PRANNNGGG
Keramik mahal itu hancur berkeping-keping.
Karina menoleh ke belakang ke arah pria yang mengagetkannya dan membatin, "aku pasti dipecat kali ini."
Evan juga ikut tertegun menatap ke arah keramik itu. Ini bukan soal harga keramik itu tapi keramik ini adalah keramik yang bermakna emosional baginya.
Saat dia kecil, dia sempat memecahkan keramik yang sama sehingga dimarahi oleh neneknya karena keramik itu adalah keramik kesayangan neneknya.
Saat itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Evan merasakan kemarahan yang sangat besar karena itu dia putuskan untuk kabur dari rumahnya.
Dengan memanfaatkan tubuh kecilnya, dia berhasil menyelinap keluar melewati para penjaga yang tidak menyadari kalau dia kabur.
Saat dia sempat luntang-lantung di jalanan selama 1 hari, hampir seluruh polisi dan banyak sukarelawan dikerahkan untuk mencarinya hingga akhirnya dia ditemukan dalam keadaan kelaparan dan bajunya penuh debu di bawah kolong jembatan.
Sang nenek langsung memeluknya dan menangis serta minta-minta ampun karena sempat memarahinya. Sang nenek juga berkata kalau dia telah mengirim orang untuk membeli keramik dengan model yang sama dari negara asalnya, dari Tiongkok.
Jadi Evan tidak perlu bersedih karena pecahnya keramik itu.
Kini keramik yang dulu sempat menjadi masalah dalam hidupnya di masa kecil itu, hancur di depan matanya. Karena itu dia sempat melotot ke arah Karina, orang yang memecahkan keramik itu.
Melihat ekspresi kemarahan dari Evan, maka Karina buru-buru pergi.
'Aku memang tidak seharusnya berada di sini. Jadi, lebih baik aku pergi,' batin Karina sambil menuju ke belakang untuk menemui Wina dan meminta Wina untuk membereskan apa yang sudah dia pecahkan di depan sana.
"Kenapa bukan kamu saja yang membereskannya? Kan kamu yang menjatuhkannya, harus kamu yang membereskannya, Karina," protes Wina.
"Aku dipecat. Aku harus pergi. Jadi aku minta tolong kamu untuk membereskannya."
Mendengar itu, Wina sangat kaget dan prihatin. "Baiklah. Biar aku yang membereskannya."
Karina cepat-cepat membereskan barangnya dan segera pergi meninggalkan rumah ini.
**
Setelah pulang ke rumah kostnya, Karina tiba-tiba ditelepon oleh Kepala pelayan Dono.
"Iya, Pak?" tanya Karina.
"Kamu ke mana? Ini belum usai jam kerjamu tapi kenapa kamu buru-buru pergi, hah?"
"Aku kan sudah dipecat, Pak."
"Siapa yang memecat kamu? Tidak ada yang memecat kamu."
"Tapi ... aku baru saja memecahkan keramik yang mungkin harganya puluhan juta. Iya kan?"
"Salah. Keramik itu adalah peninggalan dari zaman Kekaisaran Jin berkuasa di China. Jadi berasal dari zaman 1400-an. Jadi sudah ratusan tahun, harganya bukan hanya puluhan juta, tapi sudah seratusan juta."
"Hah?"
"Tapi tidak ada yang memecatmu. Kembalilah bekerja."
"Tapi mungkin kesalahanku besar, Pak. Mungkin aku memang tidak pantas bekerja di sana. Aku cuma merusak mobilnya tuan muda dan merusak barang-barang di rumah itu. Jadi, lebih baik aku pergi."
"Kalau kamu pergi sekarang, maka kamu harus membayar ganti rugi pecahnya guci seharga 114 juta rupiah itu dan kami akan mengerahkan pengacara untuk menuntutmu. Kamu harus masuk penjara kalau tidak mampu membayar kerugiannya."
"Hah!"
"Tapi kalau kamu kembali bekerja, maka hal itu akan dilupakan. Ini keputusanmu."
Karina terjebak dalam dilema. Intuisinya mengatakan bahwa dia harus menjauhi Evan secepatnya. Namun, melihat kalau dia harus mengganti rugi barang semahal itu membuat dia pun tidak jadi melakukan itu.
Apalagi ketika dia melihat kedua anaknya yang dengan gembira memakan buah anggur yang barusan dia beli di mini market, itu membuat hatinya sakit.
Dia tidak yakin akan bisa mendapatkan pekerjaan di tempat lain dengan gaji setinggi di rumah Evan itu. Karena itu, setelah dia menimbang untung ruginya, dia memutuskan untuk terus bekerja.
"Tapi aku sudah terlanjur di rumah. Bolehkah kalau aku kembali bekerja besok pagi?"
"Baiklah. Besok pagi kamu harus ada di rumah tepat waktu. Mengerti?"
"Iya, Pak."
Setelah itu, kepala pelayan Dono langsung memutuskan hubungan telepon.
"Ibu, ini sangat lezat. Apakah Jinny bisa memakannya lagi besok?"
Jinny menghabiskan anggur terakhir dan menjilat bibirnya, menikmati setiap tetes anggurnya. Bibirnya yang indah dipenuhi dengan kulit buah.
Dia tidak tahu bagaimana cara mengupas buah anggur, jadi dia menggigitnya dengan giginya sebelum memakan daging buahnya. Akibatnya, dia berlumuran jus anggur.
Juno sudah menyeka mulutnya dengan tisu.
"Jinny, ibu harus mencari uang untuk sekolah kita, jadi ibu tidak bisa selalu membelikan ini. Lihat, bukankah sekolah menyenangkan hari ini?"
Mata Jinny membelalak. "Ya, aku suka Kakak Alfie!"
Juno dengan tidak senang meraih kepang kecilnya Jinny. "Kamu tidak menyukai kakakmu lagi?"
"Tentu saja Jinny juga suka kakak Juno. Tapi Kakak Alfie itu keren."
Melihat Juno nampak tidak puas maka Karina bertanya "memang kenapa sih Kakak Alfi-nya itu?"
"Kakak Alfi-nya itu gendut dan suka mengambil makanannya. bahkan Jinny meminta makanan dariku untuk dia berikan kepada Kakak Alfi-nya itu. Aku pikir makanan itu akan ia makan ternyata untuk diberikan kepada Kak Alfi-nya," jawab Juno.
Karina menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar cerita dari Juno itu. Kemudian dia menatap Jinny. "Jinny tidak boleh begitu. Jinny harus makan makanan yang Jinny bawa. Kalau Jinny nggak makan, Jinny nggak akan kuat untuk mengikuti pelajaran. ngerti?"
"Tapi Kakak Alfie keren, ibu. Lagian, Jinny disukai teman-teman Jinny yang lain. Mereka yang gantian memberikan bekal mereka untuk Jinny. Karena itu, Jinny tetap bisa makan banyak."
"Sekeren apapun Alfie itu, kamu nggak boleh selalu memberikan makanan kamu kepadanya. Mengerti?"
Dengan mulut manyun akhirnya Jinny mengangguk.
Saat Karina melihat kedua anaknya ini bermain-main, rasa lelah hari ini terasa benar-benar hilang.
Dia pasti akan bekerja keras dan menuntut tunjangan anak kedua anaknya dari Evan!
Inilah niat yang baru terbentuk di hatinya.
Di Pagi Hari
Seperti biasa, Karina mengantar kedua anaknya ke sekolah. Karena dia tidak boleh terlambat ke tempat kerjanya, dia membangunkan mereka pada pukul 6 pagi dan naik bus ke sekolah.
Kedua anak itu masih setengah tertidur, dan di dalam bus sangat ramai.
Karina hanya bisa menggendong Jinny, dan membiarkan Juno berdiri sambil berpegangan pada tiang.
Keda anak itu sangat rupawan, dan membuat banyak orang menoleh ke arah mereka di dalam bus.
"Anak-anak, ayo duduk di sini."
Seorang wanita yang ramah memberikan tempat duduknya. Orang di sebelahmya baru saja turun.
Karina mempersilakan kedua anaknya itu duduk bersama dengan wanita itu dan berterima kasih kepada wanita itu.
"Apakah mereka kembar dua? Mereka sangat tampan dan cantik! Tapi kenapa kamu sendirian? Di mana ayah mereka?" tanya wanita itu.
Kedua anak kecil itu sedikit terbangun dari rasa kantuk mereka. Mereka langsung menjawab pertanyaan wanita itu.
"Ayah saya bekerja di luar negeri."
"Ya, Ayah kami sangat menyayangi kami."
"Ayah kami sangat tampan."
"Ayah kami sangat memperhatikan kami."
Wanita itu tersenyum mendengar jawaban kedua anak itu yang bersahut-sahutan dan berkata, "Saya mengerti. Kelihatannya agak sulit, tapi keluargamu pasti sangat bahagia."
Hati Karina sedikit sakit. Namun, inilah yang telah dia dan anak-anaknya sepakati sebelumnya. Mereka akan mengatakan hal ini kepada orang luar saat ada pertanyaan tentang ayah mereka yang memang tidak pernah mereka miliki itu.