Dia adalah Safa

412 Kata
Han meninju dinding kamarnya. Rasa perih ditangannya tak mampu mengalihkan rasa perih di dalam hatinya. Sesak yang dia rasakan seakan akan pasokan oksigen yang begitu banyak itu sudah menipis. Bodoh... Makinya pada diri sendiri. Ya, Han memang sangat bodoh. Dia sangat berharap agar Safa mencari nya lebih dulu. Hanya karena dia memberi tip yang lumayan besar pada Safa yang bekerja sebagai admin online itu. Han bodoh, terlalu yakin bahwa usahanya akan menimbulkan satu pertanyaan di benak Safa dan berharap Safa akan menghubunginya terlebih dahulu. Sungguh konyol. Dia lupa Safa bekerja secara profesional, wajar dia mendapatkan bonus dari para konsumen nya. Bahkan mungkin ada yang memberinya lebih besar daripada Han. Pagi ini Han melihat semua yang terjadi di alun alun. Selama ini Han setia menjadi penguntit Safa. Dia melihat Safa bercanda dengan seorang pria. Randy yang kemudian ikut bergabung dan bersama,membuat Han meradang. Dia juga melihat bagaimana Safa sempoyongan. Tapi dia kalah cepat dengan pria yang menemui Safa tadi. Pria itu sudah lebih dulu menangkap tubuh Safa dan membawanya pergi. _________________________ Sementara itu Dewa tampak bergegas memasuki ruang UGD. Di belakangnya ada seorang anak kecil yang tampak sangat cemas. Dewa berteriak seperti orang gila memanggil dokter dengan sangat keras. "Dok, tolong teman saya dok. Cepat!". Ucapnya panik. Dokter yang sedang sibuk memeriksa berkas segera menoleh. Menatap suster dan bertanya dengan pandangan matanya. "Maaf dok, bapak ini memaksa masuk." suster itu menjelaskan. Dokter itu menatap kesal kemudian menyuruh Dewa membaringkan Safa ke ranjang pasien. Dokter itu langsung memeriksa Safa. Menuliskan resep yang harus di tebus.Menatap Dewa dengan tatapan tajam. Memberi perintah pada suster untuk meninggalkannya berdua. Dokter itu kembali menatap tajam pada Dewa. "Apa yang kau lakukan padanya? Kamu selalu saja membuat ulah." "Aku tidak melakukan apapun. Dia pingsan aku melihatnya." "Dia siapa?dan kenapa kau bisa sepanik ini?" Dewa menatap kakaknya dan menjawab dengan singkat. "Dia Safa. Wanita yang sering aku ceritakan pada kakak." "Apa kau tahu dia tidak boleh kelelahan? Penyakitnya akan semakin parah." "Aku mohon obati dia kak, aku yang akan menanggung semua biayanya." Pinta Dewa memelas. Bintang mengangguk. Meskipun dia ragu, dia harus mencobanya. "Kamu harus bisa membujuknya untuk berobat ke Singapura." "Sebenarnya dia sakit apa kak?" "Kanker darah." Deg. Lutut Dewa goyah. Matanya berkunang kunang. Kenapa Tuhan mengujinya seperti ini. Di saat dia jatuh cinta pada seorang janda beranak satu dia tidak pernah menyalahkan takdir. Karena jodoh sudah digariskan dari sebelum dia lahir. Tetapi ketika dia invin berusaha menggapai jodohnya, dia di vonis kanker darah. Runtuh sudah tembok kekuatan hati Dewa. Dia menitikkan airmatanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN