Sekitar pukul lima pagi, keadaan papa mulai membaik. Tetapi tetap saja perasaanku tidak karuan. Aku sempat memutuskan ingin membolos kuliah dan mendengar hal itu mama sangat marah denganku dan ia membujuku untuk kuliah. Aku pun terpaksa menuruti kemauan mama. Aku pun berangkat kuliah bersama om Martin.
Selama di dalam mobil, aku masih terus menangis memikirkan papa. Melihat keadaanku om Martin begitu tidak tega ia berusaha membujukku untuk tidak menangis tapi tetap saja itu tak berhasil. Sesampainya di kampus, aku langsung turun dari mobil dan om Martin berjanji akan menemaniku sampai aku selesai ujian hari ini.
Dengan wajah yang nampak sekali kacau, yang di padukan dengan celana jeans hitam dan kemeja cokelat polos yang kusut aku pun memasuki gedung kampusku. Beberapa teman kuliahku nampak aneh melihatku hari ini dan aku mengatakan papaku sedang masuk rumah sakit. Bukan untuk mencari perhatian karena aku bukan tipikal orang yang senang mencari perhatian.
Jam delapan tiba, aku langsung masuk kedalam ruangan ujianku. Dengan secepat kilat dan asal-asal aku mengisi soal ujianku hanya dengan tempo setengah jam.
Setelah itu, aku langsung berlari keluar dari ruangan dan menemui Om Martin untuk pergi lagi ke rumah sakit. Selama perjalanan aku masih saja menangis memikirkan Papa, terlihat di layar ponselku nama Fena sedang memanggilku. Ia menanyakan keadaan papaku, karena aku dan Fena berteman sejak berusia enam tahun jadi Fena menganggap Papa dan Mamaku seperti orang tuanya sendiri sebaliknya aku juga begitu dengan kedua orang tuanya. aku benar-benar tak kuasa menahan tangisanku saat aku menelfonya, memberi tahunya bahwa keadaan Papa benar-benar kritis saat ini. mendengar hal itu, ia berjanji akan menemuku di rumah sakit secepatnya begitu ia menyelesaikan UAS.
Sesampainya aku di rumah sakit, terlihat semua orang sudah menangis. Delima hanya terduduk lemas di samping mama lalu di ikuti Nenek dan Tante Evelyne. Aku langsung masuk kedalam ruang ICU dan aku melihat keadaan Papa makin memburuk. Seketika lututku lemas dan dokter jaga yang sempat beradu cekcok denganku tadi pagi menghampiriku, ia mengatakan aku harus banyak berdoa demi kesembuhan papa. Ia membantuku berjalan dan menghampiri Papa dan menjagaku agar aku tak jatuh.
Aku tak kuasa menahan tangisanku aku terus menangis di samping Papa sembari membisikan sesuatu yang mungkin jarang aku katakan selama ini denganya, aku sangat mencintainya aku sangat beruntung memilikkinya ia adalah pria yang aku cintai... walau aku juga mencintai Dikta di sisi lainnya.
Setelah itu aku keluar dari ruang ICU, aku terduduk lemas di lantai. Aku terus menangis dan meraung-raung. Dadaku sangat sesak saat ini. Seketika aku langsung menghubungi beberapa sahabatku pertama aku berusah menghubungi Fatir karena hanya Fatir lah yang sabar menghadapiku namun hasilnya nihil, kedua aku mencoba menghubungi Bobby ya walau Bobby selalu kesal denganku di saat aku sedang panik dan tidak bisa mengendalikan emosiku tetapi ia selalu berusaha sabar denganku namun sayang, nomor ponselnya tidak aktif. Aku mulai kebingungan tiba-tiba terlintas di dalam pikiranku aku harus menghubungi Dikta. dan dengan perasaan sedih, kalut, cangung yang bercampur aduk di dalam dirku, aku mencoba menelfon Dikta dan hanya dia yang mengangkat telfonku.
Aku menelfonya sambil menangis. Bahkan sejujurnya aku ini bukan tipikal orang yang cengeng menurutnya, Ia nampak kebingungan menghadapiku yang terus menangis. Aku memohon kepadanya untuk datang menemaniku dan akhirya ia berjanji akan menemuiku dan menemaniku nanti sore di rumah sakit tempat papaku di rawat.
Setelah aku menghubungi Dikta. tiba-tiba mama, nenek, Delima, tante Evelyne dan beberapa keluarga papa berlari memasuki ruang ICU. Aku memberanikan diriku untuk masuk dan semua orang sudah mengelingi papa. dokter dan suster sedang berusah memacu detak jantung papa. Mama menangis sembari memeluk nenek, lalu Delima berusah menahan tangisanya aku hanya terdiam membeku di samping seorang pria paru baya dan aku benar-benar tidak mengenal siapa pria ini. Pria ini berusah menjagaku agar tidak jatuh.
Dan saat aku menunggu upaya dokter menyelamatkan papaku tiba-tiba alat montor jantung pun menunjukan garis datar. Tangisan mama langsung menangis. Mama berteriak-teriak di ruangan ini nenek berusaha menahan mama agar mama tidak jatuh, lalu tante Evelyne memeluk Raina sembari menangis, Delima jatuh kelantai dan menangis sembari memangil-manggil papa dan aku langsung terduduk lemas di lantai lalu menangis dengan keras dan pria paru baya itu berusah menenangkanku namun itu tidak berarti hingga tiba-tiba pandanganku mulai berangsur-angsur buran seketika.
#####
Dan aku memaksa membuka mataku terlihat selang infus sudah menghiasi pergelangan tangan kananku. Aku memutar kedua bola mataku sedetik kemudian aku tersadar saat ini aku berada di ruang IGD. Dan pria paru baya yang sedari tadi menemaniku memandangiku dengan tatapan pilu dan iba. Aku melihat Fena tersenyum denganku seperti biasa.
"Nadia," ujar Fena, "Lo udah sadar?"
Aku mencoba mengumpulkan sisa-sisa tenagaku untuk bangun dari tempat tidur dan pria paru baya itu menolongku untuk duduk. Tubuhku benar-benar sangat lemas sepertinya effek aku tidak makan seharian ini. "Fena...," Sahutku. "Fena... gue nggak kuat lagi, Fen. Gue nggak kuat."
Fena langsung memeluk dengan erat. "Yang sabar ya Nadia, mungkin ini udah jadi jalan yang terbaik buat Papa lo."
Seketika tangisanku kembali pecah. Aku mulai berteriak dan memanggil terus menerus papa hingga suster menghampriku sembari membawakan jarum suntik sepertinya itu obat penenang untuk menenangkanku. Aku meronta dan berusah melepaskan selang infus dari pergelangan tanganku namun hasilnya nihil tangan kananku di tahan kuat oleh pria paru baya yang ada di samping Fena.
"Nadia udah dong Nad. Please Nad, jangan kaya gini!" kata Fena sembari memohon, "Nadia, jangan begini dong kasihan Papa lo. Please, Nadia cukup!"
Dua sosok pria menghampiri aku, Fena, dan pria paru baya itu. Pria-pria itu adalah Dikta dan Bobby. Astaga... tak kusangka Bobby jauh-jauh dari Bandung datang hanya demi aku? Saat Dikta menghampiriku aku langsung memeluk erat Dikta sembari menangis tersedu-sedu. Aku tak perduli apa yang akan di pikirkan orang-orang di IGD ini aku benar-benar merasa hancur saat ini dan aku hanya membutuhkan Dikta dan sahabat-sahabatku di sampingku. Aku hanya butuh sahabat-sahabatku bukan orang lain. Aku benar-benar merasa hancur saat ini. Kenapa... kenapa aku harus merasakan sebuah kehilangan yang sangat menyakitkan seperti? Kenapa harus aku? kenapa papa meninggalkanku?
"Nadia, udah dong jangan nangis terus," bujuk Dikta.
"Gue nggak kuat lagi, Dik!" isakku, "Sekarang, gue nggak punya siapa-siapa lagi sekarang."
Dikta melepaskan pelukkannya. Ia menatap kedua mataku lekat-lekat seolah-olah aku ini seorang penjahat ulung. "Nadia, dengarin gue! Mau lo nangis mau lo marah semuanya udah terjadi, Nad! Ini udah jalan yang terbaik dari buat Papa lo! Biarkan Papa lo tenang di surga, Nad!"
Aku terdiam. Aku dan Dikta saling membisu satu sama lain. Lalu, aku membuang pandanganku dari Dikta. "Lo nggak ngerti rasanya jadi Gue, Dik! Sekarang gue nggak punya siapa-siapa lagi yang akan melindungi gue."
"Nggak ngerti?" tanya Dikta sedikit kesal, "Lo tahu? Lo kehilangan Papa lo saat lo umur 20 tahun. Gue? Sejak gue berumur satu tahun, ayah gue pergi meninggalkan gue dan Ibu gue ia pergi meninggalkan kami seperti barang rongsokan! lo? Lo masih punya Mama lo, Nenek lo, Delima Tante dan Om lo yang selalu ada di samping lo, sedangkan gue? Gue sejak kecil hidup hanya berdua dengan Ibu gue!"
"Dikta...." ujarku lemas.
"Lo harus kuat!" perintah Dikta, "Lo nggak boleh nyerah, Nad! Buat Papa lo tersenyum bangga sama lo di surga."
“Tapi, gue....”
“Nadia,” panggil Dikta, “Jangan pernah lo sekali-sekali ngomong ‘gue nggak punya siapa-siapa lagi’ di depan gue! Inget lo masih punya banyak orang yang sayang sama lo, masih banyak orang yang akan selalu ada di samping lo, dan masih banyak orang Nad yang akan melindungi lo. Gue, Fena, Bobby, sama Fatir akan selalu ada di samping lo! Kita semua sayang dan perduli sama lo Nad! Inget janji kita dulu?”
“Dikta....”
“Nadia, tuhan itu nggak pernah tidur. Tuhan itu pasti punya rencana yang indah di balik semua cobaan yang ia berikan kepada umatnya Nad.” Dikta tersenyum denganku.
Aku memandangi Dikta dalam kebisuan. Benarkah... benarkah seperti itu? apa Tuhan tidak akan pernah memberikan cobaan yang di luar batas umatnya? Apa tuhan akan memberikan sesuatu yang indah setelah ini?
*****