PERCOBAAN MELENYAPKAN NISA

1201 Kata
"NISA AWAS!" Bruuk Haris menarik Nisa ke pinggir jalan hingga keduanya terjatuh ke aspal. Untunglah lelaki itu bisa melihat ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arah istrinya, hingga dia bisa dengan cepat membawa Nisa menghindar. "Kamu tidak apa-apa Nisa?" tanya Haris saat melihat Nisa masih di atas dadanya sambil terpejam. Haris bisa merasakan nafas Nisa tak beraturan. Mungkin istrinya kini masih syok. "Nisa." Haris menepuk pelan pipi Nisa. Perlahan Nisa membuka matanya yang telah memerah. Ia bersitatap dengan Sang Suami untuk beberapa saat. Nisa bisa merasakan detak jantung Haris yang begitu kencang. Sama dengan detak jantungnya. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Haris lagi. Nisa tersadar. Ia segera bangkit dari tubuh Sang Suami. Tangannya terulur untuk membantu Haris berdiri. Dan dengan senang hati, lelaki itu menerimanya. "Terima kasih," ucap Haris tersenyum manis. "Mas Haris tidak apa-apa?" tanya Nisa memastikan. Pasalnya mereka terjatuh cukup keras, dan posisi Haris berada di bawah menahan tubuhnya. "Saya tidak apa-apa. Kamu tidak terluka, kan?" Haris mengecek istrinya dari atas sampai bawah. "Saya baik-baik saja Mas," ujar Nisa. "Syukurlah." Haris bernafas lega. "Lain kali tolong hati-hati." "Baik Mas. Maaf," sesal Nisa. "Tidak apa-apa. Saya tahu perasaan kamu sangat hancur tadi. Tapi lain kali tolong jangan tinggalkan saya lagi ya. Saya juga pasti akan membawa kamu pergi. Saya tidak ikhlas hatimu di sakiti oleh mulut jahat mereka," ucap Haris dengan tulus. Nisa bisa menangkap ketulusan dari sorot mata Haris. Perasaannya menghangat. Bibirnya tertarik membentuk senyuman yang indah. Namun lagi-lagi Nisa menepis segala yang ada di pikirannya. 'Gak boleh baper Nisa! Ingat!' rutuknya dalam hati. "Kenapa?" tanya Haris saat melihat senyuman di bibir istrinya tiba-tiba menghilang. Nisa menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak. Bisakah kita pulang sekarang Mas? Saya ingin istirahat." "Oh baik. Mari kita pulang sekarang." Haris membimbing Nisa untuk berjalan kembali ke parkiran Mall. Sebelah tangannya merangkul pundak Sang Istri. Sedangkan satu tangan lagi ia gunakan untuk menenteng beberapa paperbag berisi pakaian Nisa. "Mas nanti ada yang lihat," bisik Nisa. Dia sedikit tidak nyaman dengan perlakuan Haris. Bukan, bukan dia tak mau berdekatan dengan Sang Suami. Hanya saja mereka kini sedang berada di tempat umum. Nisa tak mau kejadian di dalam Mall seperti tadi terjadi lagi. "Tidak apa-apa," ucap Haris santai tanpa menurunkan tangannya dari pundak Nisa. "Neng Nisa!" Nisa terperanjat saat ada seseorang yang memanggilnya. Dia menatap ke depan. Terdapat seorang lelaki yang sangat ia kenal. "Neng," sapa Imam yang menghampiri sambil tersenyum. Tapi sesaat kemudian senyumnya memudar ketika melihat seorang pria berjas di samping Nisa sambil merangkulkan tangannya. "Ini siapa Neng?" tanya Imam agak ketus. Nisa melirik ke arah Haris. Dia bingung harus menjawab apa. Haris yang peka pun segera mencoba mengalihkan topik pembicaraan. "Emh ... kalian berdua saling kenal?" tanya Haris ramah sambil melirik Nisa dan Imam bergantian. "Mas, dia Kang Imam," beritahu Nisa. Raut wajah ramah Haris berubah menjadi datar. Nisa dapat merasakan aura dingin dari wajah suaminya. "Oh. Apa kamu ingin berbicara dengannya lebih dulu? Saya akan tunggu kamu di mobil saja," tanya Haris. Dia menurunkan tangannya dari pundak Nisa. Lalu memutar badanya hendak berjalan. "Tunggu Mas," cegah Nisa. Haris kembali berbalik. "Ada apa?" tanyanya. "Tidak ada yang perlu di bicarakan di antara kami. Saya akan pulang saja," ujarnya yang membuat Haris langsung tersenyum senang. Ternyata istrinya ini benar-benar telah melupakan Imam. "Baiklah. Mari." Haris menggenggam tangan Nisa sambil memberikan senyuman yang indah. "Maaf Kang Imam. Saya harus pergi. Permisi," pamit Nisa. Keduanya pun berjalan menuju tempat dimana mobil Haris terparkir. Lelaki itu sama sekali tak melepaskan genggaman tangannya. Sedangkan di posisi Imam, ia hanya bisa menatap punggung Nisa dengan sendu. Wanita yang selalu menjadi dambaan hatinya sejak dulu, kini telah bersuami. "Benar apa yang kamu bilang tempo hari Neng. Kamu teh sudah menikah. Tapi kenapa kamu malah menikah dengan dia?" gumam Imam dengan perasaan sesak. *** "Pak ikuti mobil yang itu ya," pinta Imam pada Sang Sopir. Lelaki itu memberhentikan Taksi di pinggir jalan untuk membututi mobil Haris. Ia masih penasaran dengan lelaki yang telah merebut posisinya itu. "Saya teh harus tetap pantau Neng Nisa. Siapa tahu suaminya itu lelaki yang tidak baik," gumamnya pelan. Tanpa sadar lelaki itu telah bersuudzon. Dia tak menyadarinya karena tengah di selimuti berbagai praduga tentang pernikahan sang pujaan hati. Padahal selama ini, Imam adalah lelaki shaleh yang sering memberikan nasihat pada jama'ahnya untuk selalu berprasangka baik terhadap sesama. 30 menit berlalu. Mobil Haris telah berhenti di depan sebuah rumah megah. Imam juga sudah menyuruh sopir taksi untuk berhenti dengan jarak beberapa meter dari rumah Haris. "Sudah pasti suaminya Neng Nisa teh orang kaya," gumamnya. Nisa dan Haris melangkahkan kakinya memasuki rumah. Rumahnya terlihat sepi. Biasanya jika mereka pulang bekerja, Fara selalu menyambut dari ruang TV. "Tuan sudah pulang," sapa Bi Darsih yang muncul dari arah dapur. "Iya bi. Kemana Fara? Tumben gak ada disini." "Oh itu Nyonya Fara tadi pergi ke rumah Nyonya Dian Tuan. Katanya mau menginap disana," beritahu Bi Darsih. Alis Haris mengernyit. "Kenapa Fara tidak memberitahu saya?" "Anu Tuan. Kata Nyonya tadi sudah berusaha menghubungi Tuan. Tapi tidak di angkat." Haris segera merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel dari sana. Dia melihat banyak panggilan tak terjawab dari istri pertamanya. "Ternyata Fara telpon banyak sekali. Saya tidak sadar ada telpon masuk." Nisa mendongak menatap Haris. "Nanti Mas Haris susul Mbak Fara kesana ya. Kasian dia," pintanya. "Saya akan telpon dulu nanti. Entah ada apa tiba-tiba Fara pergi kesana." Nisa pun akhirnya pamit untuk lebih dulu menuju kamarnya. Dia sangat lelah. Begitu banyak hal tak terduga yang terjadi hari ini. Nisa perlu mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Sedangkan di tempat yang bebeda, Fara tengah berhadapan dengan Yunita-Adik kandungnya. Entah pantas atau tidak predikat adik kandung di sematkan pada seorang Ayunita Maharani. Perempuan licik yang selalu berusaha untuk merebut suaminya sejak dulu. Bahkan hingga sekarang Yunita tak mau menikah dengan pria manapun. Ia selalu berkata akan menikah dengan Haris setelah membuat Fara mati. "Katakan apa yang kamu mau! Jangan basa-basi!" ucap Fara dengan tegas. Sekalipun dalam keadaan lumpuh dan lemah, ia sama sekali tak akan takut dengan perempuan licik seperti adiknya ini. "Tenang dulu lah kak. Lebih baik kamu nikmati dulu pemandangan di hp mu itu. Mas Haris dengan madumu," ucapnya sambil tersenyum miring. Fara mengepalkan tangannya. Bukan karena foto Haris dan Nisa yang di kirimkan ke ponselnya, namun karena Yunita berkata dia hampir berhasil melenyapkan Nisa. Sungguh dalam hati kecilnya Fara lebih menyayangi gadis baik seperti Nisa dari pada wanita licik seperti Yunita. "Cepat katakan apa mau mu Yunita!" Suara Fara mulai meninggi. "Shutt." Yunita mengangkat jari telunjuknya di depan bibir Sang Kakak. "Gak usah teriak-teriak lah kak. Santai aja, aku gak akan meminta yang aneh-aneh kok." "Aku cuma mau kamu dan wanita kampung itu mati dengan segera," bisiknya tepat di telinga Fara. "Jangan sekalipun kamu berani menyentuh dia," desis Fara tetap tatapan tajamnya. "Wow kamu terlihat lebih sayang wanita kampung itu dari pada adikmu sendiri kak." "Jelas. Karena kamu bahkan tak pantas untuk di sebut sebagai adikku!" "Aku bisa saja melenyapkan kalian berdua secara bersamaan. Tapi sampai saat ini, aku masih berbaik hati untuk tidak mengusikmu. Aku akan melenyapkan madumu terlebih dahulu," ucap Yunita penuh penekanan. "Jangan macam-macam kamu Yunita!" bentak Fara yang sudah tak bisa menahan emosi di dadanya. "Haha." Yunita tertawa keras. Dia senang melihat kakanya mulai tersulut emosi. "Kalau begitu buat aku menggantikan posisi madumu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN