Mencintai itu rumit.
Itulah yang saat ini di rasakan oleh Han. Rasanya terlalu sulit baginya untuk mendekati Safa. Bukan karena dia insecure, tapi dia lebih berhati hati menjaga Safa. Dia tidak ingin gegabah. Hingga pada akhirnya membuat Safa takut dan malah lepas dari genggaman.
Han cukup tahu bahwa sedang berusaha sangat keras untuk bangkit.
Bingung, bagaimana caranya memperkenalkan diri pada Safa. Sementara dia tidak ingin ada orang lain yang mendahuluinya
Setelah mempertimbangkan dengan baik,Han bertekad menemui Safa di rumahnya.
_______________
Hari minggu yang dinantikan pun tiba.
Safa yang hari ini libur sudah berjanji pada Randy akan mengajaknya pergi bermain.
Mereka pergi ke alun alun di kota itu.
Tampak Randy sangat senang sekali. Walaupun tidak seperti anak orang kaya yang pergi ke mall, Randy sangat senang sekali. Berlari ke sana kemari. Mencoba segala macam permainan yang ada.
Sementara Safa duduk di bangku pinggi alun alun.
"Permisi mbak, boleh saya ikut duduk di sini?"
Safa menoleh.
"Silahkan."
Pria itu duduk di samping Safa. Tampak kecanggungan dirasakan oleh Safa. Tidak biasanya dia duduk bersama seorang pria.
"Kok sendirian mbak? nganter adiknya ya?" mengikuti arah pandangan Safa yang dari tadi menatap Randy.
Laki laki itu berusaha mencairkan kecanggungan yang sangat sekali terasa.
"Saya bersama anak saya pak."
"Oh.. maaf saya kira masih single. "
Safa tersenyum.
"Kenalkan... Saya Dewa." laki laki itu menjulurkan tangannya ke arah Safa.
Safa tersenyum.Menangkupkan kedua tangannya.
"Saya Safa."
Dewa tampak mengulas senyum pada wanita di sampingnya. Sudah menjadi rahasia umum kalau Safa adalah seorang janda. Selama ini Dewa sudah tahu. Hanya saja dia mencari waktu yang pas untuk mendekati Safa. Dewa adalah pria yang cukup mapan. Di usianya yang sudah sangat matang,dia belum mendapatkan wanita yang cocok di hatinya.
Namun Safa, janda dari Pram itu mampu membuat hatinya benar benar nyaman. Safa sangat menghargai orang lain.
Apalagi Dewa yang berwajah pas pas an.
Dia tidak menyangka bahwa Safa mau membuka diri berkenalan dengannya. Biasanya para wanita akan langsung menatap jijik dan malas kepadanya. Ya.. Dewa sadar
kekurangan dirinya itu. Wajah yang tidak tampan, postur tubuh yang tidak terlalu tinggi. Kata wanita jaman sekarang tidak pantas kalau di ajak ke kondangan.
"Dengan siapa pak? Istrinya mana?"
Safa bertanya dengan lembut. Membuyarkan lamunan Dewa.
"Eh.. itu, saya sendirian kok. Tadi muter muter aja di sini. "
Safa menganggukan kepalanya.
Dan mereka pun bertukar cerita. Safa tidak mudah dekat dengan laki laki. Tapi melihat sikap Dewa yang sopan Safa pun menjawab pertanyaan Dewa.
"Oalah ternyata kita itu satu desa ya? kok saya ga tahu ya?"
"Mungkin karena saya lama tinggal di perantauan jadi mbak gak kenal sama saya."
"Mamaaaa...."
Terlalu asyik mengobrol membuat Safa tidak tahu kalau Randy sudah menghampirinya.
"Iya sayang.. Sini salim dulu sama om ini. Ini om Dewa..
Randy pun mendekati Dewa, mengulurkan tanganya.
"Saya Randy om.. "
"Panggil om Dewa saja nak."
Randy mengangguk.
Mereka bertiga terlihat sangat akrab. Dewa berulang kali mengajak Randy untuk bermain bersamanya.
Safa hanya memperhatikan mereka berdua. Ah, andai mas Pram bisa seperti ini dengan Randy.
Tiba tiba dadanya bersenyut nyeri. Nafasnya terasa sesak. Kepala Safa pun berkunang kunang.
Dewa yang menoleh ke arah Safa sangat kaget melihat bibir pucat Safa.
"Safa, kamu gak papa?"
" Saya tidak apa apa pak."
Randy menoleh. Dia sedang berdiri di depan Dewa sedang bermain batu gunting kertas. Mendekati mamanya.
"Mama kenapa sangat pucat.
Ayo ma,kita pulang!" ajaknya.
Safa mengangguk dan mengambil tasnya.
"Om,kami pulang ya..bermainnya lanjut kapan kapan ya."
Dewa mengangguk. Memperhatikan dengan teliti wajah Safa yang meringis kesakitan.
"Hati hati ya..."
Saking senangnya bisa berkenalan dengan Safa dan Randy,Dewa lupa menawarkan diri untuk mengantar pulang ibu dan anak itu.
Dilihatnya punggung mereka berdua yang berjalan menjauh.
Baru sekitar 3 meter berjalan,terlihat Safa berjalan sempoyongan. Melihat itu
Dewa berlari mengejar dan menangkap tubuh Safa sebelum jatuh ke tanah.