POV RATIH #1
Hai teman semua, setelah kalian melewati POV nya Yanti dan Budhe Darmi tentu kalian semua sudah tahu tentang aku ya. Tapi nggak semuanya benar lho, itu kan versi mereka.
Sebenar nya aku gak gitu gitu amat sih,, mereka nya aja yang iri, karena gak secantik aku kalee☺️☺️. Aku bukan nya malas sih, lebih tepat nya nggak sempat aja, seyius hehehe...
Apalagi tetangga ku, haduh, semuanya anti pecah hahahaha..... maksudku mulut nya ember hehehe..
***
Aku sebenar nya kurang suka dengan sikap Bude Darmi kepadaku. Dia seakan masih membenciku atas penolakan ku terhadap anak nya di masa lalu.
"Cinta mana bisa dipaksakan Bude"
ungkap ku kala itu saat Dia menanyakan kenapa aku tak mau menjadi menantu nya.
Padahal waktu itu aku belum mengenal Bang Ali. Berbagai alasan aku kemukakan sampai aku lupa telah mengungkit masa lalu Mas Eko sehingga membuat nya merasa tersinggung, mungkin karena hal itu juga yang membuat nya hingga kini bersikap seperti itu kepadaku.
***
Aku segera pergi meninggalkan Bude yang selalu usil terhadapku, aku lagi malas berdebat karena lagi asyik berbalas komen dengan teman dunia maya ku. Lalu aku berpindah tempat berkumpul dengan ibu ibu yang lagi masak di belakang, sembari ngerumpi sesekali aku juga membantu kesibukan mereka tentu setelah aku tak lagi berselancar di dunia maya.
Setelah hari sudah agak sore semua pekerjaan sudah sebagian besar selesai dan juga para tetangga sudah mulai pulang, aku mencari Bang Ali dari pagi aku belum melihat suamiku yang ganteng tiba tiba aku jadi rindu.
''Hmmm malam ini aku minta jatah lebih ah''
aku membatin, karena semenjak sibuk dengan acara pernikahan ini Bang Ali sampai lupa kalau ia memiliki istri yang cantik dan seksi seperti diriku.
"Kok baru pulang Bang?"
''Gak ingat ya kalau udah punya istri?"
Aku bertanya saat kulihat ia datang setelah magrib
''Banyak kerjaan dek, kan semuanya aku yang handle''
''udah cepat mandi sana, tadi aku bawa makanan, kita makan bersama ya''
''Emang Nabila kemana Dek''
''Tadi di ajak ibu pulang''
''Ibu nggak menginap ya''
''udaahh, cepat mandi sana''
seraya menyerah kan handuk aku ke meja makan menyiapkan makan malam kami.
sebenar nya aku yang menyuruh Nabila untuk ikut nenek nya agar kami bisa berduaan dulu malam ini, ank lima tahun itu memang dekat dengan nenek nya. tapi ibuku selalu beralasan kalau ku ajak menginap dirumahku.
Satelah selesai makan kami menonton tv sambil rebahan, aku sudah siap dengan seragam malam yang menggoda.
''Malam ini apa acara nya bang''
aku coba membuka suara.
"hanya ngumpul ngumpul''
''Abang jam berapa mau kesana?"
"Lepa isya, adek kesana juga kan"
''heeh'' jawabku singkat, sementara tanganku mulai bergerilya.
Dan seperti nya ia mengerti,
''ini hari Sabtu ya dek''
aku hanya menjawab dengan anggukan sementara tubuh kami masih saling menepel,
''Baru libur enam hari, udsh gak tahan ya hehehe...''
aku tak bisa lagi bersuara karena rasa nya sudah sampai ke ubun ubun.
Tanpa banyak bicara ia berdiri lalu membopongku menuju kamar, dan.......
berhubung ini bukan cerita dewasa jadi kita skip aja ya hehehe..
***
''Pulang nya jangan malam malam ya Bang''
''Emang masih kurang ya?"
"kan mau nambah lagi"
ujarku sembari tersenyum.
"hahahaha"
dia tertawa kecil
''Adek nggak ikut kesana apa?''
sembari mengenakan pakaian ia bertanya padaku.
"dirumah aja lah Bang, untuk persiapan besok"
"tapi pulang nya jangan terlalu larut ya Bang."
kembali aku mengingatkan nya
Dia hanya mengangguk sambil tetap mengenakan kembali pakaian nya, lalu mengecup kening ku dan berlalu pergi.
tak selang berapa lama aku pun terlelap.
***
"Dek bangun, udah pagi ni. Nanti telat"
Bang Ali mencoba membangunkan ku.
kulirik jam dinding masih pukul lima pagi
"eeeehhhh,,, masih ngantuk Bang"
aku tak menghiraukan nya dan hanya membalikkan badan berencana melanjutkan tidur ku, tapi ia kembali merusuhiku dengan menarik selimutku sekaligus menyalakan kipas angin spontan hawa dingin menusuk sampai ke tulang.
Pun aku yang sejati nya masih kecapek an akibat pertempuran kedua kami dan belum sempat mengenakan apa apa terpaksa harus bangun.
belum sempat aku bereaksi Bang Ali sudah lebih dulu membopong tubuh mungilku nan seksi menuju kamar mandi. dengan reflek tangan ku bergelayut manja di pundak nya.
"Mau yang ketiga"
Bang Ali merayu
"hhooooaaahhh"
karena masih mengantuk aku reflek membuka lebar mulut ku mengeluarkan aroma naga. kalau dalam film pasti warnanya biru, Bang Ali mempercepat langkah nya.
"Handuk nya Bang"
teriak ku setelah berada di dalam kamar mandi.
"Baik Ratu"
Dia menyahuti dari luar, dan tak lama Dia datang membuka pintu dengsn handuk ditangan nya lalu menyerahkan padaku.
***
Aku melihat wajah cantikku di depan cermin
dengan gaun indah dan riasan ala artis begitu terlihat anggun, wajar kalau bang Ali bersedia melakukan apapun untukku hehehe aku tersenyum bangga.
sekedar info untuk teman pembaca, aku tu mirip artis Atikah Siholan. itu sih kalau menurutku, nggak tau juga kalau versi Bude.
Hari sudah menunjukkan pukul delapan pagi ketika aku akan keluar rumah, pastilah disana Bude akan sibuk dengan kedatangan ku yang terlambat mengingat aku juga bagian dari keluarga tuan rumah. Namun saat aku mengenakan sepatu timbul pikiran ku untuk membalas kelakuan Bude padaku.
"Kalau aku lebih lama lagi hadir disana pasti Dia akan sibuk mencariku kesini"
Lalu aku teringat dulu pernah membelikan Bang Ali sandal namun kebesaran, aku kembali masuk kerumahku untuk mencarinya lalu aku meletakkan nya di teras rumahku, dan aku langsung masuk mengunci pintu dari dalam.
Sembari menunggu bude aku Googling di internet untuk mendownload suara mantap mantap di HP ku. Sedikit tersenyum aku membayang kan apa yang terjadi pada Bude nantinya.
Benar saja tak lama Bude datang dan langsung menggedor pintu rumahku, melihat tak ada jawaban ia coba ke pintu belakang namun aku masih terus diam dikamarku, lalu aku dengar langkah kaki nya menuju jendela kamarku. Disini aku mulai beraksi dengan memutar suara yang telah aku download di HP ku. Tak lama Dia langsung menggedor jendela kamarku sambil meneriakkan namaku, lalu aku segera mematikan suara HP ku.
Sambil berusaha menahan tawa aku membayang kan reaksi Bude mendengar semuanya, setelah merasa yakin kalau Dia telah keluar dari pekaranganku aku segera keluar dan bergegas ke rumah mertuaku melalui jalan pintas belakang rumah agar aku lebih dulu sampai kesana.
Aku segera berbaur dengan ibu ibu pekerja di belakang, Namun naas karena terburu aku malah menyenggol seorang pemuda yang sedang makan sehingga piringnya tumpah dan mengenai gaun mahal kebanggaanku.
"Maaf mbak"
Dia seperti nya merasa bersalah, namun aku tak menghiraukannya.
"Oh, nggak apa apa mas"
aku tak mempermasalah kan nya karena masih banyak gaunku di rumah dan aku segera berlalu, aku tak mau jadi pusat perhatian bisa kacau nanti rencanaku kalau Bude tahu aku baru saja tiba disini.
Aku berpindah di tengah keramaian pesta mencoba menelusuri sekeliling, tak terlihat keberadaan Bude maupu Yanti. pun juga dengan Bang Ali. Pasti Bude telah nenceritakan semua kejadian yang di alami nya dirumah ku tadi pagi.
Aku segera pulang kali ini lewat jalan depan rumah, dengan alasan akan ganti baju segera menuju rumah ku. Terlihat kepanikan di wajah Bude dan Yanti serta Bang Ali, sepertinya mereka berdebat, tapi bukan debat calon kandidat hahaha....
serta merta mereka langsung kaget melihat kehadiran ku, namun tidak dengan Bang Ali, Dia terlihat lebih tenang melihat kehadiran ku.
"Ada apa ini ribut ribut, Ada apa Bang?"
aku berlagak seperti orang kebingungan padahal kan aku yang membuat mereka bingung.
Bang Ali menjelaskan semua apa yang terjadi denga detil.
"Aku tahu Bude membenci ku, tapi jangan fitnah aku tanpa bukti dong"
Aku sedikit meninggikan nada bicaraku
"Untung aja nggak ada orang lain yang tahu kejadian ini, Bude mau mempermalukan aku ya?"
aku kembali menambah kan, tapi kali ini dengan suara yang sedikit pelan.
terlihat Bude hanya diam
"Sudah lah mbak, mungkin tadi suara kucing , atau mungkin suara tv, ini hanya salah paham. "
Melihat aku kembali akan menyalahkan Bude Yanti segera memotong nya.
"mana ada kucing di rumah ini, ya kan Bang,?"
Aku meminta pembelaan Bang Ali, Dia segera mengangguk kan kepala.
"sudah mbak," kembali yanti mengingatkan.
"nggak boleh begitu sama orang tua" Yanti mencoba membela Bude.
Belum sempat Aku mengucap kan kata kata Yanti segera mengamit tangan nya.
"Ayo Bude, masih banyak yang harus kita kerjakan di tempat acara"
"Tunggu Yan" Aku berusaha mencegah tapi Yanti tak mengindahkan nya.
Terlihat Bude tak bisa berkata apa apa, dan aku yakin dia masih bingung dengan semua ini. Belum jauh Dia meninggalkan kami Dia lalu menoleh ke arah kami, aku membalas dengan senyum kemenangan serta mengerlingkan sebelah mataku padanya.
"Waw sempurna"
Aku membathin.