Rasanya mendengar cerita tentang papa pikiranku semakin kacau. Aku merasa sangat gagal, iya aku gagal dan malu dengan diriku, papa dulu di tinggal pergi kedua orang tuanya saat masih baru SMA tapi ia berhasil bertahan hidup sedang kan aku? aku yang berumur dua puluh tahun merasa hidupku kacau berantakan hanya karena aku di tinggal pergi papa. Bodoh! Aku bodoh kenapa aku tak pernah bisa membuka kedua mataku? Di dunia ini, masih banyak orang yang perduli denganku! Kenapa aku... oh ayolah Nadia kenapa kamu harus pergi ke dunia terkutuk itu?
Terlintas di dalam benakku untuk mencoba pergi pergi ke diskotik atau tempat dugem lalu minum vokda atau apa lah yang bisa memberi effek tenang? Ya, tempat yang sekitar beberapa kali menjadi tempat favoriteku. Tempat dimana aku menghabiskan waktuku dengan Fena untuk minum atau sekedar dugem. Entahlah, setan apa yang merasuki jiwaku hingga aku bisa pergi ketempat terkutuk itu. memalukan seorang calon dokter malah menghancurkan dirinya tenggelam dalam dunia malam terkutuk itu.
Aku memandangi jejerang foto yang berada di meja belajarku dan kedua mataku berhenti saat aku memandangi fotoku bersama Fena. Oh iya, aku payah sekali kenapa aku tidak beralasan pergi menginap ke rumah Fena lagi? bodoh. Kuraih ponselku yang tergeletak di atas meja belajar dengan cekatan jari-jemariku menyentuh layar ponselku dan mengetik sebuah nomor telfon dan aku langsung menghubunginya.
“Halo?” aahut seseorang dari sebrang.
“Fena!” ujarku, “Lagi di mana?”
“Di rumah.” jawab Fena, “Kenapa, Nad? Tumben-tumbenya lo telfon gue malam-malam.”
Yah -_- sahabat macam apa kenapa dia malah bicara seperti ini? Menyebalkan! Apa salah aku menelfonya? “Oh, nggak iseng aja si, Fen.”
“Oh, kirain kangen sama gue,” ledek Fena. Sial percaya diri sekali dia ini -_- aku hanya merindukan Dikta ya hanya dia dan cuman dia yang aku rindukan saat ini aduh aku mikir apa si? Dikta? Dia kan cuman salah satu sahabat kamu Nadia! Lagian dia nggak akan pernah perduli sama kamu juga!
“DIH GE-ER!” erangku, “Eh, gue boleh nginep di rumah lo gak? Bete ni liburan di rumah doang.”
“Terus lo mau ngapain?” tanya Fena, “Lo nggak lagi modus kan?”
“Nggak,” jawabku “Masa iya, Papa gue baru meninggal gue seneng-seneng.”
“Nadia....”
“Eh, ini jadi gue boleh ngggak nginep di rumah lo?” aku pun berusah mengalih kan penbicaraanku “Nanti malem kita jalan-jalan deh mumpung satnigth juga kita--.”
“Nadia!” panggil Fena,“Jangan bilang lo mau-.“
“Please, Fen!” pintaku, “Sekali lagi aja gue kesana. Please! Gue kepengen minum lagi...”
“Sekali?!” sahut Fena kesal, “Nadia lo udah terlalu sering kesana! Sampai kapan lo seperti ini Nadia! Sampai kapan lo terus berbohong dengan mama lo menggunakan alasan menginap ke rumah gue lalu pergi ke tempat dugem?!”
“Fena,” ujarku.
“Kalo Papa lo tau, lo sekarang hancur seperti ini dia bakalan sedih, Nad!” kata Fena iba, “Dan kalo Dikta tau gadis yang dia-.”
“Fena dengerin gue, Dikta itu nggak akan perduli gue mau ngapain kek, gue kenapa kek!” teriakku kesal, “Kalo, dia sayang sama aku cinta sama gue harusnya dia nggak begini, Fen! Kemana dia sekarang? Boro-boro kasih kabar sama gue atau menanyakan keadaan gue gimana sekarang nggak! Ini yang namanya cinta? Gue ini apa si buat dia? emang gue bukan siapa-siapa buat dia!”
“Nadia! Lo kenapa si, Nad!” keluh Fena, “Ini bukan kaya lo! Nadia yang gue kenal dia nggak akan melakukan hal t***l dan gila seperti ini! Nadia yang gue kenal dia nggak nggak pernah egois! Dia selalu sabar dan pengertian dan... Ini bukan Nadia sahabat seumur gue!”
Aku terhenyak. Ya tuhan apa yang aku perbuat selama satu bulan ini? Kemana diriku? Papa... Dikta... aku ini kenapa si? Ah bodoh! Aku ini kenapa si? Kenapa aku benar-benar merasa seperti orang lain saja! Kenapa aku merusak diriku sendiri?
“Maaf,” ujaku pelan.
“Yaudahlah,” Fena menghela napas panjang, “Gue juga minta maaf gue lepas kendali. Gue begini karena gue nggak mau lo semakin hancur Nad. Jadi kesini?”
“Nanti gue kabarin,” sahutku.
“Yaudah, cepetan kesini!” perintah Fena, “Mumpung gue sendirian. Orang tua gue pergi keluar negeri terus kakak gue juga lagi pergi sama temen-temenya ke Jogja. Nanti kita nonton drama Korea ya sama someone pasti lo kangen juga deh sama dia! Bye, Nad!”
“Bye.” Aku memutuskan telfonku keluar dari kamar lalu pergi ke rumah Fena.
#####
Aku putuskan untuk pergi ke rumah Fena malam ini juga. Sebetulnya mama tidak mengizinkan aku pergi namun aku bersih kukuh ingin pergi malam ini. Sesampainya aku di rumah Fena benar saja rumah Fena sangat sepi. Pantas saja dia mengizinkan aku menginap malam ini di rumahnya dan malam ini aku pun menghabiskan waktuku bersama Fena dan salah satu teman SMA-ku, Elena yang juga menginap.
Elena salah satu teman SMA-ku, dia cukup baik namun aku tidak terlalu dekat denganya dibanding kedekatanku dengan Fena. Dia gadis yang cantik dengan tinggi yang sempai pantas saja saat masih SMA dulu cukup populer di kalangan adik kelasku terutama yang pria karena dia juga model. Dan setelah dua tahun tidak pernah bertemu denganya, tak banyak berubah dari dirinya kecuali rambut hitamnya berganti warna menjadi warna Magondy dan sikapnya? Masih saja seperti dulu aneh, kekanakan, dan konyol.
Bahkan, aku terkadang tidak percaya dia adalah anak dari seorang dokter yang cukup terkenal. Mungkin, hanya Elena sajalah yang tidak menjadi dokter. dia sering bercerita tentang kakak laki-lakinya yang mau menjadi dokter karena ingin mengikuti jejak kedua orangnya dan hubunganya dengan kakak laki-lakinya itu jauh dari kata harmonis kakak laki-lakinya lebih memilih kuliah di luar negeri dan aku tidak pernah menanyakan sejauh mana tentang kakak laki-lakinya itu.
Malam ini kami pun menghabiskan waktu menonton DVD drama Korea yang aku bawa dari rumah. Seketika aku melupakan tujuan utamaku untuk pergi ke clubbing malam ini. Baguslah semoga aku akan melupakan dunia malam terkutuk itu.
"Duh! Emang Lee Jong-suk oppa romantis banget ya? Jadi envy!" ujar Fena di sela-sela drama yang kami tonton, "Kapan ya ada cowo semacam dia?"
"Mungkin gue bakalan jadi orang yang beruntung banget kalo jadi Park Shin-hye!" tambah Elena, "Aduh, sumpah ini drama bikin envy berat jadi mau punya pacar kaya Lee Jong-suk. Kapan gue punya cowo seromantis Lee Jong-suk?"
Aku hanya terdiam sembari terus menatap layar TV dengan pandangan kosong. Ya Tuhan sampai kapan aku begini?
"Nadia!" seru Elena membuyarkan lamunanku.
"Eh... eh... i-i-iya? Aduh ya ampun itu mereka pasangan so sweet banget ya?" Jawab aku gelagapan, “Bisaan aja gitu acting-nya.”
"Lo kenapa si?" tanya Elena nampak bingung, "Lo sakit, Nad? lo—”
"Gue nggak apa-apa!" potongku.
"Eh iya," sambung Elena, "Ngomong-ngomong. waktu jaman SMA, Nadia kan deket banget cowo tuh ya sama siapa tuh namanya--."
"Dikta?" tanya Fena.
"Nah, iya!" tuas Elena, "Aduh, kelamaan nggak ketemu sama temen SMA jadi rada lupa. Eh, Dikta apa kabar tuh?"
"Mungkin baik," sahutku acuh.
"Kok mungkin si, Nad?" kedua alis Elena terpaut satu sama lain, "Bukanya lo deket banget sama dia? harusnya lo tau dong kabarnya dia gimana."
"Mungkin dia sibuk," ujarku acuh, "Gue harus tahu? Memangnya Gue”
"Bukanya, kalian pacaran?" potong Elena, "Kan, Dikta udah lama naksir sama lo Nad."
Aku terdiam. Lidahku begitu kelu rasanya. Aku langsung meleparkan pandangan kebingungan dengan Fena. Dan Fena langsung mengakat kedua bahunya dan mengisyaratkan tidak tahu.
"Ah, nggak mungkin lah!" elakku, "Dia naksir sama gue? Gue kan cuman anak pendek terus jelek dan nggak menarik di banding adik-adik kelas yang selalu mengejar-ngejarnya dulu atau di banding Shelly."
Elena mengelengkan kepalanya. "Bener-bener ya si Dikta! Eeeerrrrr! Bikin gregertan aja! Jadi selama ini hubungan kalian apa?"
"Sah...sahabat... m...ungkin sa...habat," ujarku terbatah-batah, "I...iya kita cuman sahabat kok, Len." Aku pun mendesah kuat. Sebenarnya apa status hubunganku dengan dia? dia tidak pernah mengatakan sama sekali bahwa ia mencintaiku. Dan, apa kah seorang sahabat seperti ini? Dia menciumku, dan lalu apa status hubungan aku dan Dikta? Sahabat? Pacar? Bahakan, dia sama sekali belum pernah mengatakan 'Nadia aku mencintaimu, maukah kamu menjadi kekasihku?'
"Kalian lebih dari seorang ‘sahabat’!" sanggah Elena dan ada penekanan pada kata sahabat, "Nadia, kenapa lo nggak pernah mau jujur sama perasaan lo sendiri?"
Aku memandangi Elena dan Fena secara bergantian. Jujur? Apa jadinya seorang perempuan menyatakan perasaanya terlebih dulu? Apa aku nampak murahan? Oh, ya tuhan dunia sepertinya sudah mau kiamat! Apa ini yang namanya emansiapasi wanita?
"Nad!" seru Elena membuyarkan lamunanku.
"Iya, Len?" sahutku.
"Nadia, ayolah!" bujuk Fena, "Mau sampai kapan begini?"
"Nadia," panggil Elena, "Udah nyaris lima tahun loh berati kalian tanpa status kaya gini? Kita sebagai cewek masa mau di gantungin terus si?"
"Elena..."
"Nadia, semua orang udah tahu kali," ujar Elena, "Lo sama Dikta itu sama-sama saling suka kan? Keliatan kok dari SMA. Dikta panik waktu lo pingsan jam olahraga pas kita kelas sepuluh, lo cemburu kan waktu Dikta sama gue masuk di kontes pemilihan abang none mewakili sekolah di tingkat kota? setiap ada waktu kosong kamu berusaha lewat kelas Dikta sembari memandangi Dikta, terus waktu kalian sama-sama daftar ujian universitas di ruang BK keliatan banget Dikta mandangin lo waktu itu. gue tau, Nad! Dikta cerita semua sama gue!"
"Sungguh?"
Elena mengangguk khitmad. "Gue beberapa kali ngomong sama dia kenapa dia nggak pernah ngomong tentang perasaan dia sama lo. Dia takut... elo menjauh dari dia kalau lo tau tentang perasaannya."
******