"Ini kesempatan terakhirmu untuk bersama Azka, Kania. Ingat itu!" Mama memperingatkan aku sekali lagi. *** Aku mencoba memejamkan mata, duduk di kursi tepat di samping Azka. Melihatnya berbaring dan tak sadarkan diri seperti saat ini, membuatku begitu merasa bersalah. Entah pukul berapa aku tertidur, tetapi saat ini aku terbangun karena merasakan ada usapan lembut di kepalaku. Aku mengangkat kepala perlahan dan melihat ke arah Azka, melihat sahabatku itu tengah tersenyum memandangku. "Azka, syukurlah," ucapku begitu saja. Aku langsung memeluk Azka dan menangis di dalam dekapan d**a bidangnya. "Kania, sudahlah aku tak apa-apa," ucap Azka membuatku melepaskan pelukan darinya. Aku segera memanggil dokter saat jyu juga, seorang dokter wanita dan dua perawat pun tak lama masuk untuk m

