka dan Nina duduk berhadapan. Kebetulan sekali hanya terdapat dua kursi di setiap meja.
Aku dan Alvin duduk berhadapan. Mencoba menikmati makanan yang telah disajikan di meja. Sesekali Alvin melirik ke arah Azka dan Nina.
"Kamu gak cemburu?" tanya Alvin.
Cemburu? aku sendiri belum mengerti sampai detik ini apa rasa ini cemburu atau bukan?
Selesai makan kami naik ke lantai tiga. Ternyata tujuan mereka kali ini adalah tempat permainan dan aku hanya bisa mengikuti ke manapun mereka melangkah untuk bermain.
Jika orang lain yang melihat maka akan terlihat Nina dan Azka adalah pasangan serasi. Melihat Nina yang terus menempel pada Azka membuatku harus menarik tangan Azka dan mengajaknya menjauh dari Nina dan Alvin.
"Kenapa kamu menculikku dari kencanku bersama Nina?" protes Azka terlihat kesal.
"Kalian tuh, bukan muhrim tauk." Aku juga protes balik pada Azka.
"Bukan muhrim ya? Jadi kalau dengan kamu gimana? Kita kan sudah halal saat ini." Azka mengatakan itu sambil memandang wajahku dan tersenyum manis. Mengangkat alisnya yang tebal itu.
Aku tak ingin menanggapi kata-kata Azka dan memilih berbalik untuk meninggalkannya.
Azka mengikuti langkahku, aku memutuskan untuk berhenti tepat di permainan menjepit boneka. Kotak kaca itu memiliki banyak boneka di dalamnya.
"Ayo main ini, jika aku berhasil mengambil bonekanya maka kamu harus membuka hatimu untuku. Berani bertaruh denganku?" ujar Azka padaku, lalu ia melanjutkan kalimatnya. "Jika aku tidak berhasil maka aku akan bersikap selayaknya dulu kita bersahabat, bagaimana?" Tantang Azka padaku.
Sebenarnya aku tak takut dengan tantangan Azka, tetapi yang aku takuti adalah harus membuka hatiku untuk orang lain, sedangkan nama Radit masih ada di dalam sana.
Bagaimana mungkin aku bisa meletakkan kedua nama di dalam hatiku sekaligus?
Bersambung.