Beberapa jam kemudian, kini hari pun sudah menjelang siang, setelah selesai salat zuhur, Cindy merasa ada seseorang yang sedang mengikutinya, entah itu hanya perasaannya saja atau memang benar begitu adanya. Terus berjalan berusaha untuk tetap tenang tanpa berkata-kata, berwaspada memang harus tetapi bersikap anarkis tidak boleh terjadi, bagaimanapun juga Cindy dulunya bukan wanita biasa seperti sekarang, melainkan seorang polwan yang tak pernah merasa takut sebelumnya. Pada saat kedua matanya melihat Leti ternyata masih ada di depan pintu ruangannya Cakra, membuatnya lebih tenang karena masih ada yang menemani, belum berani menoleh ke belakang. “Cin, kamu kenapa? Udah, kan, salat nya?” tanya Leti. “Hmm.” “Hei? Ada apa? Kamu ketakutan lagi? Ini di rumah sakit mana mungkin kalau ....”

