MAUKAH MENJADI OBAT UNTUKKU?

1076 Kata
Haris mengatur nafasnya yang memburu. Hari ini banyak sekali hal yang membuat dia emosi. Pertama, teror datang kembali dan yang kedua, lelaki bernama Imam itu ada dalam kantornya sendiri. Dia begitu ceroboh memberikan amanat pada HRD tanpa memeriksanya kembali. Sekarang Haris menyesal. Haruskah dia keluarkan Imam dari sini? Bisa saja, karena Haris berwenang besar disini. Namun, citra PT Wiyatama Group pasti akan tercoreng karena telah mengeluarkan karyawan tanpa sebab. Kepala Haris benar-benar pusing. Masalahnya belum ada yang bisa di pecahkan. Dimas pun sampai saat ini belum terlihat batang hidungnya. Padahal Haris telah memerintahnya sejak 1 jam yang lalu. "Apa yang harus aku lakukan?" gumam Haris sambil terus memijat keningnya. Sedangkan di ruangan yang berbeda, Nisa tengah menyusun gelas-gelas bekas kopi yang telah ia cuci. Dia menyusunnya di rak khusus agar gelas tersebut bisa cepat kering. "Neng Nisa." Gerakan tangan Nisa terhenti saat suara Imam memanggilnya. Dia menoleh sedikit melalui ekor mata. "Kenapa Kang?" tanyanya sambil kembali melanjutkan pekerjaan. "Saya mau bicara sama kamu Neng," ujar Imam. "Bicaralah," sahut Nisa singkat. "Saya ingin berbicara berdua saja. Ini penting," ujar Haris lagi. Kali ini Nisa memutar tubuhnya menghadap Imam yang berdiri dengan jarak satu meter darinya. "Bukankah Kang Imam tahu kalau Nisa sudah menikah?" tanyanya pelan. "Iya saya tahu. Dan tentang ini yang ingin saya bahas Neng," jawab Imam. "Bagus jika Kang Imam sudah tahu. Bukankah tidak baik seorang wanita yang sudah bersuami hanya berduaan saja dengan lelaki lain?" Imam terdiam sebentar sebelum menjawab. "Saya tahu. Tapi Neng, apa benar kamu menganggapnya suami?" "Kenapa Kang Imam bertanya seperti itu?" Nisa mulai tak suka dengan pembahasan Imam. "Karena dia tidak memperlakukan kamu sebagai istri. Lihatlah bahkan kamu jadi karyawan di kantor suami kamu sendiri," ujar Imam. "Itu bukan urusan Kang Imam. Dan tolong jangan pernah campuri rumah tangga Nisa. Nisa sudah bahagia Kang," ucap Nisa tegas. Imam menggeleng pelan. "Kamu tidak pandai berbohong Neng. Saya tahu kamu tidak bahagia dengan pernikahan ini. Kenapa kamu mau menikah dengan laki-laki seperti dia Neng? Apa karena dia memiliki banyak uang?" Nisa tersenyum sinis. Pikiran Imam mulai berkelana kemana-mana. Lelaki shaleh yang dulu sangat Nisa kagumi, kini telah berubah karena cinta yang membutakan mata. "Iya karena Mas Haris banyak uang. Sudah jelas?" tegas Nisa namun pelan. Di pantry juga terdapat karyawan lain yang sedang bersantai dan bekerja. Nisa harus hati-hati dalam berbicara. Takut salah satu dari mereka mendengar pembicaraan sensitif ini. Setelah pekerjaannya selesai, Nisa gegas melangkah meninggalkan Imam yang masih berdiri memandanginya. Nisa tak peduli lagi. Statusnya telah berubah sekarang. Meskipun dia seperti istri yang tak di anggap, statusnya dalam hukum Allah tetap sama. Dia tetap harus menjaga marwahnya sebagai istri Haris Ivander Wiyatama. 'Sepertinya Kang Imam sudah bertemu dengan Mas Haris. Apa aku samperin Mas Haris saja ya? Nisa gak mau Mas Haris salah paham.' Batin Nisa menimbang. Setelah beberapa saat berpikir, Nisa akhirnya memutuskan untuk menemui Haris di ruangannya. 'Semoga Mas Haris lagi gak sibuk,' harap Nisa dalam hati. Nisa melangkahkan kakinya menuju ruangan sang suami. Banyak karyawan yang melihat kearahnya. Mungkin karena dia terlalu sering keluar masuk ruangan Haris. Sebenarnya Nisa merasa tak nyaman dipandangi seperti ini, tapi mau bagaimana lagi? 'Bismillah... semoga Mas Haris gak sibuk di dalam.' Batin Nisa. Wanita itu mengangkat tangannya hendak mengetok pintu. "Bu Nisa," panggil Dimas pelan dari arah samping. Nisa terlonjak. "Astagfirullah ... Pak Dimas mengagetkan saya saja," ujarnya sambil mengelus d**a. "Maaf bu," sesal Dimas. Dia melirik kesana kemari memastikan keadaan aman. "Apa Bu Nisa mau masuk?" tanyanya. "A-ah iya tadinya. Tapi sepertinya Pak Dimas ada urusan yang lebih penting. Silahkan, saya nanti saja." "Tidak Bu. Saya hanya akan menyampaikan pesan saja," ujar Dimas. Lelaki itu pun mengetuk pintu ruangan Haris. "Ini saya Dimas Pak!" Setelah di persilahkan masuk, Dimas segera memutar knop pintu, lalu membukanya lebar-lebar membiarkan Nisa masuk. Dia tahu Nisa adalah Nyonya di perusahaan ini. Jadi dia harus bersikap dengan baik. "Nisa," panggil Haris agak kaget melihat Nisa datang bersama Dimas. Jarang sekali istrinya ini datang tanpa dia panggil. Nisa tak menghiraukan panggilan Haris. Dia malah fokus memandangi sang suami yang terlihat acak-acakan. Keningnya juga mengernyit seperti sedang menahan sakit. Nisa yakin suaminya ini sedang tidak baik-baik saja. "Mas Haris kenapa?" tanya Nisa. "Hah? Kenapa apanya?" Haris balik bertanya. "Mas Haris terlihat berantakan. Apa ada masalah?" Haris terkekeh kecil. "Kelihatan sekali ya? Hanya sedikit masalah saja," jawabnya. Haris beralih menatap Dimas yang masih berdiri. "Ada apa Dim? Bagaimana dengan yang saya tugaskan tadi?" tanyanya. Dimas tertunduk takut. "M-maaf Pak. Orangnya tidak bisa saya bawa hari ini. Dia sedang ada pekerjaan lain. Besok dia akan datang menemui Bapak." Terdengar helaan nafas berat dari mulut Haris. "Yasudahlah. Kamu istirahatlah dulu Dim. Saya tahu kamu pasti lelah." "B-baik Pak. Kalau begitu saya permisi." Dimas pun berlalu meninggalkan sepasang suami-istri itu dalam satu ruangan. Haris beralih menatap Nisa. "Ada apa Nisa? Apa kamu perlu sesuatu?" tanyanya pada sang istri. Nisa menggeleng pelan. "Tidak Mas. Saya hanya ingin bertemu Mas Haris saja," ujarnya. "Baiklah. Duduklah dulu." Haris menarik pelan tangan Nisa menuju sofa. Mereka duduk berdampingan dengan jarak sangat dekat, hingga pakaian Nisa dan Haris saling beradu. "Katakanlah," ucap Haris dengan lembut. Nisa memandangi Haris dengan bingung. Kenapa suaminya bisa tahu jika dia ingin mengatakan sesuatu? Haris tersenyum manis melihat Nisa yang kebingunan. "Saya tahu pasti ada suatu hal yang membawa kamu kesini. Jadi, bicaralah." "Apa Mas Haris sudah bertemu dengan Kang Imam?" tanya Nisa memberanikan diri. "Sudah," jawab Haris singkat. "Apa Mas Haris yang mempekerjakan dia?" "Tidak. Saya tidak tahu menahu soal itu. Semuanya di urus oleh HRD." "Apa Mas Haris tidak marah Kang Imam satu team dengan saya?" tanya Nisa hati-hati. "Sejujurnya saya ingin marah dan mengeluarkan dia saat ini juga. Tapi saya sadar, itu akan memberikan citra buruk pada perusahaan. Jadi saya tidak tahu harus apa sekarang," jawab Haris sambil menyandarkan kepalanya pada sofa. "Biarkan saja dulu Kang Imam bekerja. Jika dia macam-macam, Mas Haris bisa memecatnya. Saya juga tidak akan terlalu dekat dengan Kang Imam," tutur Nisa. Haris mengalihkan pandangannya pada Nisa. "Nisa, sebegitu kuatkah kamu menjaga diri untuk saya?" "Bukankah itu memang kewajiban saya sebagai seorang istri?" Haris terdiam. Hatinya seperti tertampar. Dia sadar selama ini belum menjadi suami yang baik untuk Nisa. Tapi istrinya selalu melakukan yang terbaik untuknya. "Maafkan saya Nisa," sesal Haris. "Kenapa Mas Haris minta maaf?" tanya Nisa heran. "Karena saya belum menjadi suami yang baik untuk kamu. Bahkan mungkin gelar suami tidak pantas disemartkan pada saya." Nisa hanya diam menatap manik tajam Haris yang memancarkan kejujuran. "Nisa, maukah kamu menjadi obat untuk saya?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN