Chapter 8 - Cerita Tentang Papa

995 Kata
Bulan Februari tiba, aku terus memandangi kalender yang berada di meja belajarku. Dua minggu lagi tanggal 15 Februari dan tepat dua bulan Papa pergi meninggalkan kami semua selamanya. Aku masih tidak dapat percaya dengan keadaan yang terjadi sekarang. Aku berharap ini semua hanya sebuah mimpi dan papa hanya pergi ke luar kota lalu ia akan pulang secepatnya. Dan ketika papa pulang aku akan memeluknya erat dan tidak akan melepaskan pelukkanku walau hanya sedetik saja. Sungguh, aku amat-sangat merindukan sosok papa yang selalu hadir di saat aku membutuhkanya dia bagaikan super hero untukku. Ya tuhan kenapa semuanya seberat ini? Kenapa... aku harus kehilangan papa secepat ini? bahkan disaat-saat aku masih membutuhkan papa... Suara bel rumah membuyarkan lamunanku tentang papa. Secepat kilat aku keluar dari kamarku untuk membukaan pintu rumah. Terlihat sesosok pria paru baya yang tempo hari menemaniku di ruang IGD karena aku pingsan saat papa meninggal. Sampai detik ini, aku belum mengetahui dia itu siapa? Apa dia salah satu dari keluarga jauh Papa? Atau siapa? "Selamat sore," sapanya ramah. "S-s-sore," jawabku gelagapan, "Ada perlu apa ya, Om?" "Mama kamu ada?" tanya pria itu. Aku mencoba menoleh kearah ruang tamu. Rumah nampak kosong tak ada siapa pun kecuali aku, mungkin mama dan Delima sedang pergi dan nenek sedang tidur. "Entahlah," Aku mengangkat bahuku. "Mungkin Mama lagi keluar." "Kamu sendirian aja ya di rumah, Nad?" tanya pria itu, "Adik kamu kemana?" "Delima?" sahutku, "Delima pergi sama temen kuliahnya, ada apa ya?" "Nggak cuman nanya aja kok," elak pria itu, "Aku hanya ingin melihat keadaan kalian setelah papa kalian me-" "Oh! Ayo Om, silakan masuk!" Potongku. Ya tuhan aku tak akan pernah bisa sanggup mendengar kata-kata papa itu sudah meninggal. Pria paru baya ini nampak bingung dengan sikapku yang begitu cangung. Dan aku mengantarkan pria itu duduk di sofa ruang tamu rumahku yang nampak lusung. Pria itu nampak terheran-heran dengan keadaan rumahku yang nampak menyedihkan ini. Mungkin ia baru pertama kali datang kerumah yang sangat sederhana ini, berbeda dengan rumah tante Evelyne (bukan lebih tepatnya itu rumah kedua orang tua papaku) yang lebih mirip istana dari pada rumah tempat kami tinggal. "Kamu nggak kuliah?" tanya pria itu memecahkan keheningan di antara kami berdua. "Hari ini kan masih libur, Om," jawabku acuh Suara pintu rumah terbuka. Terlihat sosok mama berdiri di depan pintu. ia nampak terkejut melihat sosok pria paru baya yang bersama denganku sekarang. "Arman?" Ujar mama tak percaya. "Maria!" pria itu bangkit dari sofa dan menghampiri mama lalu memeluk mama dengan erat layaknya seorang sahabat. Seketika perasaan aneh menghampiriku. Pria ini siapa si? Kenapa sepertinya mengenal mama dan papa begitu lama?. "Udah lama, Man?" tanya mama sembari melepaskan pelukkan pria itu "Baru juga 15 menit-an lah," sahut pria itu, "Kata anakmu... kamu lagi pergi?" "Oh," ujar Mama, "Sebentar tadi habis dari warung biasa sabun habis." Mama duduk di sofa yang kosong di dekatku. Dan pria itu duduk berhadapan denganku dan mama. Aku terus memperhatikan gerak-gerik pria ini. Pria ini benar-benar asing bahkan aku benar-benar tak mengenali pria ini siapa? Kenapa pria ini datang saat papaku sedang masuk ICU? Kenapa pria ini mau menemaniku pingsan di IGD saat aku mengetahui papa meninggal? Kenapa pria ini nampak akrab dengan mama? Siapa dia? apa selama ini... Papa dan Mama menyembunyikan sesuatu denganku? "Darimana, Man?" tanya Mama memecahkan keheningan diantara kami bertiga. "Ah, dari rumah teman," sahut pria paru baya ini, "Tadi... ada urusan di daerah sini. Kebetulan udah lama juga kita nggak pernah ketemu kan, Mar?" "Oh," ujar Mama "Apa kabarmu? Apa kabar Emma dan anak-anakmu?" "Baik. Semuanya baik dan sehat. Kiki juga Kevin sehat. Kevin tahun ini masih tahap pendidikan polisi sebentar lagi selesai kok." jawab pria itu. "Oh iya, Emma titip salam untukmu. Katanya, ia minta maaf karena belum sempat mengunjungimu setelah kepergian—” "Tak apa," potong Mama cepat, "Aku tahu dia pasti sibuk dengan pekerjaanya. Stefan pun pasti akan mengerti dengan keadaan Emma. Cukup doanya saja." Aku hanya terdiam. Sebetulnya... dia ini siapa si? Sepertinya mereka sangat mengetahui satu sama lain. Apa hanya aku yang pelupa? Apa sebenarnya aku kenal dengan Om Arman?  "Mama..." ujarku ragu. "O-o-oh ya, ampun aku lupa!" sahut mama, "Nadia, kenapa dari tadi kamu nggak buatin Om Arman minum?" "Ah, nggak usah repot-repot Mar. Tadi aku udah minum," tolak pria itu Aku bangkit dari dari sofa lalu berlari ke arah dapur dan membuatkan secangkir teh hangat untuk pria aneh itu. selama aku membuat minuman untuknya, otakku benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Aku terus memikirkan siapa pria itu? kenapa pria itu datang tiba-tiba? Kenapa semuanya seperti ini? Ada apa sebenarnya. Apa aku memang belum bisa di katakan aku ini adalah orang yang paling tahu tentang Papa karena aku tak pernah tahu siapa orang ini? Setelah nyaris empat jam pria aneh itu mengobrol dengan mama, ia berpamitan pulang. Setelah mama menutup pintu aku menghampiri ,ama dan mencoba berbasa-basi dengan mama. Lalu mama pun sepertinya mengerti maksudku. Ia menjelaskan bahwa om Arman itu adalah sahabat papa dari kecil. lahir di tanggal yang bersama namun berbeda satu tahu. Usia om Arman lebih tua satu tahun dari papa. Tapi karena papa lebih tinggi dari anak seusianya, Eyang Kakung-ku dulu memasukan Papa sekolah di usia lima tahun atau satu tahun lebih cepat dari anak usia sekolah biasa. Saat Papa dan Tante Evelyne harus kehilangan orang tua mereka di usia yang masih sangat belia, orang tua Om Arman lah yang membantu kehidupan mereka. Bahkan, papa dan Om Arman masuk ke universitas yang sama namun beda jurusan saat mereka kuliah lah Mama bertemu dengan Papa yang saat mama masuk kuliah Papa sudah lulus. Awalnya, Mama satu jurusan dengan Om Arman. Dan Om Arman mengenalkan Mama dengan Papa. Sebaliknya sebagai timbal balik, Mama mengenalkan tante Emma sahabat mama saat SMA dengan Om Arman. Aku mencoba menunjukan sikap puas dengan jawaban mama dan tidak ingin mengalih lebih jauh tentang siapa om Arman itu. Mama pergi meninggalkanku sendirian di ruang tamu. Aku kembali duduk di sofa sembari berusah memikirkan sesuatu tetapi aku sendiri juga tidak pernah mengerti apa yang aku pikirkan saat ini. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN