"Karin, Karin, Karin ...." Aku setengah berteriak sambil menepuk-nepuk pelan pipi Karin.
"Azka! Ibu!" teriakku sekuat tenaga membuat Azka dan Ibu berlari ke kamar Karin.
Aku mondar-mandir di rumah pikiranku tidak tenang, ibu dan Azka membawa Karin pergi ke dokter praktek. Tapi sampai sekarang belum ada kabar dari Azka ataupun ibu. Ponselku berbunyi panggilan masuk dari Azka.
"Hallo, Azka. Karin gimana? Ada apa dengan dia?" tanyaku tanpa memperdulikan Azka ingin berbicara.
"Karin gak papa Kania, dia hanya pingsan karena kelelahan dan stres akibat tertekan. Mungkin Karin tertekan karena sebentar lagi memasuki ulangan semester."
Panggilanpun terputus. Aku tahu bukan karena ulangan sekolah saja yang membuat Karin tertekan pasti karena hubunganku dan Azka kini juga membuat ia semakin tertekan.
***
Aku menemani Karin di kamar saat ibu selesai menyuapi dan memberi obat pada Karin. Kini karena hanya ada aku dan Karin di dalam kamar maka akan aku tanyakan semua yang ada di benakku pada Karin.
"Karin, apa kamu tertekan karena rasa cintamu pada Azka? Mba janji gak akan mencintai Azka Karin." Aku memandang wajah adik perempuanku begitu pucat, matanya sayu.
"Mba, kak Azka itu suami mba sekarang. Aku hanya butuh waktu aja mba. Setiap aku melihat kedekatan kalian hatiku rasanya sakit mba." Karin meraih tanganku.
Aku tahu perasaan Karin, wanita mana yang bisa kuat melihat lelaki yang ia cintai dekat dengan wanita lain.
"Maafin Mba, Karin, Mba juga gak tahu kenapa hidup ini seperti mempermainkan Mba." Air mataku kembali menetes.
Karin meraih tanganku dan menggegamnya seakan-akan ingin memberi kekuatan untukku.
"Mba gak perlu meminta maaf. Ini sudah takdir dari Allah Mba. Karin hanya butuh waktu. Hanya itu, dan mba harus tetap jaga rahasia Karin ya, bahwa Karin pernah mencintai kak Azka." Pinta Karin padaku.
Permintaan yang pasti telah ia putuskan dengan sangat menguatkan hatinya. Aku hanya bisa mengangguk perlahan. Adikku kini telah tumbuh dengan dewasa kupeluk Karin erat. Malam ini aku putuskan untuk meminta Azka membawaku pergi dari rumah ini secepatnya. Aku tahu ini berat buat Karin. Semakin dia melihat kami maka dia akan semakin terluka. Azka berbaring di sampingku, di tengah tempat tidur ada guling yang membatasi kami seperti malam sebelumnya. Aku mulai mencoba membuka pembicaraan.
"Azka, bisakah kita tidak tinggal lagi di rumah orang tuaku?" Aku ragu, tapi aku harus melakukan ini, bukankah ia telah bilang bahwa saat ini aku adalah tanggung jawabnya.
"Kenapa? Ada masalah apa?" Azka heran mendadak aku berbicara seperti itu.
Aku tahu itu dari kerutan di dahinya. Mata Azka memperhatikan bola mataku, seolah mencari kejujuran di sana.
"Gak ada apa apa. Aku hanya ...." Aku berpikir sejenak.
"Hanya apa?" tanya Azka lagi.
"Hanya saja ... mau sampai kapan kita tinggal di rumah orang tuaku? Bukankah kamu bilang aku adalah tanggung jawabmu, jadi bawalah aku kemanapun kamu pergi." Azka semakin mengerenyitkan dahinya, memandangku heran.
Seolah-olah alasanku ini mengada-ada, tapi aku tak tahu harus berkata apa agar Azka menuruti keinginanku. Aku tak mau Karin semakin terluka setiap harinya nanti.
Lama kami terdiam, hening tak ada suara. Hanya suara jangkrik yang ramai di luar rumah saling bersahut-sahutan.
"Kalau tinggal di rumah orang tuaku sampai aku memiliki uang untuk menyewa rumah. Gimana menurutmu?" Azka membalikan badan dan melihatku.
"Boleh kalau gitu besok kita pindah." Aku langsung menyetujui usulan Azka.
Yang terpenting Karin tak melihat aku dan Azka di rumah ini setiap harinya.
***
Pagi ini setelah semua telah selesai sarapan aku dan Azka mengatakan pada Ibu dan Ayah bahwa sore ini kami akan pindah ke rumah orang tua Azka.
"Pindah?" Ibu terkejut dan menatapku heran, seakan-akan tak rela jika aku pindah dari rumah ini.
"Iya Bu, sekarangkan Kania sudah menjadi seorang istri jadi Kania wajib ikut kemanapun suami Kania pergi 'kan?" Aku memegang tangan Azka yang duduk di sebelahku.
Sok romatis. Agar ibu percaya padaku.
"Tapikan baru dua malam Azka di rumah ini. Ibu gak keberatan Azka mau tinggal selamanya juga di rumah ini. Ya 'kan Pak?" Ibu meminta bantuan Ayah untuk mencegah keinginanku.
"Bu, Kania 'kan sudah menikah. Sekarang Kania tanggung jawabnya Azka, Bu. Bukan kita lagi. Kania benar dia wajib ikut kemanapun suaminya pergi."
Yes, Ayah mendukung keputusanku!
"Iya Bu, Kania janji akan sering main kerumah Ibu, kok. Iya 'kan, Azka?" kataku sambil tersenyum menatap Azka.
"Iya Bu, Azka janji akan sering datang dan main ke rumah Ibu." Azka membantu meyakinkan Ibu.
"Azka, apa kamu gak suka tinggal di sini? Apa Ibu ada salah sama kamu sampai kamu mau pindah dari rumah ini?" Ibu menanyai Azka. yang langsung cepat dijawab oleh Azka,
"Enggak bu, Azka suka dan nyaman tinggal di sini. Ibu gak ada salah apa-apa, hanya saja untuk sementara Azka ingin tinggal di rumah Mama Bu. Nanti bisa gantian 'kan, seminggu di rumah Mama, seminggu di rumah Ibu." Azka mendekati ibu untuk meyakinkan ibu.
Akhirnya setelah perjuangan panjang ibu mengizinkan kami pindah sore ini kerumah orang tua Azka. Ayah lalu mengajak Azka ke taman belakang untuk mengobrol berdua dengan Azka.
***
Azka dan aku kini telah sampai di rumah Mama, Mama menyambut kedatangan kami yang mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Mama memeluk Azka dan diriku dengan gembira, lalu menyuruh kami beristirahat di dalam kamar. Entah mengapa saat Mama bicara tentang kamar, muka Azka berubah panik.
"Kania...!" teriak Azka memanggilku, tapi terlambat untuknya karena aku kini telah berada di dalam kamarnya saat ini.
Aku benar-benar syok melihat kondisi kamar Azka, ini buka berantakan lagi, tapi ini gak layak disebut kamar. Semua barang-barang Azka tak ada di tempat semestinya. Bahkan, celana dalamnya pun masih ada di lantai tapi aku pura-pura tidak melihatnya. Azka perlahan menginjak celana dalamnya, aku hanya tertawa dalam hatiku.
"Kenapa?" Aku bertanya pada Azka yang masih berdiri di tempat.
"Gak papa," jawabnya cepat. Lalu saat aku mengalihkan pandangan, Azka secepat mungkin menuju ke kamar mandinya.
"Azka, ini sebenarnya kamar atau tempat sampah sih? Aroma keringat menyengat, pakaianmu ada di mana-mana, buku-buku itu berserakan di atas tempat tidur. Gimana aku mau istirahat?" Aku kesal melihat kamar Azka seperti ini.
"Hehehe, 'kan kamu yang minta tinggal di sini. Kalau gitu tolong dong bersihkan!" Azka keluar dari dalam kamar mandi dengan muka yang terlihat lega, mungkin ia telah berhasil mengamankan celana dalamnya itu di sana.
Aku memilih menaruh koper dan tasku di sudut kamar yang terlihat agak bersih. Lalu mencoba membuang barang yang tidak perlu ke dalam bak sampah, dan menyusun barang-barang Azka yang lain.
Namun, saat aku meraih buku dari bawah tempat tidur tiba-tiba kecoa juga ikut ke luar dari sana, aku berteriak histeris naik ke atas tempat tidur. Azka yang tengah berdiri di depan pintu kamar mandi terheran melihatku.
"Azka....!" Suara teriakanku membuat Azka mendekat ke arahku.
"Ada apa sih Kania?" Azka memandangku yang sudah berada di atas tempat tidur, aku menunjuk ke bawah tempat tidur sambil menahan rasa takut dan geli, tetapi sepertinya Azka tak melihat apapun di sana.
"Apa sih, Kania?" tanya Azka sambil menggaruk kepalanya.
"Itu kamu gak lihat, aku geli tau gak. Kamu ini kalau punya kamar yang bersih dan rapi coba, masak sampai kecoak aja senang tinggal di kamarmu." Aku menunjuk kecoak kecil yang berjalan ke arah kaki Azka, tapi Azka malah iseng dengan sengaja mengambil kecoak itu untuk ia dekatkan padaku.
"Azka. Jangan coba-coba dekatin aku ya!" Ancamku, sambil memasang badan waspada terhadap tindakan Azka.
"Sama ini aja kamu takut, nih ...." Azka benar-benar medekatkan kecoak itu kearahku karena aku panik aku menjadi melompat-lompat diatas tempat tidur beberapa kali sebelum akhirnya aku turun dari sana.
Azka sepertinya suka sekali menakutiku, mengejarku dengan kecoak yang masih ada di tangannya, aku semakin histeris dan berlari menuju sudut tempat tidur, justru malah membuatku terpojok. Saat Azka hendak lebih mendekat ke arahku ia tak sengaja terpleset kaset DVD yang berserakan di lantai, alhasil kecoak itu terlepas dan kini aku puas memukulinya dengan guling yang aku raih dari atas tempat tidur. Azka terduduk di lantai, tangannya berusaha melindungi muka dan kepalanya, tapi aku tak ada belas kasihan padanya terus saja memukulnya sekuat tenagaku.
Buuug ... Bagh ... Bugh ....!
Aku berhenti memukuli Azka, saat aku telah lelah, Azka tiba-tiba menarik tanganku hingga aku terjatuh di atas tubuhnya, kami saling memandang, lagi-lagi aku merasakan perasaan hangat di dalam hati ini. Lama mata kami saling bertemu. Tak dapat lagi kuhindari perasaan aneh menyelusup di dalam hatiku. Detak jantungku berdegub kencang sehingga memompa darah keseluruh tubuh dengan cepat membuat muka ini terasa panas, atau bahkan mungkin saat ini terlihat memerah.
Aku masih diam mematung diatas badan Azka, tak pernah ku bayangkan sebelumnya sahabatku sekarang telah menjadi suamiku.
Azka mendekatkan wajahnya padaku, embusan nafasnya terasa hangat menyentuh kulit wajahku, Azka mulai menyentuh tengkuk leherku dan menariknya perlahan hingga wajahku semakin mendekat padanya.
Jantungku benar-benar berdetak tak beraturan saat ini mungkinkah Azka dapat mendengar suara detaknya?
Bersambung.