Saat ini Evan sangat senang karena dia bertemu dengan Karina gadis yang sebelumnya dia lihat di restoran, gadis yang sangat berkesan di hatinya.
Dia bahkan sempat kembali ke restoran itu untuk mencari gadis ini, tapi, ternyata gadis ini sudah dipecat Lisa.
Karena itu, Evan sangat senang saat melihat gadis ini di rumahnya sendiri.
Suaranya riang ke arah Karina. Evan terlihat bahagia bisa bertemu dengan Karina. "Kita bertemu lagi. Jelaskan mengapa kamu ada di sini?"
Dalam sekejap, banyak sekali pikiran melintas di benak Karina pada saat ini.
Dia ingin menampar lelaki yang pernah menodainya ini. Dia ingin menendangnya, atau bahkan menghantam kepalanya dengan asbak di atas meja.
Ini semua karena Karina merasa dia semakin menderita setiap kali dia bertemu lelaki, ayah dari anak-anaknya itu.
Kemarin dia dipecat dari restoran, padahal dia sangat senang kerja di restoran itu. Hari ini, dia kembali dipecat. Dan melihat kehadiran pria ini, dia jadi yakin kalau pria ini adalah pembawa sial baginya.
Namun, dia berusaha tenang dan merubah ekspresi wajahnya. "Kamu betul-betul pembawa sial! Aku selalu sial setiap bertemu denganmu!"
"Maksud kamu?" Evan mengerinyitkan dahinya.
Nada suara Karina meninggi. Dia melotot. "Aku benar-benar tidak bersalah kemarin, aku tidak sengaja menumpahkan minuman di tanganmu, tapi wanitamu membuatku kehilangan pekerjaan. Jadi, menurutmu kenapa aku ada di sini, hah! Aku terpaksa jadi pembantu di sini tapi sekarang aku kehilangan pekerjaan lagi. Aku harap kamu bahagia!"
Karina menangis saat berbicara. Dia benar-benar merasa kalau Kevin adalah pembawa sial di dalam hidupnya. Setelah aksinya selesai, dia berbalik dan pergi.
"Tunggu." Suara Evan datang dari belakangnya. Nada suaranya sedingin es, tetapi mengandung wibawa yang nyata.
Karina meradang. Dia menjawab tanpa membalikkan tubuhnya. "Apa lagi yang kamu inginkan? Apa setelah dua kali dipecat, kamu ingin mengambil barang-barangku! Aku hanya punya uang 6 juta tersisa di rekening bankku. Itukah yang kamu incar?"
Ketakutan akan biaya makan anak-anaknya terpancar dari matanya sehingga dia melawan wibawa lelaki di hadapannya, dengan suara yang sama dinginnya.
Dia benar-benar ketakutan. Takut akan pemenuhan biaya hidup anak-anaknya, karena dia dipecat lagi.
Pilihan apa yang dia miliki? Sebagai seorang wanita dengan dua orang anak, segala sisi kekanak-kanakan dalam dirinya telah terkikis di usia muda. Dia harus beradaptasi, harus dewasa dengan paksa untuk menghidupi anak-anaknya.
Evan sadar kalau wanita di depannya inilah yang telah mencuci salah satu mobil sport kesayangannya dengan memakai sabun cuci baju sehingga dia dipecat.
Tapi, setelah mengetahui kenyataan ini, tentu saja dia tidak akan memecat wanita ini.
Evan cuma heran mengapa wanita ini seperti membenci dirinya hingga mengucapkan kata-kata dengan suara bergetar seperti memendam kebencian yang dalam kepadanya.
Tapi bagi Evan, jangankan cuma mencuci mobilnya dengan sabun cuci baju, sekalipun wanita ini menjatuhkan mobilnya di jurang sampai hancur pun, dia juga tidak akan marah kalau gadis ini yang melakukannya.
Ekspresi Evan sekarang ini, menjadi tidak sedingin tadi. "Aku sama sekali tidak terlibat dengan pemecatan terhadapmu di restoran itu. Dan aku tidak jadi memecatmu di sini, kamu dapat terus bekerja di sini!"
Karina membalikkan tubuhnya. Dia merasakan tatapan menindas pria itu sudah menghilang banyak, dan dia akhirnya terlihat rileks.
Sebelum ini, Evan cuma tidak terlalu suka dengan nada tinggi dari wanita ini. Soal wanita ini yang sudah agak merusak cat salah satu mobilnya, tidak lagi akan dia persoalkan.
Mendengar kata-kata pria ini, kini, Karina baru sadar, kalau pria ini adalah tuan muda di rumah ini.
Dan itu membuatnya bingung. 'Mampukah dia bekerja untuk pria yang di masa lalu pernah memperkosanya?'
"Aku tidak punya hubungan dengan wanita yang memecatmu itu," lanjut Evan. "Dia bukan wanitaku. Belum ada yang pantas jadi wanitaku. Tidak ada yang pantas jadi wanitaku!"
Evan menatap Karina dan membatin. 'Karena yang pantas jadi pendampingku baru aku temukan.'
Tapi kata-kata Evan sebelumnya, terdengar sombong di telinga Karina. Dia yang masih menyimpan amarah kepada Evan kini melotot ke arah Evan.
Ini membuat Evan bingung. "Ada apa lagi? Kamu tidak jadi dipecat, jadi kamu tidak perlu marah-marah lagi kepadaku. Aku bersalah karena sempat memecatmu tapi aku tidak jadi memecatmu. Sekarang kamu bisa puas!"
Evan memanggil Kepala pelayan Dono untuk memastikan keinginannya di depan Karina kalau Karina tidak boleh dipecat.
Setelah Evan naik ke atas, Kepala Pelayan Dono menatap Karina. "Karina, kamu tidak jadi dipecat. Kembalilah bekerja."
Karina masih belum melangkah. Dia masih bimbang untuk kembali bekerja di rumah ini setelah mengetahui kalau Evan adalah bosnya.
Dono mengamati Karina. Tatapan Karina dipenuhi dengan keraguan, dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Karina.
Dia cuma bisa menduga kalau Karina masih marah karena sempat dipecat tadi, karena itu Karina belum mau untuk kembali bekerja.
Karena itu Dono berkata, "kalau kamu tetap pergi saat sudah diminta untuk kembali bekerja, maka siap-siaplah untuk menghadapi tim hukum Keluarga Tanujaya yang akan mengejarmu, menghabiskan uangmu untuk membayar ganti rugi, dan bahkan memenjarakanmu!"
Mendengar kata-kata kepala pelayan ini, maka tanpa berpikir dua kali lagi, Karina segera masuk kembali ke dalam rumah dan meletakkan barang-barangnya serta kembali menemui Wina dan Bi Lastri untuk memberitahu mereka tentang dia yang kembali bekerja di rumah ini.
Dono masih termenung setelah Karina masuk ke dalam.
Biasanya kalau memang salah pecat, maka tuan mudanya cuma akan menempatkan orang yang dia pecat ke tempat lain. Yaitu jadi staf di kantor. Evan juga tidak akan repot-repot menunjukkan kekeliruannya di depan pegawainya.
Evan tidak pernah menganulir keputusannya di depan yang bersangkutan.
Tapi kali ini, Evan sudah merubah kebiasaannya dan ini cukup aneh bagi sang kepala pelayan ini.
**
Ternyata tugas untuk membantu Bi Lastri memasak, sudah selesai.
Karina putuskan untuk mencari kesibukan lain.
Dia tidak berani lagi untuk mencuci mobil, karena itu, dia putuskan untuk membersihkan beberapa guci langka berukuran besar di ruang tamu utama.
Karina sempat bekerja di toko barang antik. Karena itu, dia tahu akan harga dari guci-guci yang sedang dia bersihkan ini.
"Dia begitu kaya. Rumahnya penuh dengan barang mahal. Tapi kenapa dia menjadi gigolo? Apakah dia jadi kaya karena menjadi gigolo?" Karina tidak mendapatkan jawabannya. Dia putuskan untuk terus melakukan pekerjaannya.
Sementara itu, di lantai atas, Evan berdiri di dekat tangga turun dengan segelas anggur merah di tangannya.
Dari atas sini, Evan bisa memandang ke arah hampir seluruh ruang tamu di bawah sana.
Tapi, tentu saja dia tidak sedang menatap ke arah perabotan di ruang tamu rumahnya ini, tapi dia sedang curi-curi pandang ke arah Karina di bawah sana.
Di bawah sana, wajah Karina tampak cerah dan lembut menawan. Kulitnya terlihat jelas putihnya, bagaikan batu giok putih bersih tanpa noda.
Wajahnya terlihat sangat lembut, dan Evan mulai membayangkan kalau akan sangat menyenangkan saat dia bisa menyentuh wajah gadis itu.
Nalurinya mengatakan kepadanya bahwa ada sesuatu yang luar biasa tentang wanita itu. Tapi dia tidak tahu apa itu.
Dono berdehem di belakangnya.
"Tuan Muda, saya sudah memeriksanya. Karina kehilangan pekerjaannya di restoran karena Nona Lisa mempersulitnya. Saya juga telah memverifikasi identitas dan latar belakangnya. Tidak ada masalah. Dia seorang gadis yatim piatu yang besar di panti asuhan."
"Baiklah." Evan masih menatap Karina di bawah sana. "Lalu bagaimana dia bisa lolos seleksi?"
Dono menjelaskan, "Dia sangat mahir dalam pekerjaan rumah tangga. Sepertinya dia tidak mempelajarinya baru-baru ini, tuan muda. Tekniknya tampaknya telah dikuasai dalam jangka waktu yang lama. Selain itu, saya mengamati bahwa tangannya jauh lebih kasar daripada kulit wajahnya."
"Hmmm."
"Jadi, seharusnya dia sudah melakukan pekerjaan rumah tangga sejak masih usia belia. Dia mengatakan bahwa keadaannya memang miskin, jadi dia pastinya tidak dikirim oleh saingan bisnis Anda atau semacamnya."
"Baiklah. Kamu boleh pergi."
"Baik, tuan muda." Dono melangkah meninggalkan Evan untuk menuju ke ruang tamu.
Evan langsung mencegahnya. "Kamu ke dapur untuk mengawasi para pelayan."
"Baik, tuan muda."
Setelah kepergian Dono, Evan mendekati Karina. Dia berjalan perlahan di belakang Karina.
Sementara Karina tidak mengetahui kedatangan Evan ini. Dia memilih untuk memiringkan guci dengan tangan kirinya sambil tangan kanannya melap guci.
"Aku seperti pernah melihatmu tapi aku lupa."
Terdengar suara di belakang Karina yang membuat dia kaget dan menjatuhkan guci itu
PRAAAANNNGGGG