"Guru rapat, ayo." "Kak," tahan Prilly membuat langkah Ali berhenti. "Hem? Lo nolak ikut gua?" "Bukan, bukan. Aku minta tolong, jangan laporin Kak Shinta sama guru ya, Kak." "Lo ikut gua aja dulu." "Aku mohon, Kak. Aku sudah memaafkan dia." "Bahas ini nanti, bisa?" Prilly mengangguk pelan. Dan Ali merangkulnya dari samping. "Kok banyak orang, Kak?" Prilly merasa semua siswa dan siswi melihat ke arah mereka berdua. Ali membimbing Prilly untuk naik ke podium tiang bendera. "Kita mau apa sih, Kak?" Prilly semakin heran karena semua murid justru berkerumun di sana. Sepertinya memang sengaja dikumpulkan oleh Ali. "Mulai sekarang cewek di samping gua adalah pacar gua. Kalo masih ada yang berani nyakitin dia, lo semua berurusan sama gua." Prilly sedikit meleleh saat Ali dengan banggan

