Chapter 10 - Kenyataan Pahit

1348 Kata
Matahari menusuk dari selah-selah gordeng jendela ruang tamu. Aku berusah menyipitkan kedua mataku agar tidak sialu. Ya tuhan, jadi semalaman aku tidur di ruang tamu ini? Aku pun melirik ke semua arah ruangan ini. Terlihat Fena dan Elena masih tertidur pulas di atas sofa dan ruangan ini nampak menyedihkan lebih mirip kapal pecah dari pada sebuah ruang tamu. Sampah sisa-sisa bungkus makanan ringan dan minuman bersoda nampak berserakan di ruangan ini. Tiba-tiba, ponselku berdering dengan kerasa dan mengangetkanku. aku langsung meraih ponselku yang tergeletak di atas meja yang di tutupi dengan bungkus makanan dan botol minuman ringan. Kulihat sebuah panggilan dengan nomor yang asing untukku dengan cekatan aku mencoba untuk menerima panggilan itu. jari telunjuku langsung menyetuh layar handponku menyetuh tombol hijau "Halo?" "Nadia?" tanya suara seorang pria, "Ini Om Arman." "Oh," Ujarku acuh. "Ada apa ya, Om?" "Kamu sibuk nggak hari ini?" Tanya om Arman ."Bisa kita ketemuan hari ini?" "Ketemuan? Dimana?" "Kamu maunya dimana?" tanya om Arman lagi. "Loh, kok tanya aku?" ujarku sedikit kesal, "Om yang ngajakin juga." "Oh, oke oke," Ujar om Arman, "Kita ketemuan di daerah Senanyan aja gimana? Nanti om kirimin dimananya, oke?" "Boleh." "Sampai nanti, Nad." Om Arman menutup telfonnya. Aku mendesah kuat sembari melempar ponselku ke arah sofa. Ada apa ya? Kenapa perasaanku tak enak. ##### Aku sampai di tempat yang telah di janjikan om Arman lebih cepat setengah jam dari waktu yang di janjikan. Aku memasuki kafe ini dengan perasaan gugup, sejujurnya aku belum pernah ke kafe semewah ini. Aku  mengambil tempat di pojok kafe ini. Kafe ini terlihat cukup ramai mungkin karena hari ini hari Minggu. Ketika, aku baru menduduki kursi yang ada seorang pelayan pria menghampiriku dan ia tersenyum ramah denganku. dan aku mengerti maksudnya lalu aku memutuskan untuk memesan Iced Carame Coffee Jelly Latte untuk meredahkan rasa haus yang mengelitik di tenggorokanku. Dan aku memulai menyerumput minumanku yang sedari 15 menit yang lalu sudah mencair, tiba dihadapanku selang kemudian sosok om Arman menghampiriku dan membuatku tersedak saat aku menyerumput minumanku. "Udah lama?" tanya om Arman. "B... b... baru kok Om baru," jawabku gelagapan. Aku sudah menunggumu dari setengah jam yang lalu tahu -_- Om Arman menarik kursi di depanku. "Maaf ya, tadi macet." "O... oh nggak apa-apa kok Om," elakku, "Namanya juga Jakarta." Keheningan menghampiri kami berdua. Om Arman sibuk melihat daftar menu untuk memilih pesanan minumanya sedangakan aku terus sibuk dengan ponselku. Saat pesan om Arman datang didepanya nampaknya ia mulai salah tingkah denganku. "Nadia...." panggilnya ragu. "Iya?" "Sebenarnya..." Ia mendesah kuat, terlihat sorot matanya begitu redup dan bimbang. "Sebenarnya, Om nggak enak mau ngomong hal ini sama kamu. Apalagi Mama kamu melarang Om untuk--" "Kenapa?" potongku, "Kenapa Mama sampai melarangku tahu?" Om Arman membuka tas ransel yang ia bawa dan ia mengeluarkan tumpukan kertas-kertas yang aku sama sekali tidak tahu maksudnya apa. "Ini apa om?" "Nadia," ujar om Arman, "Aku benar-benar minta maaf sebelumnya denganmu. sebenarnya kamu belum boleh tahu hal ini tapi--." Ia menyodorkan kertas-keras itu denganku, dengan saksama aku membaca satu persatu kertas-kertas itu. terlihat kertas itu adalah surat dari bank dan memberi rincian tentang... hutang-hutang papa selama ini dan papa... juga menjadikan rumah kami sebagai jaminannya? Jadi... selama dua tahun ini papa mengorbankan semuanya demi aku? Hanya demi aku si anak yang tak tahu di untung sepertiku? Iya aku ini anak tak tahu di untung. Benar kata tante Evelyne aku hanya menyusahkan sejak aku kecil. "Itu surat tagihan kredit pinjaman dari bank." tambah om Arman ragu. "Kredit pinjaman?" "Iyam" Tuas om Arman. "Jadi dua setengah tahun yang lalu, Papamu mengadaikan sertifikat rumah demi biaya kuliahmu dan kemarin belum lama Papa pun mengajukan pinjaman lebih dengan memberikan jaminan tanah miliknya untuk biaya kuliah Delima juga hal hasil hutang pun bertambah." "Lalu..." ujarku nampak bergetar, "Lalu rumah kami akan di sita? iya begitu? Kalau rumah kami disita kami mau tidur dimana?" "Maaf," ujar om Arman, "Aku... aku.." Aku bangkit dari tempat tempat dudukku sembari membawa tas rasel milikku. "Om, aku pulang dulu ya." "Nadia, tunggu!" seru om Arman. “Kapan-kapan kita sambung lagi.” tambahku. Aku berbalik badan lalu berlari keluar dari kafe ini sembari menahan tangisanku. ##### Jam tanganku menujukan pukul setengah sembilan malam dan taksi yang aku tumpangi masih saja berjalan tanpa arah nyaris satu jam. Aku masih saja tetap menangis tak kunjung berhenti karena aku mendapat sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan seperti ini. Jadi? Papa rela melakukan apa pun demi aku? Padahal papa tahu papa sama sekali tidak mampu membiayai aku kuliah selama ini? Kenapa papa tidak pernah mengatakan yang sejujurnya denganku sehingga aku akan menghentikan sikap egoisku ini! Mungkin aku akan mengubur impianku untuk kuliah dan menjadi dokter. Ya Tuhan, terkutuklah aku sebagai anaknya tak tahu di untung bahkan aku belum bisa membalas semua yang papa berikan kepadaku. "Neng," panggil pak supir. "Iya, Pak?" "Ini, kita jadi mau kemana ya Neng?" tanyanya ragu. Aku terdiam sejenak. apa aku pergi ke diskotik? Aku rasa... aku harus minum malam ini! Aku tidak tahan lagi... rasanya kepalaku ingin pecah saja. aku butuh sesuatu yang dapat menjernikan kepalaku ini. "O... o... o... oh, iya Pak," sahutku gelagapan, "Bisa antarkan saya ke tempat dugem di daerah sini, pak?" Supir taksi nampak kebingungan dengan ucapanku. Aku melirik kearah kaca yang ada di atas supir taksi itu. supir taksi itu nampak pasrah menuruti kemauanku dan selang beberapa waktu ia menghentikan laju mobilnya. di depanku terhampar sebuah tempat hiburan malam yang belum pernah aku kunjungi. Setelah supir itu memarkir mobilnya di depan tempat ini aku memutuskan untuk turun dari taksi dan membayarnya. Dengan mengumpulkan sedikit kekuatanku aku mencoba masuk ke dalam hiburan malam ini. Ya, diskotik yang sangat asing bahkan aku sendiri tidak tahu ini di mana. Saat aku memasuki tempat malam tersebut dari mulai pintu masuk tempat ini, bau dari asap rokok pun sudah mulai tercium. Sejujurnya, diskotik ini lebih menyeramkan daripada diskotik yang sering aku kunjungi bersama Fena beberapa minggu ini. Seorang pria bertubuh atletis langsung menghampiriku dengan tatapan sangarnya. Lalu ia memintaku menunjukan KTP-ku. aku sedikit bingung kenapa harus menunjukan KTP-ku? Dengan perasaan sedikit takut ketika pria itu menatapku tajam seperti elang ingin mencengkram masangnya aku pun menunjukan KTP-ku lalu ia langsung menizinkan aku masuk. Aku sedikit merasa cangung saat aku memasuki diskotik ini. Mungkin karena tempat ini baru pertama kali aku kunjungi aku merasa sangat aneh apalagi ketika aku mulai memasuki tempat hiburan malam ini terlihat beberapa pria mulai mengodaku aku pun berusah mengabaikan pria-pria sinting itu. Saat, aku sudah berhasil sampai di sebuah sofa kosong tiba-tiba pelayan pun menghampiriku dan menanyakan aku mau memesan minuman apa, aku pun langsung menjatuhkan pilihaku dengan vokda dengan kadar alkohol yang tinggi. Setelah pesanku datang dengan cekatan menuangkan vokda yang aku pesan satu gelas dua gelas tiga gelas, dan aku berusah menjaga sikapku nampak seperti orang-orang dewasa pada umumnya yang minum hingga ia merasa tidak sanggup lagi. Sesungguhnya aku sedikit mual saat aku mulai menengguk gelas keempatku tetapi aku tetap memaksakan diriku yang mulai pusing ini. Sialnya, masih saja banyak pria yang mengodaku dan ini membuatku tak nyaman yang parahnya lagi ada seorang p****************g berusah merayuku agar aku mau ikut denganya ke sebuah hotel dengan kesal aku langsung memukui kepalanya dengan sepatu ketsku dan berlari kedalam toilet karena aku merasakan ingin muntah saat ini juga. Sesampainya di dekat toilet karena aku berlari ketakutan aku sama sekali tidak melihat kearah depanku dan aku menabrak seseorang. kepalaku cukup pusing dan pandanganku cukup kabur aku hanya melihat samar-samar sesosok pria bertubuh aletis menahanku agar aku tidak jatuh tanganya yang kekar dengan erat menopang tubuhku yang kecil dan ringan ini. "Maaf," kataku pelan. "Hati-hati!" perintahnya terdengar samar, "Kamu kenapa si? Kok kaya ketakutan gitu?" "A... a... a... ada pria aneh yang mengejarku,” racauku, "T.....t...tolong a...ku plea...se..." "Mana?" tanyanya. "Itu," ujarku lemas. "Hey... hey... kurcaci?" tanya suara itu, "Ini kamu?" "Tolong aku," pintaku lagi. "Orang itu mengejarku tolong..." “Orang mana?” “I...itu.” racauku. "Dimana kurcaci?!" tanya kesal. Aku tak mampu menjawab, karena perutku tiba-tiba mual dan aku rasanya tak bisa berbicara karena aku merasakan sebentar lagi aku pasti akan muntah. Dan benar saja aku pun muntah dan tiba-tiba pandanganku menjadi kabur lalu berangsur gelap. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN