Riuh suara tawa bercampur dengan dentingan alat dapur ibu ibu relawan yang sedang meracik bumbu di halaman belakang rumah pak Ramlan, tentu nya sesuai dengan instruksi juru masak yang telah disewa oleh tuan rumah.
Memang tak banyak ibu ibu sekitaran rumah pak ramlan yang hadir pagi itu, hanya beberapa tetangga yang cukup memiliki hubungan kerabat saja. pun juga demikian dengan para bapak bapak nya, tak sampai sepuluh orang. Padahal biasanya di daerah tersebut apabila ada tetangga yang akan mengadakan hajatan selalu ramai dengan para tetangga yang ikut membantu.
bukan tanpa alasan rumah pak Ramlan sepi akan kehadiran para tetangga yang bersimpati, semua tak lain adalah imbas dari sifat pak Ramlan yang agak angkuh dan kurang bergaul, begitu pula dengan Ali beserta istri, padahal mereka sejatinya bukan dari kalangan berada.
Hanya Yanti yang sedikit lebih akrab dengan teman sebaya di lingkungan tersebut, berbanding terbalik dengan Nadia kakak perempuannya yang akan melangsungkan resepsi pernikahan itu, dia lebih cendrung memiliki teman dari luar daerah.
sebenar nya pak Ramlan masih memiliki lagi seorang anak lelaki, namun istrinya pernah berseteru dengan Ratih pada awal awal pernikahannya. dan untuk menambah kemelut yang berkepanjangan, Sahar anak kedua pak Ramlan lebih memilih tinggal dan menetap dikota tempat mertuanya menetap.
cerita tentang Sahar dan istri serta kenapa mereka bisa pindah akan kita kupas tuntas pada pertengahan cerita, ditambah lagi dengan lelaki tampan yang mengenal Ratih pada awal kisah kemarin yang pasti membuat kita penasaran.
kita kasi bocoran sedikit ya, "Degol" itu sebenarnya bernama "FAISAL RAHMAN" semuanya nanti akan ada kaitan nya, ikuti terus kisah nya agar jangan gagal faham.
***
"Ratih tadi kemana Mbak"
Tanya bude kepada Husna, istri pak Ramlan.
"Tadi di ajak Yanti kepasar untuk membeli beberapa bumbu yang masih kurang"
"Ooohh, kirain masih tidur"
ujar Bude dengan nada mengejek.
Mendengar menantu kesayangan di sindir Bu Husna hanya nyengir kuda, tapi bukan kuda laut lho, sementara yang bertanya segera berlalu dan kembali ngumpul dengan ibu ibu di belakang.
"Seru nih kalau ada Bude, pasti Ratih nggak bakalan berkutik"
Terdengar seorang ibu membuka suara.
"Hanya Bude kelemahan Ratih"
ibu yang lain menimpali.
"Coba aja berani melawan, bakalan kualat"
Ibu yang lain menambahkan, diiringi dengan tawa beberapa yang lainnya.
"Sebenarnya aku gak bakalan sewot, asalkan dia jangan hanya mainin HP melulu sementara kita yang capek mengerjakan semua"
Panjang kali lebar bude menjelaskan. bahkan lebih lebar dari ukuran badannya.
"Kenapa tak direbut dan di banting aja HP nya Bude"
kembali seorang ibu bertanya.
"Pengennya sih begitu"
Ia menjawab sambil terus tangannya mengupas kentang untuk menu makan mereka siang ini.
"Bisa kasus lho Bude"
ibu yang pertama tadi menambahkan.
"Itulah kenapa aku belum membanting HPnya"
Bude menjawab dengan tenang tanpa expresi.
Begitulah terus, tak kan ada habisnya kalau membahas tentang Ratih, selalu menarik untuk dijadikan bahan gibahan. dan tanpa mereka sadari bahwa hal tersebut menguntungkan Ratih. karena menurut agama secara tak langsung mereka mentransfer pahala mereka untuk Ratih.
Mereka menghentikan aktivitas gibah nya saat melihat dari arah depan, Ratih datang dengan menenteng beberapa kantong besar belanjaan dan langsung menuju kearah mereka melalui jalan samping rumah yang sebelumnya telah di siap kan untuk acara seperti ini.
Namun di saat bersamaan mereka saling tatap diantara mereka lalu hening sebentar, lau sedetik kemudian entah siapa yang mengomando pecah lah gelak tawa mereka secara bersamaan sangat kompak bagai konser orkestra. itulah hebat nya geng rumpi walau hanya dengan pandangan mata mereka bisa mengerti kearah mana pemikiran mereka.
Ratih yang mendengar nya bahkan dibuat heran, akan tetapi saat ia sadar kalau yang mereka tertawakan adalah dirinya. Dia malah tak menghiraukannya dan tetap berlalu menuju dapur untuk menaruh belanjaan yang ia bawa. padahal dia memang sengaja ingin lewat samping rumah agar ibu ibu dan terutama Budhe yang ada dibelakang tahu kalau juga kerja. namun sepertinya mereka sudah mengetahui rencananya.
***
Drrrt,,, Drrrrt,,, Drrrrrt,,,, ponsel Ali bergetar, terlihat di layar nya nama seseorang yang selama beberapa tahun terakhir menemani hidupnya memanggil.
Dia lalu menekan tombol biru yang ada dilayar HP nya.
"Ada apa dek?"
Dia bertanya setelah lebih dulu meletakkan HPnya di sisi wajahnya.
"Jemput Nabila Bang"
terdengar suara dari seberang.
"Kan biasa kamu yang jemput"
kembali Ali membalas.
"Aku capek Bang baru pulang dari belanja tadi sama Yanti"
"motor tadi di bawa sama Jojo"
"Pakai motor Yanti aja Bang"
"Kamu aja yang jemput dek, Aku lagi banyak tamu ni"
Ali menjelaskan dengan suara lirih tak enak kalau sampai didengar oleh yang lain.
"Aku malu sama ibu ibu disini nanti katanya hanya alasan agar aku bisa menghindari pekerjaan"
"ya ya ya"
malas berdebat Ali segera mengiyakan.
Ali memang jarang membantah perkataan istrinya bukan karena ia takut, tapi Dia sadar kalau itu tak ada gunanya.
kemudian dia pamit kepada teman teman nya untuk menjemput anak nya.
"Kalau capek istirahat lah dulu"
bu Husna mengingatkan menantu kesayangannya,
"Mau ibu ambilkan air es di depan?"
Ia menambahkan.
" biar Ratih ambil sendiri aja Bu"
Dia segera berdiri jangan sampai keduluan mertuanya yang mengambilkan air untuknya, bisa makin menjadi tetangga menggibahnya.
Belum sampai Dia ke teras depan dan masih di ruang tengah, Dia melihat ayah mertuanya sedang mengobrol dengan seseorang yang tak di kenal nya. Dia pun juga tak ingin mengenalnya.
"Ratih sini dulu nak,"
tiba tiba malah Pak Ramlan yang memanggilnya.
"kenalkan mas, ini istri Ali."
dia mengenalkan Ratih pada orang tersebut.
Tanpa di perintah Ratih segera menyalami orang tadi.
"ini bang Ruslan, yang tinggal di kalimantan"
Pak Ramlan berbicara pada Ratih.
"nah yang tadi di luar ngobrol dengan Ali tadi anak nya,"
Ratih hanya tersenyum mendengar penjelasan mertuanya. tak ada kata kata terucap dari bibir nya, karena memang dia tak terbiasa bersosialisasi, apa lag dengan orang yang baru di kenalnya. meskipun ia tahu kalau itu saudara mertuanya yang datang dari jauh.
Tak lama Ali datang bersama putri nya Nabila, melihat itu dia langsung pamit pulang untuk mengganti seragam anaknya.
***
"Bang, yang tadi siang ngobrol sama bapak itu siapa?, yang katanya dari Kalimantan"
Ratih bertanya pada suaminya saat mereka sedang bersiap untuk tidur. karena rumah nya tak jauh dengan rumah Pak Ramlan jadi Ali dan istrinya tak perlu menginap di rumah orang tuanya walau pun ada acara di rumah Pak Ramlan.
"Itu abang nya bapak, mereka sudah lama merantau"
"kok aku baru tahu sih bang?"
"Baru ketemu kontaknya, kemarin bapak menyuruh Yanti untuk mencari info di sosmed"
"Tapi bapak ataupun ibu tak pernah cerita kalau mereka punya saudara di kalimantan?"
"Dulu waktu pamit nya masih bujangan, itupun bukan ke kalimantan"
Ali menjelaskan pada istrinya.
Ratih sebenarnya tak terlalu fokus pada penjelasan suaminya, ia sibuk menggoda suaminya. dengan tangan yang pegang sana pegang sini. Ali yang nggeh dengan maksud sang istri mulai meladeni,, akan tetapi ditengah panasnya permainan mereka tiba tiba sang buah hati yang tidur di kamar sebelah berteriak,
"Ibu,,,,...."
"Ibu,,,,..."
Sontak membuat mereka kaget dan menghentikan aktivitas ranjangnya lalu bergegas melihat ada apa dengan Nabila,
"Ada apa nak?"
Ratih betanya pada anak nya, setelah merasa sedikit lega melihat keadaan si buah hati dengan kondisi baik baik saja.
"nggak bisa bobo"
Jawab si kecil
" emang kenapa?"
Ratih penasaran.
"Berisik, seperti ada orang lari"
"Dimana ?"
Kali ini Ali yang bertanya
Tapi Nabila hanya menggeleng
"Hanya mendengar suara nya, ah, oh, begitu pak"
Nabila mencoba menjelaskan, mendengar itu Ratih dsn Ali saling pandang lalu tersenyum, kelihatan nya mereka pun sepasang suami istri yang juga kompak. sama seperti ibu ibu siang tadi walaupun hanya dengan tatapan mata mereka bisa mengerti jalan pikiran masing masing.
"Nabila cuma mimpi nggak"
Ratih membuat sugesti
"Tapi Nabila takut, mau pipis"
rengek nya
"Ayo ibu antar"
Dia segera menuntun anak lima tahun itu ke kamar mandi, dan Ali segera masuk ke kamarnya.
Setelah menyelesaikan misinya Nabila masih merasa takut dan ingin tidur dengan sang Ibu,
"Nabila masih takut bu, tidurnya sama ibu ya"
pintanya pada sang bunda.
"Nabila kan udah gede, jadi harus berani"
Ratih mencoba membujuk anaknya.
Tak ada jawaban Nabila tertunduk dalam diam, masih ada rasa takut dihatinya.
Melihat itu rasa iba seorang ibu muncul.
"Tapi janji ya hanya malam ini"
Ratih menegaskan
Nabila hanya mengangguk menandakan kalau dia setuju. Lalu mereka masuk ke kamar sang bunda, sementara didalam Ali sudah terlelap dibuai mimpi. Melihat semua itu Ratih hanya bisa menghela nafas dalam dalam....
"Hheeeehhhhh,,,, Gagal, Gagal,,,,.... "
Dia membatin sambil menggelengkan kepala.