POV YANTI
Ratih, nama pendek nya. Dia kakak iparku suami Bang Ali abng pertamaku. Wanita cantik dengan tinggi semampai dan dengan tubuh langsing membuat nya banyak di kejar kaum Adam saat masih melajang dahulu. Hingga kini Dia masih tetap menjaga pempilannya meskipun sudah berusia tiga puluh tahun dan memiliki seorang anak dirinya masih terlihat cantik.
Akan tetapi kecantikan parasnya berbanding terbalik dengan suasana rumah nya, yang mana rumah nya tak ubah seperti kapal pecah bahkan bisa di katakan berdebu dengan macam macam barang yang tak tersusun rapi, hal ini lah yang menjadikan dirinya di cap sebagai menantu pemalas. meski demikian Bapak dan Ibuku sangat menyayanginya sebagai menantu.
"Temani aku kepasar kak, Ibu menyuruh ku membeli beberapa bahan yang masih kurang"
"besok aja sekalian napa yan"
"takut ga dapat barangnya"
"tunggu bentar ya, ambil hp dulu"
Dia segera berlalu,
"Jangan lama lama kak"
setengah berteriak aku berucap karena ia sudah sedikit jauh,
"ok" balas nya.
kebetulan dirumahku dua hari lagi kakak perempuanku akan melangsungkan resepsi pernikahan, jadi besok adalah H-1 , hari dimana acara masak memasak untuk hidangan hari H nya. untuk itulah tadi ibu di suruh juru masak untuk menyiap kan segala macam bumbunya yang ternyat masih sebagian yang belum tercukupi. besok pagi sudah mau di olah makanya ibu memintaku untuk mencari nya hari ini.
"tancap Yan"
timpal kak Ratih sesaat setelah Dai berada di motorku.
"ini kak catatannya, siapa tahu kakak ada recomend tokonya"
kataku sembari menyerahkan secarik kertas kemudian aku melajukan kendaraan ku.
"Langsung ke pasar aja Yan, kita cari sama sama."
titahnya.
"iya kak"
balasku.
pasar tradisonal memang agak jauh dari rumahku sekitar dua puluh menit perjalanan, tak jauh dengan sekolahku. jadi aku sudah terbiasa dan hafal dengan kondisi jalan. kami terus mengobrol ringan sekedar menghilangkan bosan hingga tak terasa akhirnya sampai juga kami di lahahn perkiran pasar.
"kita langsung ke pedagang langganan ibu saja Yan"
ajaknya sesaat setelah memasuki area pasar
"tadi sudah di telpon ibu katanya lagi kosong barangnya"
"Jadi kita mesti muter muter ya"
"kalau memang nggak ketemu yang kita cari , ya terpaksalah.''
"tapi kamu aja yang nanya sama pedagangnya ya"
sepertinya Dia sedikit kecewa dengan ideku.
"beres lah tu bos"
ku coba membuat sedikit guyonan agar ia bersedia menemaniku keliling pasar. paling tidak bisa membantu menenteng belanjaan.
Aku tadi sengaja mengajaknya kepasar memang untuk memberi sedikit pelajaran kepada pemalas ini. Daripada di rumah, hanya jadi bahan gibahan tetangga yang sebagian sudah ada bantu bantu di rumah kami.
Di sela sela aku bertransaksi atau bertanya kepada beberapa para pedagang, kak Ratih hanya berdiri sambil sesekali ckrek sana sini sekedar untuk membuat status sosmed.
"kita cari bakso yok"
ajakku setelah mendapatkan semua barang pesanan ibu.
"sekalian sama es nya ya, kakak haus Yan"
pintanya.
"kesana aja kak di bawah pohon rindang kelihatan nya teduh"
dia hanya mengangguk lemah.
"kakak kesana aja dulu, aku mau pesan es tebu biar lebih segar"
tambah ku lagi. Dia hanya diam dan berlalu pergi. padahal hari masih pagi, jam menunjukkan pukul 09,15. kak Ratih sudah terlihat sangat capek.
"sudah di pesan baksonya kak"
tak ada jawaban, ia hanya fokus meminum es yang tadi aku bawa. Dan belum sempat aku menanyakan nya lagi babang tukang bakso lebih dulu datang membawa dua mangkok bakso.
Terlihat keceriaan terpancar dari wajah cantik nya stelah menghabiskan semangkok bakso dan segelas es tebu, menandakan bahwa ia memang betul betul haus plus lapar???
setelah membayar semuanya kami rencanya akan langsung pulang mengingat hari sudah siang. Namun belum sampai kami menuju dimana motor kami terparkir kami berpapasan dengan seorang pemuda tampan,
"Ratih"
Ternyata Dia mengenali kak Ratih.
"Degol"................
***
"kamu kok cuma mainan hp aja Rat?,,," Tukas seseibuk di sebelahku. dilihat dari gaya bicara dan tatapan nya jelas ibu ini risih dengan ulah kakak iparku itu. orang semua pada sibuk kerja untuk persiapan acara nikahan kakak perempuan ku, dia hanya fokus pada benda pipih di tangan nya.
"Lagi gak enak badan bude" sahut nya santai tanpa mengalihkan pandangan nya dari gawai di tangan nya.
"Tuh lihat sepupu sepupumu pada rajin semua, yang acara kan mertuamu. kamu malah seperti tamu, dasar.." ucap nya dengan pelan namun penuh dengan penekan.
"ya ya bude" sahut kakak iparku seraya beranjak dari tempat duduk nya. Masih dengan expresi wajah yang santai seolah merasa tak bersalah.
"kakak iparmu selalu begitu dari dulu Yan, semenjak masih gadis kok gak berubah prilakunya." ujar nya sembari mengubah posisi duduk nya menghadap ke arah ku.
aku yang sedari tadi sibuk memasuk kan makanan kedalam kantong untuk dibagi kan kepada tamu undangan ketika akan pulang besok hanya tersenyum tipis menanggapi ocehan ibu tadi.
kami biasa memanggil nya "de Dar" ya, nama nya Sudarmi adalah bude dari kakak iparku,kakak dari ibunya.
***
"kak Ratih tadi mana bang?", tanyaku pada abangku pagi itu sewaktu hari H acara resepsi pernikahan kakak perempuanku,
"masih dirumah"
"bude dar dari tadi nyari in tuh"
"kakakmu baru bangun, kecapean katanya"
"tapi ini sudah siang bang, kok kak Ratih gak di ajak sekalian sih"
"mandi aja belum." ujar nya seraya berlalu
aku hanya bisa diam mendengar penjelasan nya.
kecapean katanya, mana ada orang main hp capek. sudah bukan rahasia umum lagi setiap keluarga ku ada acara selalu saja kak Ratih beralasan. kadang sakit kapala, pulang dari jemput anak sekolah lama lah, macam macam lah alasan nya. pernah juga ia bilang lagi ngidam, betul betul ide yang luar biasa.
***
Hari sudah semakin siang, tamu sudah mulai berdatangan, tapi kak Ratih masih belum menunjuk kan batang hidung nya.
pihak mempelai pria beserta rombongan nya juga tak lama lagi akan sampai, membuatku semakin sibuk sampai lupa akan kakak ipar ku.
abang Ali suami kak Ratih sibuk dengan urusan nya sendiri, tak bisa beramah tamah dengan tamu. kadang terbersit rasa malu dihati mengingat kelakuan pasangan itu, pasangan aneh bagiku.
"Ratih mana yan?" tanya bude Dar yang entah kapan sudah berdirir di dekatku,
"tadi bang Ali bilang dia masih di rumah de, apa di dalam nggak ada?..
"anak pemalas itu jam segini masih belum nongol juga, bikin malu..." biar lah aku yang ke rumah nya" seraya berlalu bude Dar bergumam lirih.
"iya bude, ini tamu undangan udah rame. mempelai pria nya juga udah datang" timpalku seraya berharap bude Darmi bisa mengajak mbak Ratih untuk bantu bantu aku menyambut tamu.
Rumah Bang Ali memang tak jauh dengan rumah kami, berjalan kaki saja tak sampai lima menit. Dulu pernah Bang Ali tinggal dekat dengan mertua nya, sebelah rumah.
tapi hanya beberapa bulan, ribut sama mertuanya. hanya kerena kegoisan mereka, dan didikan keras mertuanya yang sering memarahi Kak Ratih karena terlalu malas sebagai istri, kurang lebih seperti itu terang bapak ku kala itu.
***
Senyum bahagia terpancar dari kedua mempelai dan kedua pasang orang tua masing masing. sesekali aku iku nimbrung bersama para tamu undangan yang ku kenal hanya sekedar beramah tamah.
Namun saat aku memasuki rumah ku untuk menyapa saudara jauh bapak ku, ada dua orang ibu ibu ala geng rumpi setengah berbisik bercerita tentang Kak Ratih,
"Seleb nya pak Ramlan kok dari pagi belum kelihatan ya"
"mungkin HP nya lowbet," ibu di sebelah nya menimpali di iringi tawa bahagia mereka.
aku terus berlalu menemuai keluarga jauh bapak ku tanpa menghirau kan kicauan ibu ibu tadi, toh yang mereka katakan itu benar adanya.
Aku kembali berbaur denga para undangan setelah sedikit berbincang denga keluarga jauh bapak ku sekedar menanyakan kabar dan pukul berapa mereka berangkat.
Netra ku menyapu sekeliling tak juga ku temukan Kak Ratih dan Bude Dar. Aku sedikit gelisah menuju jalan di depan rumah ku berharap Kak Ratih sudah ada di tengah keramaian. tapi mereka belum juga kelihatan
Namu sesaat sebelum sempat aku membalik kan badan, ku lihat Bude Dar berjalan cepat ke arah ku, bahkan setengah berlari mungkin. Terlihat kecemasan terpancar di wajah paruh baya nya.
Deg,, jantungku berdetak lebih kencang melihat gelagat Bude Dar, Tipuan macam apa lagi yang di buat Kak Ratih. Manipulasi dan alasan seperti apa yan di ciptakan Kak Ratih,sehingga membuat Bude Dar terlihat sangat cemas "Atau jangan jangan?" ......