Ponsel berdering berkali-kali, Arjuna malah menutup telinganya dengan bantal. Reina benar-benar berani mengganggu Arjuna, Reina ternyata masih belum paham seperti apa calon suaminya itu. Kesabaran Arjuna habis ia meraih ponsel lalu melemparkanya ke sudut ruangan. Kali ini Arjuna harus berfikir keras agar bisa lepas dari perjodohan itu. dengan terpaksa ia membuka matanya yang masih ingin terpejam itu. Arjuna bangun dari tempat tidur lalu menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Arjuna keluar dari kamar mandi, dengan tergesa-gesa Arjuna mengambil kaos dan jaket dari dalam lemari ia memakainya sambil berjalan keluar dari kamarnya, Pak Min yang melihat Arjuna menuruni tangga bergegas bertanya pada majika yang juga sudah seperti anaknya itu.
“Nak Juna mau kemana pagi-pagi seperti ini?”
“Oh ya Pak Min, tolong urus semua ya saya ada urusan sebentar,”
“Baik Nak Juna!”
Arjuna masuk ke dalam mobil dan buru-buru melajukanya, ia harus sampai di sana tepat waktu sebelum ia kehilangan yang menjadi tujuanya. Cara ini memang murahan dan kelihatan pengecut tapi Arjuna harus melakukanya agar ia terbebas dari perjodohan itu.
Belum sampai satu jam Arjuna sudah tiba di tempat tujuanya, pintu rumah tertutup. Arjuna turun dari mobil dan melangkah menuju depan pintu rumah, Arjuna menggedor pintu berulang kali dengan keras.
“Siapa? Bertamu tapi gak ada adab,”
Terdengar suara dari dalam rumah, pintu terbuka.
“Kamu?” Alika terkejut melihat Arjuna sepagi ini sudah ada di depan pintu rumahnya.
“Aku butuh bantuan kamu,” ucap Arjuna singkat.
“Kesini butuh bantuan tapi gak sopan banget, gedor-gedor pintu kaya mau nagih hutang aja!”
“Benar sekali aku kesini mau nagih hutang, semalam kamu berhutang sama aku dan sekarang kamu harus membayarnya,”
Alika terkejut mendengar perkataan Arjuna.
“Aku pengen kita kerja sama, nanti kamu juga dapat bayaran,” terang Arjuna.
“Sebentar-sebentar, kerja sama apa ni? Aku ga mau terlibat kejahatan yang kamu lakukan.”
“Kejahatan?” Tanya Arjuna tidak mengerti.
“Iyaaa, seperti beberapa hari yang lalu yang kamu lakuin sama kakek tua itu,”
“Astaga!” Arjuna menghela nafas “Ini gak ada hubunganya dengan kejadian itu,” tandas Arjuna.
“Lalu apa?” tanya Alika.
Arjuna terlihat berat untuk mengatakanya.
“Apa? Cepetan!”
“Kamu pura-pura jadi pacar yang sudah aku hamili dan segera aku nikahi,”
“Apaaa?” teriak Alika terkejut mendengar ucapan Arjuna.
Arjuna buru-buru menutup mulut Alika.
“Akan kujelaskan tapi diamlah!”
Alika mengangguk, Arjuna menurunkan tangan yang menempel di bibir Alika.
“Aku ada dalam masalah, aku dijodohkan dengan temanku oleh kedua orang tua kami, tapi aku gak mau terikat dengan hubungan yang dipaksakan ini, aku tidak mencintainya,”
“Lalu aku harus apa?” tanya Alika tidak mengerti.
“Ikutlah bersamaku, tinggal dirumah dalam beberapa waktu sampai temanku menyerah dan menikah dengan pria lain,”
“Lalu bagaimana jika butuh waktu yang lama untuk temanmu mendapatkan pasangan?”
“Yaa selama itu juga kamu tinggal dirumahku,”
Alika terdiam nampak berfikir bahwa apa yang diminta Arjuna juga menguntungkan untuknya, ia akan dengan mudah mengetahui siapakah Arjuna sebenarnya.
“Baiklah aku setuju agar aku tidak lagi mempunyai tanggungan untuk membalas budi padamu.”
“Ikut aku sekarang juga!” Arjuna menarik lengan menyeret Alika ke mobil.
“Ehhh.. Lepasin dong! Belum apa-apa uda kasar banget,”
“Aku tidak punya banyak waktu, lebih cepat lebih baik!”
Alika pun masuk ke dalam mobil mengikuti Arjuna, dalam perjalanan mereka masih saling tak bersuara.
**********
Reina sampai di rumah Arjuna, ia melihat ke garasi mobil Arjuna sudah tidak ada buru-buru Reina masuk ke dalam rumah.
“Pak Min.. Pak Min..” teriak Reina.
Yang keluar bukanlah Pak Min melainkan Bi Yati.
“Iyaa mbak Reina, ada apa?” tanya Bi Yati heran melihat Reina.
“Dimana Arjuna???”
“Nak Juna sudah pergi pagi tadi, saya gak tau mbak mau kemana nak Juna sepertinya sangat terburu-buru.”
“Gak mungkin juga sepagi itu Arjuna ke kantor,” gumam Reina.
Reina menaiki tangga menuju kamar Arjuna, ia membuka pintu pandanganya tertuju pada sudut ruangan matanya fokus pada ponsel Arjuna yang tergeletak di lantai. Reina mengambilnya mencoba membuka tapi tidak menyala, kaca layarnya hancur, Reina melemparkan ke atas ranjang tidur Arjuna, ia lalu pergi meninggalkan kamar Arjuna.
**********
Sampai di rumah. Alika dan Arjuna keluar dari mobil, Alika mendongakkan kepalanya melihat bangunan rumah yang tinggi kemudian mengarahkan matanya ke sana ke mari, baru kali ini Alika melihat Rumah sebesar dan halaman rumah seluas ini. Arjuna mengajak Alika untuk masuk ke dalam Alika membuntut di belakang Arjuna, ada Bi Yati yang kemudian menyambut kedatangan Arjuna.
“Nak Juna sudah pulang.. Tadi mbak Reina datang ke sini mencari Nak Arjuna, dia naik ke atas kemudian turun lalu pergi,”
“Bi tolong antarkan dia ke kamar tamu layani dia, dia akan tinggal di sini.”
“Baik Nak Juna!!”
“Eh kamu mau kemana?” sela Alika menanyai Arjuna yang berlalu pergi begitu saja.
“Aku ada urusan, kalau kamu butuh apa-apa tinggal bilang ke Bi Yati.”
Alika mengangguk sambil tersenyum pada Bi Yati.
“Mari... Saya antar ke atas,” ajak Bi Yati pada Alika.
Alika mengikuti Bi yati menaiki tangga menuju kamar tamu.
“Perkenalkan nama saya Alika, jadi saya panggilnya apa ini?” tanya Alika pada Bi Yati agak canggung.
“Panggil saja seperti Nak Arjuna memanggil saya,” jawab Bi Yati sambil tersenyum ramah pada Alika.
“Ooohh jadi namanya Arjuna,”
“Lohh nak Alika bukanya temanya nak Juna kok belum tau nama nak Juna?” tanya Bi Yati heran.
Alika tersenyum simpul mendengar pertanyaan Bi Yati.
“Saya bukan temanya Arjuna Bi.. Saya di sini untuk bekerja bahkan saya belum mengenal siapa Arjun,”
Bi yati memandang Alika keheranan, Alika hanya tersenyum.
Alika melihat foto besar di dinding, dalam bingkai itu terdapat gambar Arjuna dan seorang wanita.
“Ini siapa Bi?” tanya Alika penasaran
“Oh itu almarhumah Nyonya Yasmin, Ibu nak Arjuna. Baru beberapa hari Nyonya Yasmin meninggal bahkan tanahnya pun masih basah.”
“Kenapa dalam foto hanya ada Arjuna dan Ibunya, kemana Ayahnya atau mungkin saudara Arjuna?”
“Maaf nak Alika, Bibi tidak punya hak untuk menjawab pertanyaan itu, baiknya nak Alika tanya langsung pada nak Arjuna,”
Alika hanya mengangguk-angguk.
Bi Yati membukakan pintu kamar lalu masuk ke dalam dan membukakan tirai jendela kemudian mengeluarkan selimut dari dalam lemari.
“Nak Alika bisa istirahat di sini, Bibi turun dulu ke bawah kalau nak Alika butuh apa-apa nak Alika panggil Bibi saja.”
“Iyaa Bi.. Makasih yaaa!” ucap Alika sambil mengelus pundak Bi Yati.
Bi Yati meninggalkan Alika, Alika berjalan menuju jendela dan melihat keluar ia tidak pernah menyangka akan sampai di tempat ini tapi pertanyaan tentang siapa Arjuna belum terjawab Alika harus segera menemukan jawabanya.