Masalah

566 Kata
Semenjak kejadian di rumah sakit. Dewa sering sekali mengajak Safa maupun Ran untuk bertemu. Entah hanya sekedar makan ataupun pergi ke alun alun. Sampai detik ini Safa tidak pernah tahu siapa Dewa sebenarnya. Hari ini Safa mulai masuk kerja lagi setelah cuti karena sakit. Selama sakit Safa memang mengerjakan pekerjaannya dari rumah. Dan pagi ini seperti biasanya orang yang pertama kali heboh melihatnya adalah Rere. Setelah bertanya kabar dan lain lain mereka berdua segera berbenah. Mereka berdua sedang memajang koleksi terbaru dari Afashion. "Fa.. kamu tahu gak beberapa hari yang lalu Afashion menerima komplain banyak banget. Kasian bu Anggi sampai pusing katanya." "Siapa yan komlain Re dan apa keluhannya Re?" tanya Safa. "Itu loh,pelanggan yang bernama Nafi dan fitri katanya kurang puas dengan pelayanan di sini. Mereka bahkan meng upload di medsos Fa. memberikan penilaian yang buruk pada Afashion." Safa mendelik kaget. "Siapa yang menangani pesanan Nafi sama Fitri Re?" "Bu Anggi sendiri Fa." "Apa.....?" Safa berteriak dengan sangat keras. Bagaimana mungkin Bu Anggi yang terkenal sangat baik itu mendapat komplain dari pelanggan. Rere langsung menjitak Safa dengan keras. "Jangan keras keras. Semua orang melihat ke kita."bisik Rere. Safa tersenyum canggung. "Temani aku bicara sama bu Anggi yuk. Takut nih." pinta Safa memelas. "Ayuk,aku juga gak mau lama lama pusing mikirin penurunan omset gara gara orang picik kayak si nafi nafi itu." Safa dan Rere bergegas ke ruangannya bu Anggi. Tok tok tok. Masuk. Terdengar jawaban dari dalam. Safa memutar gagang pintu dengan pelan. Tampak bu Anggi sedang sibuk memeriksa berkas laporan. Safa segera menyeret Rere dengan tangan kirinya. Masuk mendekat ke arah meja bu Anggi. "Ada apa?" tanya bu Anggi tanpa menoleh ke arah mereka. Cukup lama Safa dan Rere terdiam tak menjawab pertanyaan bu Anggi. Sontak hal itu membuat bu anggi penasaran. Menautkan kedua alisnya melihat dua orang karyawannya terlihat menundukan kepala. "Ada apa Safa? " bu Anggi mengulang pertanyaannya. "Saya mau bertanya tentang keluhan pelanggan yang masuk bu." Bu Anggi tersenyum lembut. "Duduklah.. Rere apa kau akan menempel pada Safa seperti itu terus?" sindirnya pada Rere yang terus menggenggam tangan Safa. Bukan apa apa,Rere hanya khawatir akan masa depannya. Menurut kabar yang beredar bu Anggi bisa memecat karyawannya sesuka hati. Setelah Safa Dan Rere duduk dengan tenang di depan meja bu Anggi. Bu Anggi mengangsurkan beberapa lembar kertas di depan Safa. Safa terkejut melihatnya. Pelanggan yang bernama Nafi itu memberikan komplain yang tidak masuk akal. Padahal secara prosedural pesanannya dikerjakan dengan cermat dan tepat. Juga tentang kualitas.Koleksi Afashion adalah rancangan dari bu Anggi dengan kualitas bahan dan jahitan yang tidak perlu di ragukan lagi. "Maaf bu,saya merasa mereka sengaja memberikan komplain. Komplain yang mereka layangkan juga terkesan dibuat buat. Entah maksudnya apa. Tapi menurut saya itu sudah sangat parah karena berani mempostingnya di sosmed." kata Safa. "Tentu saja hal itu membuat reputasi Afashion tercoreng." Rere menyambung ucapan Safa. "Apa yang harus kita lakukan? tidak mungkin kita menekan media karena nanti media akan menganggap kita semakin buruk." Bu Anggi menghela nafasnya lelah. "Saya akan menemuinya bu, karena selama ini saya yang melayani pemesanan dari dua orang itu. Saya akan menyelesaikan secara kekeluargaan. Tapi jika memang mereka masih ngotot saya akan melaporkan nya ke pihak berwajib dengan alasan pencemaran nama baik." "Kamu yakin Fa?" Yakin bu." jawab Safa mantap. "Baiklah,aku menunggu kabar baik darimu." ucap bu Anggi. "Kalau begitu kami permisi bu..." "Silahkan." Safa dan Rere keluar dari ruangan bosnya. "Kamu yakin Fa?" tanya Rere. "Yakinlah, aku akan menghubungi mereka nanti. Apa kau mau menemaniku?" "Maaf Fa,hari ini aku ada acara di rumah.Bagaimana kalau besok saja?" "Lebih cepat lebih baik Re. Tak apa kalau kau tak bisa menemaniku. Aku berani sendiri." jawab Safa. "Oke,baiklah. Hati hati ya." Dua orang sahabat itu berpisah. Rere kembali ke depan untuk melanjutkan pekerjaannya melayani para pembeli di depan. Sementara Safa menuju ruang admin. "Huft, tampaknya hari pertamaku masuk setelah lama cuti sakit sudah banyak PR." lirihnya. Safa duduk dan menghidupkan laptopnya. Mengecek semua data yang ada di laptopnya. Setelah cukup lama tenggelam dalam pekerjaanya,Safa mengeluarkan poselnya. Mengetikkan nomor ponsel Nafi kemudian menulis pesan. Singkat tapi sangat jelas. Bisa kita bertemu? Saya Safa. Admin Afashion. Send. Safa memang tidak suka berbasa basi. Toh mereka pasti sudah tahu apa tujuannya bertemu. Apalagi kalau bukan tentang masalah yang sedang ramai diperbincangkan netijen. Beberapa saat kemudian ponselnya berbunyi. Ternyata Nafi membalas pesannya. Baik. Nanti jam makan siang saya tunggu di cafe seberang jalan. Aneh. Siapa sebenarnya Nafi. Dia kan bisa langsung datang ke toko untuk mengajukan komplain. Kenapa harus membuat huru hara di medsos. Safa tampak bimbang menulis balasannya. Oke. Akhirnya dia menjawab dengan kata yang singkat. Sementara di seberang sana. Laki laki itu tersenyum misterius. Akhirnya kau masuk jebakanku juga. ????????? Hay hayyyyy para pembaca yang budiman. Terimakasih sudah meluangkan waktu membaca karya recehku ini. Semoga kalian suka ya.. Maafkan jika banyak typo. Saya lagi belajar menulis. Dan karena ini karya pertama saya p lastinya banyak buanget kekurangannya..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN