CIBIRAN PARA MANUSIA

1188 Kata
Hari mulai sore. Saatnya semua aktivitas pekerjaan di PT Wiyatama Group berakhir untuk hari ini. Para karyawan beserta staff dan para petinggi satu per satu telah meninggalkan gedung yang menjulang tinggi itu. Nisa sedikit terlambat sore ini. Banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan. Sebenarnya Cici telah menawarkan diri untuk mengerjakannya sama-sama, namun Nisa menolak. Ia cukup sadar diri sejak siang tadi terlalu banyak bersantai di ruangan Sang Suami. Ya, meskipun hanya untuk makan siang. Tapi karena itu, semua tugas tadi siang hanya di kerjakan oleh Cici dan Jamal saja. Jelas Nisa merasa tak enak pada keduanya. "Saya duluan Pak. Mari," pamit Nisa saat melewati 2 security yang berjaga. "Nggeh monggo," balas salah satu security dengan logat jawa nya. Nisa meneruskan langkahnya menuju halte bus. Bukan dia akan menaiki bus. Nisa hanya akan menunggu taksi online pesanannya sambil duduk di sana. Nisa duduk pada bangku halte sambil menyenderkan kepalanya pada tiang. Matanya sedikit terpejam. Ia merasa lelah seharian ini. Entah apa penyebabnya. Padahal setiap pekerjaan di kantor selalu di kerjakan bersama, pun hari ini ia hanya banyak bekerja di sore hari saja. "Apa aku gampang lelah karena stres ya," gumamnya pelan dengan mata terpejam. Nisa pernah mendengar stres juga akan berakibat pada kesehatan tubuh kita. Mungkin yang ia alami sekarang juga merupakan bagian dari itu . Dengan berbagai cobaan yang menimpanya, apa dia tak akan merasa stres? Nisa tak sekuat itu! Tring! Ponsel Nisa berbunyi. Gegas ia membukannya. Dan begitu kesalnya Nisa saat mengetahui bahwa driver taksi yang ia pesan membatalkan orderan nya secara tiba-tiba. "Padahal tadi udah jalan. Kok tiba-tiba di cancel sih," gerutu Nisa. Perempuan itu sudah ingin mengistirahatkan diri dan pikirannya. Namun kenyataan membuatnya harus lebih lama disini. Nisa dengan segera mencari driver lain agar dia bisa pulang secepatnya. Tin! Tin! Tin! Bunyi klakson mobil benar-benar menganggu Nisa. Ia simpan ponsel di genggamannya dalam tas. Tatapan nya beralih pada sebuh mobil yang sedari tadi mengusik ketenangannya. "Kayak mobil Mas Haris," gumam Nisa saat melihat mobil di depannya begitu ia kenali. Kaca mobil dibuka. Terlihatlah wajah tampan Haris yang tengah menatap ke arahnya. "Ayo masuk Nisa," seru Haris. Nisa menggeleng pelan. "Aku naik taksi saja. Mas Haris pulanglah duluan," tolaknya. "Tidak. Kamu harus pulang dengan saya," putus Haris sembari mendekatkan wajahnya pada jendela mobil. "Tidak usah Mas. Saya sudah pesan taksi," kilah Nisa. Padahal ia belum sempat memesan taksinya kembali. "Di cancel saja. Kalau perlu nanti saya akan berikan uang ganti pada driver nya," ujar Haris. "Tidak Mas. Saya akan tetap menunggu taksi pesanan saya," putus Nisa keras kepala. Haris menghembuskan nafas kasar. "Nisa, apakah baik jika seorang istri membantah suaminya?" tanya Haris dengan nada serius. Nisa langsung terdiam. Ia tahu itu salah. Tak di perbolehkan seorang istri membantah pada suaminya, selama perintah Sang Suami tak bertentangan dengan syari'at. Namun untuk saat ini Nisa hanya ingin menjaga jarak dengan Haris sebentar saja. "Nisa," panggil Haris yang membuyarkan lamunan Nisa. Nisa menoleh. Di pandangnya Sang Suami lamat-lamat. Ada keraguan di hatinya untuk ikut bersama Haris. Sungguh, dia hanya ingin seorang diri saat ini. Haris jadi kesal sendiri melihat istrinya yang hanya terdiam. Dia keluar dari mobil dan segera mengahampiri Nisa. "M-mas Haris kenapa turun?" tanya Nisa heran. Tanpa menjawab apapun, Haris langsung mengangkat tubuh Nisa ala bridal. Nisa yang di perlakukan seperti itu pun jelas kaget luar biasa. Dengan reflex ia mengalungkan tangan pada leher Sang Suami. "Mas nanti ada yang lihat," ucap Nisa agak takut. Ia takut akan ada yang memata-matainya lagi seperti tempo hari. "Diam! Ini hukuman karena kamu tidak menurut," ujar Haris pelan namun membuat bulu kuduk Nisa berdiri seketika. Haris membukakan pintu samping kemudi. Setelahnya ia mendudukkan Nisa disana. Tak lupa dia juga memasangkan safetybelt agar tubuh Sang Istri aman. "Mas aku sudah bilang---" "Sudah Nisa! Sekarang duduklah dengan tenang," potong Haris dengan cepat. Nisa mendengus kesal. Ia palingkan wajahnya pada jendela. Melihat ramainya jalan ibu kota di jam pulang kerja. Huh, sepertinya Nisa tak akan bisa menenangkan diri saat ini. *** "Mas, kenapa kita kesini?" tanya Nisa ketika Haris memberhentikan mobilnya di pusat berbelanjaan. "Saya akan membeli sesuatu," jawab Haris sambil membuka safetybeltnya. Ternyata suaminya ini akan mencari sesuatu, pikir Nisa. Ia santai saja menyenderkan kepalanya pada kursi. Wanita itu malah berniat untuk menunggu di dalam mobil. Dia terlalu malas untuk keluar. Lebih baik duduk disini bukan? Nisa jadi bisa beristirahat walaupun hanya sebentar. "Kenapa kamu diam saja Nisa?" tanya Haris yang hendak turun dari mobilnya. "Maksudnya?" Haris berdecak kesal. Bisa-bisanya istrinya ini malah bersantai. "Ck, ayo turun. Ikut saya ke dalam," seru Haris. "Saya tunggu disini saja Mas," tolak Nisa. Haris cepat-cepat menggeleng. Jika Nisa tak ikut ke dalam, bagaimana ia bisa berbelanja? Ya, seorang Haris Ivander Wiyatama sengaja datang kesini hanya untuk membelikan istrinya sedikit hadiah. "Pokoknya kamu harus ikut. Ini perintah Nisa!" ucap Haris yang tak mau di bantah. Nisa menghembuskan nafas kasar. Niatnya untuk istirahat tidak akan terjadi saat ini. Dia tak bisa menolak lagi. Dan pada akhirnya Nisa tetap mengikuti Haris turun dari mobil. Ia mengekori Sang Suami dari belakang sambil tertunduk. "Mas, apa tidak bahaya kita berdua begini?" tanya Nisa pelan pada Haris yang berjalan di depannya. "Tidak. Kamu tenang saja," jawab Haris. Mereka terus melangkahkan kaki hingga sampailah di sebuah gerai busana muslim yang cukup terkenal disana. "Mas mau beli pakaian?" tanya Nisa. "Iya. Sana kamu pilih," pinta Haris. "Kok saya yang pilih?" tanya Nisa bingung. "Saya akan membeli pakaian untuk istri saya. Jadi silahkan kamu pilih. Yang mana saja bebas," ujar Haris agak berbisik. "Oh Mas Haris mau belikan untuk Mbak Fara? Bilang dari tadi dong." Nisa manggut-manggut. "Tapi Mbak Fara sukanya yang seperti apa Mas?" tanya Nisa. Dia tak tahu bagaimana model dan warna pakaian yang disukai Fara. Lagi pula selama ini perempuan itu tak pernah memakai gamis. Ia tak tahu gamis seperti apa yang cocok dengan Fara. "Cari saja selera kamu. Karena saya akan membelikan kamu, bukan Fara," ucap Haris pelan. Nisa terdiam. Apakah dia tak salah dengar? "K-kenapa untuk saya Mas? Pakaian yang saya miliki masih cukup." "Saya hanya ingin memberikan hadiah untuk kamu. Apakah salah?" tanya Haris dengan santai. Nisa salah tingkah sendiri. Pipinya terlihat merona. Haris bisa semanis ini? Seakan tersadar, Nisa dengan cepat mengusir apa yang ada dalam pikirannya. 'Kamu gak boleh baper Nisa. Ingat! Mas Haris bukan punya kamu!' peringat Nisa dalam hati. "Kenapa diam? Cepat pilih yang kamu mau. Saya akan temani dari belakang," seru Haris. Nisa akhirnya menurut dan berjalan ke arah jejeran berbagai model gamis. Nisa agak canggung karena ini adalah kali pertama ia berbelanja di temani Sang Suami. Pun dia takut ada yang melihat kebersamaannya dengan Haris saat ini. Setelah memilih 3 model gamis beserta khimar dengan warna senada, Nisa berjalan menghampiri Haris yang duduk di sofa tunggu. "Saya sudah selesai Mas," beritahu Nisa pada Sang Suami. Haris menoleh. Dia mengernyit bingung saat melihat istrinya hanya membawa 3 setel gamis saja. "Kenapa hanya sedikit?" tanyanya. "Ini sudah banyak Mas. Untuk apa juga terlalu banyak," jawab Nisa. "Tolong ambilkan beberapa setel gamis dan setelan yang memakai rok. Ukurannya seperti dia," pinta Haris pada pelayan gerai tersebut. "Untuk apa lagi Mas?" tanya Nisa bingung. "Untuk kamu. Yang kamu pegang hanya 3 Nisa. Itu sangat sedikit." "Tapi---" "Sudah. Jangan selalu membantah saya, bisa?" "B-baiklah." Pelayan gerai tersebut kembali dengan membawa masing-masing 5 gamis dan 5 setelan tunik+rok di tangan kanan dan kirinya. Lengkap dengan hijab pashmina warna senada. Nisa melongo melihatnya. Total dengan yang dia pegang menjadi 13 setel. Untuk apa pakaian sebanyak ini? Namun Nisa ingat bahwa ia tak bisa menolak lagi. Sedangkan dari arah lain, sepasang mata sejak tadi terus mengikuti mereka. Mengamati setiap pergerakan keduanya dari jarak jauh. Wanita itu mengepalkan kedua tangan di samping tubuhnya. Matanya menajam. Ia menoleh pada sekeliling dan menemukan sekelompok ibu-ibu yang tengah memilih barang. "Bu saya minta tolong dong. Boleh?" tanya Ayunita saat menghampiri sekelompok orang itu. "Minta tolong apa mbak?" "Ibu-ibu bisa lihat wanita yang berdiri disana?" tanyanya sambil menunjuk ke arah Nisa yang berdiri di belakang Haris. "Iya. Saya lihat. Terus kenapa mbak?" "Dia itu pelakor bu. Tolong kasih sedikit pelajaran sama dia bu. Sudah banyak yang menjadi korban dia. Saya yakin laki-laki yang bersamanya sekarang juga suami orang," ujar Ayunita sambil berdrama. Ibu-ibu tersebut pun seketika geram. "Mbak tenang saja kita akan kasih pelajaran sama dia. Pelakor gak boleh di biarin gitu aja!" Haris yang telah selesai dengan pembayaranya pun segera mengajak Nisa untuk keluar dari gerai tersebut. Namun tiba-tiba saja segerombolan wanita menghadang jalan mereka. "Heh gak malu kamu rebut suami orang?" hardik salah satu dari mereka. "Maksud ibu-ibu ini apa ya?" tanya Haris tak suka. "Heh Mas! Harusnya Mas itu di rumah sama istrinya. Ini malah jalan sama pelakor." "Betul itu. Mana pelakornya so shalehah lagi. Pasti buat nutupin kebusukannya, kan?" "Harusnya kamu itu sadar diri! Jangan suka merusak rumah tangga orang!" Tangan Nisa mengepal kuat. Matanya memanas. Apa katanya? Pelakor? Nisa akui dia adalah istri kedua. Tapi dia tak pernah merebut Haris dari Fara. Haris yang mendengar cibiran demi cibiran untuk istrinya pun seketika menjadi geram. Tangannya terkepal dengan kuat. "DIAM!" teriak Haris dengan rahang yang mengeras. "Kalian tidak tahu apa-apa! Jadi diamlah atau saya robek mulut kalian satu per satu!" Nisa yang merasa tak tahan pun dengan segera membelah kerumunan orang-orang yang menyaksikannya. Nisa berlari sekuat tenaga dengan air mata yang telah membanjiri wajahnya. Nisa terus berlari tanpa memedulikan Haris yang ia tinggal di belakang. Dia hanya ingin menjauh. Menjauh dari manusia yang selalu menghakimi tanpa tahu sebabnya. "NISA AWAS!" TIN TIN TIN "AAAAAAAA"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN