Rahasia

510 Kata
Safa membereskan meja kerjanya. Setelah menitip pesan pada Rere,kemungkinan dia akan terlambat kembali karena akan menemui Nafi. Bergegas Safa menyeberang jalan.Menuju ke cafe. Safa sengaja memilih duduk di bangku yang paling sudut. Sedikit jauh dari bangku yang lain. Di sisi kirinya dia bisa melihat pemandangan ke luar cafe. Mengecek ponselnya. Safa memesan lemon tea. Sengaja tidak ingin memesan makanan karena dia tidak ingin terlalu lama. Tak lama kemudian tampak seorang pria dan wanita mendekatinya. "Mbak Safa ya?" tanya wanita. "Iya mbak." jawab Safa. Mereka kemudian duduk. "Mau pesen apa mbak,mas." tanya Safa berbasa basi. Wanita itu memanggil pelayan. Dan memesan minuman. Setelah saling berkenalan. Pria itu mengaku bernama Hannafi sementara wanita itu adalah Fitri. Awalnya Safa mengira mereka adalah sepasang kekasih atau pengantin baru. Tapi ternyata mereka kakak beradik. "Maaf sebelumnya mas,mbak atas ketidak nyamanan pelayanan kami. Saya ingin mengajukan penawaran. Mas menghapus postingan tentang kami di medsos,dan saya akan memberikan ganti rugi yang sesuai." Mereka saling berpandangan. Hannafi tersenyum licik. "Maaf mbak,kami tidak mau ganti rugi. Saya akan menghapus postingan itu kalau mbak Safa mau saya ajak makan malam di rumah saya." "Maaf mas saya gak bisa mas,soalnya saya mesti pulang. Kasian anak saya kalau saya pulang malam." jawab Safa berkelit. "Ya sudah biarkan saja postingan itu tetap ada toh gak akan berpengaruh apa apa padamu yang hanya seorang karyawan." katanya sinis. Mereka masih ngotot dan Safa juga tidak setuju dengan syarat yang mereka berikan. Tiba tiba dari belakang Hannafi dan Fitri tampak seorang pria dengan kaca mata hitamnya. Mendekati Safa. "Hay .. Safa... boleh aku bergabung?" tanyanya sembari melepas kacamatanya Safa tersenyum. "Tapi aku sedang membahas pekerjaan." "Anggap saja aku tak ada di sini." ucapnya santai sambil menarik kursi di samping Safa. "Silahkan dilanjut Fa." Safa terlihat canggung. Melirik ke arah Hannafi yang tampak kurang senang dengan kehadiran Dewa. Sementara Dewa pura pura melihat ke arah ponselnya. "Tampaknya pembicaraan kita tidak bisa kita lanjutkan sekarang mbak Safa. Kami masih ada urusan. Secepatnya saya tunggu berita baik darimu." ucap Hannafi dengan ketus. "Baiklah mas.Nanti saya kabari." Terimakasih atas waktunya. Jawab Safa dengan sopan. Begitu Hannafi berdiri Dewa juga berdiri. Menatap Hannafi dengan tajam. Sehingga udara di sekitarnya tampak sangat sesak. "Saya peringatkan pada anda Tuan Hannafi Hadi Winata. Agar tidak menindas seorang wanita yang lemah." Hannafi balas menatap ke arah Dewa. Tersenyum meremehkan. "Maaf saya tidak ada urusan dengan anda. Permisi."Hannafi dan Fitri segera berlalu dari tempat itu. Sekarang tinggal Safa dan Dewa. Safa merasa canggung di tatap oleh Dewa. "Aku merindukanmu,sudah hampir dua minggu kau mengabaikanku. Ada apa?" Dewa memang sangat suka sekali menggoda Safa. Safa tersipu malu. "Apaan sih mas." jawabnya malu malu. "Ayo ku antar kau pulang." "Tapi aku masih kerja mas." "Biar aku yang bilang pada Anggi." Katanya tegas tak ingin dibantah. Sebentar aku telpon Anggi dulu. Sungguh Safa tidak tahu siapa sebenarnya Dewa,dia begitu kenal dengan bu Anggi. "Hallo nggi.hari ini aku pinjem Safa ya..Sekalian ku antar pulang." "ish.. kau menyebalkan." jawab Anggi sewot dan langsung menutup telponnya. "Ayo... aku akan mengajakmu ke suatu tempat." "Ke mana mas?" Dewa hanya tersenyum dan berbisik "rahasia."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN