Pov Budhe Darmi

1315 Kata
BUDHE DARMI Suara toa di masjid dekat rumahku terdengar jelas mengajak seluruh umat islam untuk melaksanakan kewajiban nya melaksanakan sholat fardlu, aku segera bangkit dari tempat tidur lalu mandi dan segera berwudhu lalu kembali kedalam kamarku melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslimah. Dirumah aku hanya tinggal seorang diri. sebenarnya aku memiliki tiga orang anak, namun hanya Eko yang tinggal satu kecamatan denganku. sebagai anak lelaki pertama dia merasa bertanggung jawab menjagaku itulah kenapa dia dulu menolak tawaran pekerjaan diluar negri meski dengan tawaran gaji yang lumayan tinggi. "Kenapa kamu menolak nya lhe?" aku mencoba bertanya kenapa ia menolak nya. "Kalau aku pergi jauh nanti ibu gimana?" jelasnya. "Ibu masih sehat gini kok di khawatirkan,kalau kamu menerima tawaran itu masa depan kamu akan terjamin" Aku kembali meyakinkannya. "Bagiku ibu adalah masa depanku" ujarnya mantap. Aku sudah tak mampu mengeluarkan kata kata lagi tapi masih bisa menahan rasa haru dan air mata bahagia, sebisa mungkin aku mencoba untuk tidak menangis didepan nya , meski itu tangis bahagia. Aku merasa bersyukur di karunia seorang seprti Eko. Kalau hal materi sebenarnya tak menjadi masalah bagiku, tanah perkebunan yang luas dengan hasil yang melimpah tinggalan suamiku lebih dari cukup untuk wanita sepertiku. Terbukti selama ini aku bahkan mampu menyekolahkan anak anak ku sampai perguruan tinggi. Dua anak perempuanku sekarang tinggal jauh bersama suami masing masing berbeda pulau tapi masih dalam negri. aku tak perlu mengkhawatirkan mereka berdua karena mereka telah sukses disana. Tentang suamiku, hehehe.... aku masih berencana akan merahasiakan kepada pembaca, dimana dia siapa dia, ada apa dengan hubungan kami, dan bagaimana kami bertemu nanti semua akan dijelaskan pada bab bab yang akan datang.,, .. Bahkan anak anakku pun tak ku beri tahu dimana dia sekarang, Hanya Eko yang pernah sekali ku pertemukan pada saat ayah nya meminta nya untuk menjadi wali dalam pernikahan adik adiknya. *** Hari ini aku akan pergi bantu bantu di rumah pak Ramlan untuk persiapan acara resepsi putri nya, sebenarnya aku malas. tapi berhubung ia adalah besan adik ku dengan berat hati ku paksakan langkah ku menuju ke sana. apalagi mengingat sikap Ratih, menantu pertama nya sekaligus keponakan ku. perempuan pemalas tersebut hanya mementing kan kecantikan nya tanpa bisa merubah prilaku nya menjadi lebih baik. padahal dulu aku ingin menjodohkan nya dengan Eko putraku,namun ia menolak nya. bahkan penolakan nya disertai hinaan terhadap putraku, kejadian tersebut sempat membuat hubungan ku dengan keluarga nya menjadi sedikit renggang. Namun semua sudah berlalu,keluaga kami pun akur seperti sedia kala. Namun menyisakan sedikit rasa benciku kepada Ratih, itulah kenapa aku kadang membalas nya dengan menyindir kemalasan nya. Namun sepertinya semua itu tak berarti bagi nya. *** "Ratih tadi mana yan?" tanyaku pada anak gadis nya pak Ramlan. "tadi kata Bang Ali masih dirumah De, apa di dalam nggak ada?" Yanti menjawab nya dengan nada kebingungan. "Anak pemalas itu jam segini belum nongol juga, bikin malu, biar lah aku yang kerumah nya." aku bergumam lirih, namun sepertinya Yanti mendengar nya. "Iya bude, ini para tamu undangan udah pada rame. Mempelai pria juga udah datang."imbuh nya lagi. Aku bergegas menuju rumah Ali yang berjarak beberapa rumah dari rumah pak Ramlan, "Ratih,.... Ratih,.....Ratih..." aku memanggil nya sembari menggedor pintu rumah nya. agak keras sih berharap kalau ia tedur bisa terjaga. namun tak ada jawaban. kucoba kesamping rumah nya hingga ke belakang tetap tak ada tanda tanda kalau ada Ratih di dalam nya. Aku istirahat sebentar duduk di teras nya, sembari mengamati sekeliling. tiba tiba aku merasa ada satu kejanggalan, sandal pria di teras. ya, dilihat dari ukuran nya sandal itu bukan milik Ali. Aku bergegas ke samping rumah nya yang bersebelahan dengan kamar tidur nya, lamat lamat aku mendengar suara dari dalam nya, suara desahan bersahutan dari dalam kamer Ratih, suara manja sepasang insan sedang memadu kasih. darah ku seakan mendidih mendengar semuanya, "Ratih,, Ratih,, apa kau yang ada di dalam, sedang apa kau di sana,." aku kambali mamanggil namanya sembari menggedor jendela kamar nya. tiba tiba suara itu hening, ku coba mencari celah untuk melihat ada apa di dalam nya, namun nihil. tanpa berlama lama aku bergegas menuju kerumah pak Ramlan untuk memberitahukan nya pada Yanti. Rasa cemas disertai berbagai macam pikiran tak menentu menghantui pikiran ku. meski aku membenci Ratih aku juga tak berharap ia melakukan hal tak senonoh yang bisa mempermalukan dirinya dan juga keluarga nya. Dari kejauhan ku lihat Yanti ada di depan rumah nya, ku percepat langkah ku. Dia pun seperti nya menunggu ku. "Ada apa Bude?" "apa yang terjadi?" pelan suara Yanti bertanya padaku. "Ratih, Ratih"... rumah nya terkunci namun aku mendengar sesuatu dari dalam kamar nya. seperti ada suara lelaki, mana Ali?" terengah engah aku menjelas kan semuanya pada Yanti, padahal sebelum nya aku telah mengatur nafas agar tidak ngos ngos an. "Bude istirahat dulu di teras nya Jojo agar tak menimbulkan kepanikan yang lain nya, jangan cerita ke yang lain dulu Bude, aku akan cari Bang Ali." Dia segara berlalu sementara aku istirahat di teras nya Jojo tepat di sebelah rumah pak Ramlan. Tak lama kemudian Ali muncul di iringi Yanti di belakang nya, Ali berlalu tanpa menoleh ku sementara Yanti hanya mengisyarat kan padaku agar segera mengikuti mereka. "cklek" Ali membuka kunci dan dengan tergesa mendorong pintu nya lalu ia segera masuk menuju kamar nya namun tak menemukan apa apa yang mencurigakan. ia terus menggeledah seisi rumah tetap tak menemukan sesuatu yang mencurigakan. sementara kami hanya menunggu di luar. Aku dan Yanti malas masuk karena rumah nya berserakan dengan segala macam barang. dilihat dari debu nya mungkin hampir satu minggu rumah ini belum pernah di bersih kan walau hanya sekedar menyapu lantai. Tak lama Ali keluar lalu menghampiriku dengan wajah kecewa, "Nggak ada apa apa bude, tadi kata Yanti bude mendengar sesuatu dari dalam rumahku" "iya, tadi Bude mendengar suara dari arah kamarmu, dan di sa..." ucapan ku terhenti saat akan menjelas kan perihal sandal di teras rumah nya, tapi sekarang saat aku menoleh kearah teras, sandal nya sudah tidak ada lagi di posisinya. "Aku tahu Bude membenci Ratih, tapi jangan menuduh Ratih yang enggak enggak." "Bude nggak bermaksud seperti itu Li," "Tapi ini barusan apa nama nya." "Tadi Bude memang mendengar suara dari arah kamar mu." "Sekarang buktinya, nggak ada apa apa" Aku dan Ali sibuk berdebat, sedangkan Yanti hanya menyimak, Aku tahu dia bingung dengan apa yang terjadi. Aku tak bisa membuktikan apa yang aku katakan pada nya tadi, sedang kan Ali mencoba menyalah kan ku atas kejadian ini. Tiba tiba Ratu pemalas datang, dengan pakaian yang sedikit kotor seperti terkena tumpahan makanan. "Ada apa ini ribut ribut, Ada apa Bang?" Dia mencerca suami nya dengan pertanyaan. Ali segera menjelas kan semua yang terjadi. "Aku tahu Bude membenci ku, tapi jangan fitnah aku tanpa bukti dong" dia sedikit meninggika nada bicara nya padaku. "Untung aja nggak ada orang lain yang tahu kejadian ini, Bude mau mempermalukan aku ya?" ujar nya seraya menurun kan sedikit volume suara nya. Melihat aku hanya diam Ratih kembali ingin mengatakan sesuatu namu Yanti lebih dulu menyela. "Sudah lah mbak, mungkin tadi suara kucing , atau mungkin suara tv, ini hanya salah paham. " "mana ada kucing di rumah ini, ya kan Bang,? sergah Ratih pada Yanti. Sementara Sang Suami mengangguk setuju. "sudah mbak," kembali yanti mengingatkan. "nggak boleh begitu sama orang tua" Yanti mencoba membelaku. Belum sempat Ratih mengucap kan kata kata Yanti segera mengamit tangan ku. "Ayo Bude, masih banyak yang harus kita kerjakan di tempat acara" "Tunggu Yan" Ratih berusaha mencegah tapi Yanti tak mengindahkan nya. Aku tak bisa berkata apa apa lagi selain mengikuti ajakan gadis ini. aku masih bingung dengan semua ini. Aku merasa belum terlalu tua untuk mengalami gangguan pendengaran. Selang beberapa meter meninggal Ratih dan Ali aku kembali menoleh ke arah pasutri tersebut, kulihat Ratih menyungging kan senyuman sinis kepadaku seraya memicingkan sebelah mata nya membuat hatiku bertanya tanya. Ada apa ini? Drama apa yang di ciptaka pemalas itu.? pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku, aku harus cari tahu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN