Chef Tampanku

1388 Kata
"Baiklah, dengan syarat hanya dengan tiga kali permainan saja." Aku mengajukan syarat. "Oke, tak perlu harus sampai tiga kali, karena aku yakin cukup sekali saja aku akan mendapatkan boneka itu dan juga mendapatkan hatimu." Azka berkata dengan yakin dan memasukan dua koin untuk memulai permainan itu. Membuat jantungku berdebar kencang. Entah mengapa detak jantungku berdegub begitu kencang, saat Azka mulai menggerakan tombol yang ia pegang. Rasanya jantungku semakin tak terkendali saat alat itu tepat menyentuh boneka yang aku inginkan, tapi ternyata saat alat itu menjepit boneka dan Azka mencoba menariknya ke atas boneka itu terjatuh begitu saja, Azka memandangku dengan kecewa, entah begitu pun aku, kenapa dihatiku juga merasakan rasa kecewa? Atau jangan-jangan sebenarnya aku telah. Tidak! "Baiklah, bukankah kamu bilang aku memiliki tiga kali kesempatan, maka akan aku gunakan kesempatan keduaku," Azka memasukan dua koin lagi dan memulai permainannya, jujur kali ini aku harap-harap cemas bagaimana jika Azka tak berhasil melakukannya lagi? Namun, kenapa aku menjadi berharap ia bisa mendapatkan boneka itu? Alat itu kini mulai bergerak, berada tepat di atas boneka kuning yang imut, Azka berusa perlahan-lahan menurunkan alat penjepit itu. "Kena, kena," gumam Azka membuatku memandangnya. Azka nampak begitu yakin ia akan berhasil mendapatkan boneka itu dan benar saja, kini alat itu berhasil menjepit boneka incarannya. Azka meraih cepat boneka itu ketangannya saat berhasil mengambilnya. Entah kenapa dengan diriku saat ini aku melompat kegirangan seperti anak kecil melihat Azka berhasil mendapatkan boneka itu? Apa aku telah mulai membuka hati ini untuk suamiku itu? Azka memandangku dengan heran karena melihatku seperti itu, aku tersadar dengan apa yang aku lakukan dengan cepat aku memalingkan wajah ke arah lain seolah-olah tak terjadi apa-apa dan mengabaikan Azka. Walau jauh di dalam hatiku sejujurnya, aku malu! "Ini buat kamu," Azka menarik tanganku dan memberikan boneka itu. "Gimana? Bisakah kamu mulai menerima kehadiranku dihati dan hidupmu?" Azka menatapku penuh harap. "Azka, bisakah kamu memberi aku waktu untuk mencari Radit," Aku melihat Azka mengerenyitkan dahinya saat mendengar kalimatku. "Radit? Untuk apa lagi Kania? Jika aku bertemu dia maka akan aku beri dia hadiah setimpal karena telah menyakitimu." Azka marah dan aku tahu kenapa dia marah. "Aku tahu itu, hanya saja aku ingin bertanya padanya tentang sakit yang ia tinggalkan di hatiku, aku ingin tahu alasannya mengkhianatiku, aku ingin kejelasan agar aku bisa berhenti memikirkannya, agar aku bisa berhenti mencintainya. Aku tidak ingin membuka hatiku untukmu sebelum aku menutup hatiku untuk Radit, masa laluku." Air mata jatuh dipipiku, Azka meraih tanganku, menggenggam erat dan membawaku berjalan meninggalkan tempat itu. "Azka, Nina dan Alvin?" tanyaku pada Azka saat kami sudah ada di luar mall. "Biarkan mereka, mereka sedang berkencan." Azka melirik ke arahku. "Kencan?" Aku bingung dengan ucapan Azka. Nina dan Alvin? Kencan? "Iya, Nina memintaku membantunya untuk mendekatkan dia dengan Alvin, dan aku rasa Alvin pun menyukai Nina," kata Azka sambil terus menggandeng tanganku sepanjang kami berjalan. Jadi itulah hubungan Azka dan Nina, tak ada lagi yang perlu aku pikirkan tentang Nina dan Azka. Apa lagi sampai cemburu pada mereka. Namun, benarkah aku cemburu? *** Malam ini Azka sibuk di dapur karena Kak Vania dan aku tak sempat memasak. Bukan tak sempat memasak lebih tepatnya sedang malas memasak, Kak Vania sudah memesan makanan online tapi sampai sekarang belum juga datang. Andai saja Mama di rumah pasti Mama akan memasak untuk kami seperti biasa dan kami tidak akan kelaparan seperti saat ini, tapi kenyataannya Mama dan papa mertua mungkin minggu depan baru bisa pulang. Kak Vania asyik menonton TV sambil menunggu makanan yang mungkin akan datang sebentar lagi, aku putuskan menuju dapur untuk melihat apa yang sedang Azka lakukan di sana. Azka menoleh ke arah pintu saat aku masuk ke ruang dapur lalu dengan cepat ia memberiku senyum manisnya, laki-laki yang lebih tinggi dariku itu menarik kursi dan memintaku duduk. Kini aku telah duduk sambil menghadap ke arah Azka yang tengah memegang sebuah pisau. Azka berdiri di hadapanku, kemeja putih berlengan panjang yang kini telah ia gulung menjadi setengah pendek itu membuatnya nampak tampan. Eh ... ada apa denganku saat ini? Kenapa aku selalu saja melihat Azka seperti orang yang sedang jatuh cinta? Azka mulai memotong bumbu dapur dan sayuran seperti, wortel, kentang, tomat, dan banyak lagi. Aku tidak bisa berhenti melihat Azka yang sangat mahir menggunakan pisau, sambil sesekali memutar pisau. "Azka, awas jangan dimainkan nanti kamu bisa kena tau gak!" protesku saat Azka memutarkan pisau beberapa kali dengan jarinya. "Enggak papa Kania, ini aman, kok. Aku kan udah mahir," jawabnya dengan percaya diri dan tersenyum bangga. Melihat Azka seperti ini entah kenapa aku jadi ingat drama Korea kesukaanku, caranya menggunakan pisau dan memasak aku jadi teringat chef ganteng itu, Azka mirip sekali dengan dia. Sesekali Azka menyempatkan memandangku, tersenyum dingin, tetapi manis sekali. Arggghh,, ada apa ini? Apa aku sudah jatuh cinta pada Azka? Kenapa hatiku terasa meleleh saat dia memberiku senyuman atau ini hanya sebagai pelampiasan rasa sakit di hatiku? "Sudah siap, sayur sop ceker ala chef Azka," kata Azka sambil meletakan mangkung sayur di atas meja, aroma masakan Azka mengundang kak Vania menuju dapur. "Wow, kelihatannya enak," ucapku tak sabar ingin mencicipinya. "Azka, kamu memasak lagi?" tanya Kak Vania saat berada di depan meja makan. "Iya, udah kakak duduk aja dan makan." Azka menarik kursi dan meminta kak Vania duduk. "Kamu tahukan Mama gak bolehin kamu masak lagi semenjak kamu kena pisau saat kamu SMP." kak Vania mengingatkan Azka dan membuatku tahu bahwa ternyata Azka sudah hobby masak sejak SMP. "Ingat, tapi Mama sedang gak adakan? Udah kakak pasti lapar, dan sebaiknya kita makan sekarang." Azka mulai makan dengan lahap, aku mulai heran sejak kapan Azka suka wortel? Bukankah selama ini dia selalu menghindari wortel. Makan malam yang benar-benar nikmat, menu yang sederhana tapi rasanya sangat lezat. "Ini benar-benar enak," celetukku membuat Azka tersenyum bangga. Apa kabar pesanan kak Vania? Sampai jam 10 tak juga datang, mungkin makanan itu tidak akan pernah sampai ke sini, biarlah karena kami pun kini sudah teramat kenyang. *** Aku menyisir rambutku yang tergerai panjang saat telah tiba di kamar, menatap cermin dan melihat diriku sendiri, kupandangi wajah ini yang berkulit putih dan pipiku yang aku rasa sedikit berisi. Semenjak tinggal di rumah Azka Mama selalu masak makanan yang membuat selera makanku bertambah. Sekarang aku baru tahu bahwa Azka ternyata juga jago masak. Aku tak heran jika ia pandai memasak mungkin ia mendapatkan bakat itu dari Mama. Kini Azka duduk di sofa memilih chanel TV yang tak jelas, sejak tadi ia memainkan remot dan hanya dipindah-pindah saja. "Kania, duduklah di sini," pinta Azka. Aku mendekat ke arah Azka, duduk di sampingnya dan menatap layar televisi. Hening, sepi, canggung. Ada apa dengan suasana aneh ini? Kami adalah sahabat dekat yang selalu heboh tapi saat ini kami bagaikan dua manusia asing yang baru saja bertemu. "Kamu ternyata pintar memasak, wah ... aku akan sering gak memasak nantinya." Aku mencoba memecah kesunyian ini. "Selama Mama belum pulang, aku akan memasak untukmu," uapnya semangat sambil menghadapku. Azka memandangku dan memperlihatkan senyuman manisnya. Lagi-lagi aku merasakan perasaan yang aneh ketika melihat senyuman Azka. "Ada apa dengan Mama? Harusnya Mama bangga dengan bakatmu?" Aku merasa heran, Azka jago memasak tapi mama malah melarangnya untuk memasak, mungkin saja suatu hari nanti Azka bisa jadi chef terkenal, seperti Chef Juna, misalkan. "Mama terlalu menyayangiku, dulu saat aku SMP aku pernah terkena pisau waktu memasak, pisau yang aku gunakan itu ternyata terlalu tajam, aku terluka cukup dalam darah yang terus mengalir membuat Mama panik, dan pada akhirnya aku harus memerima beberapa jahitan ditangan. Setelah kejadian itu Mama melarangku memasak, tapi aku tetap memasak jika Mamaa sedang tak ada dirumah, seperti hari ini," jelas Azka padaku. "Uuuhh ... anak Mama." Kucubit kedua pipi Azka dengan gemas tak kuduga Azka menarik tanganku hingga aku terjatuh diatas badannya yang kini terbaring di sofa. Perasaan aneh ini lagi, seakan-akan menyelusup ke dalam hati, perlahan-lahan memberikan rasa hangat kesekujur tubuh. Mata Azka memandangku hangat, tangan kanannya membenahi rambutku yang jatuh tepat menutup wajah, menyelipkan rambut itu ke belakang telinga. Rasa ini adalah rasa yang selalu membuat hatiku merasa nyaman saat berada di sampingnya. Apakah ini cinta? Azka memandangku, aku tahu tatapan ini sangat berbeda dari biasanya. Dengan cepat aku menghindari tatapan mata Azka. Aku berusaha bangun dari atas tubuh Azka saat ini, tapi laki-laki berdada bidang itu segera menarik dan menahan tubuhku dengan erat. "Sebentar saja, biarkan aku memelukmu." Azka mengatakan itu sambil memejamkan matanya. Aku harus bagaimana? Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN