bc

Unlikely Vows

book_age16+
152
IKUTI
2.2K
BACA
family
HE
arranged marriage
doctor
drama
sweet
bxg
lighthearted
serious
kicking
genius
substitute
like
intro-logo
Uraian

“Lo yang jadi suami gue aja ya?”

Bertanggung jawab atas anak yang bukan darah dagingnya menempatkan Orion di dalam pernikahan tanpa cinta dengan Gyanetta. Keduanya memang telah bersahabat lebih dari separuh usia mereka, tetapi pernikahan tanpa cinta adalah hal yang berbeda. Terlebih lagi Orion menikahi Gyanetta hanya demi menutupi kebodohan yang dilakukan Gyanetta bersama lelaki lain.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1 : PENGANTIN 2 MILIAR
From: Bank Jakarta Pemberitahuan Kami mengingatkan bahwa pembayaran pinjaman Anda sebesar Rp 10.000.000 akan jatuh tempo dalam 5 hari. Harap segera melakukan pembayaran untuk menghindari denda atau konsekuensi lebih lanjut. Orion memijit tulang hidungnya sebagai usaha untuk mengurangi pusing di sekitar kepala. Pagi ini Orion sudah mendapatkan 2 SMS dari bank berbeda. Total dari masing-masing pinjamannya adalah 25 juta per bulan. Angka yang fantastis untuk ukuran dokter yang belum punya klinik pribadi seperti dirinya. “Dok, tadi pasien terakhir.” Nindy seorang ambulatory care nurse berkata sambil merenggangkan tubuhnya di atas kursi kerjanya. Di hadapan perempuan itu terdapat layar komputer yang menyajikan data pasien. Total 58 pasien yang datang untuk berobat ke dokter spesial penyakit dalam hari ini. “Harusnya yang datang 59, dok. Tapi, rujukannya keburu habis jadi enggak bisa berobat hari ini.” Sementara itu dokter Orion Oweis menanggapi dengan seadanya. “Hmm.” Fokus Orion masih terarah pada layar ponselnya. Mata tajam lelaki itu berulang kali membaca pesan yang dikirim oleh sahabatnya. From Gyanetta Leticia Oshadi: Gue di kantin RS Harapan. Ada yang mau gue omongin Pesan itu diterima Orion sekitar 30 menit lalu dan baru sempat ia baca sekarang. Sepengalamannya bersahabat dengan Gyanetta sih, biasanya perempuan itu hanya akan mendatangi Orion di kondisi khusus. “Nin, saya duluan ya.” Tanpa perlu membalas pesan Gyanetta tahu-tahu Orion sudah bangkit dari kursi kebesarannya. Masih dengan mengenakan jas putihnya Orion berjalan memasuki kantin. Matanya bergerak mencari keberadaan Gyanetta. Hanya butuh 5 detik sampai akhirnya Orion menemukaan sosok Gyanetta. Perempuan itu selalu terlihat paling mencolok—paling cantik di antara semua orang. Sehingga amat sangat mudah mencarinya. Sebelum menghampiri sahabatnya Orion sempat membeli dua kaleng kopi siap minum di vending machine. Satu untuknya dan satu lagi untuk Gyanetta. “Tumben,” kata Orion sebagai pembuka sambil menjatuhkan tubuhnya di atas kursi plastik tepat di seberang kursi Gyanetta. “Urgent banget?” Orion menyodorkan sekaleng kopi ke hadapan Gyanetta. Siang itu Gyanetta terlihat lesu. Bibirnya yang tipis tampak sedikit mengerucut, sedangkan matanya menatap Orion dengan sorot tak bersemangat. “Lo lama banget.” Gyanetta mengeluh. Dia sudah menunggu lama sekali di sini. “Lo bahkan enggak balas chat gue.” Orion menenggak kopinya dengan santai. Cairan kafein itu membasahi tenggorokannya dan meninggalkan sensasi segar. “Ya, gue lagi praktek, Netta. Anak raja aja kalau mau ketemu gue tapi, guenya lagi praktek ya tetap harus nunggu.” Gyanetta menanggapi lelucon Orion dengan dengkusan. “Gue bakal langsung ke intinya aja karena kita sama-sama sibuk sekarang.” Gyanetta mencondongkan tubuhnya ke hadapan Orion. Sikapnya membuat Orion merasa was-was. “Lo masih nanggung utang puluhan juta setiap bulannya?” “Dan, apa hubungannya masalah pribadi gue sama tujuan lo datang ke sini?” “Lo kuliah pakai uang pinjaman dari bank, kan? Ambil sekolah spesialis juga pakai uang hasil pinjam. Biayanya pasti gede. Mengukur dari gaji lo, gue yakin lo baru bisa melunasi semua utang itu 10 atau 15 tahun lagi.” Orion mulai terganggu dengan topik sensitif yang dibawa-bawa oleh Gyanetta. Sebagai orang yang bukan dari kalangan berada Orion dan ibunya memang kesulitan untuk mencari biaya pendidikan. Sekalipun Orion didukung oleh beasiswa, akan tetapi masih banyak biaya yang harus dikeluarkan di samping uang kuliah. Karena itu pula, utang bekas pendidikan dokternya membengkak. Dan, oleh karena itu hampir hampir 80% gaji Orion habis hanya demi melunasi tunggakan. “Maksud lo apa mengungkit itu?” Gyanetta tak langsung menjawab melainkan merogoh tasnya dan mengeluarkan selembar kertas dari dalam sana. “Gue akan melunasi utang-utang lo asal lo mau menikah dengan gue … sebagai pengantin pengganti.” “Apa?” Dagu Gyanetta menunjuk kertas seukuran HVS A4 yang disimpan di atas meja. “Baca aja. Di sana sudah gue tulis kesepakatannya termasuk hak dan kewajiban lo seandainya tawaran itu diterima.” Mau tak mau Orion meraih kertas yang dimaksud. Tertulis Kontrak Pernikahan di bagian headline. Di dalam kontrak itu memuat 10 poin yang intinya menyatakan bahwa Orion sebagai suami wajib untuk berperan sebagai ayah biologis dari anak yang Gyanetta kandung. “Lo hamil?” tanya Orion tak percaya. Di dalam mimpi tergilanya sekalipun Orion tak pernah menyangka Gyanetta yang dia kenal sebagai sahabatnya akan hamil di luar nikah. Gyanetta Leticia Oshadi adalah cucu dari konglomerat yang berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia di tahun 90an. Kehamilan di luar pernikahan hanya akan membuat nama besar kakeknya buruk di mata masyarakat. “Gue juga baru tau minggu lalu.” Gyanetta memijat keningnya yang mendadak pening. Pembahasan tentang kehamilan di luar nikah selalu menjadi sesuatu yang membebaninya. “Dan kontrak ini baru dibuat tadi pagi. Secara impulsif.” Gyanetta memandangi Orion dengan ekspresi yang tak terbaca. “Hanya lo yang terlintas di kepala gue saat itu.” “Tunggu.” Orion terlihat semakin bingung. “Pacar lo gimana? Lo enggak melibatkan dia dalam urusan ini?” “Dia udah ke laut.” Orion mulai geram. Dia melipat tangan di dadda. “Gue enggak bercanda.” Gyanetta mengendikkan bahunya secara acuh tak acuh. “Gue juga enggak lagi pengen bercanda. Bapaknya anak ini menolak untuk bertanggung jawab. Dia meminta gue untuk ab0rsi. Tapi, gue enggak mau. Gue … enggak sejahat itu.” “You must be joking.” Giliran Orion menatap Gyanetta dengan pandangan tak percaya. Dengan kecewa Orion menyimpan kembali kertas berisi kontrak pernikahan di atas meja. Dia tak peduli lagi kalau ada orang yang menguping. “Gue bukan alat yang bisa lo gunakan di dalam permainan konyol ini, Netta. Jadi pengantin pengganti? Jangan gila. Gue bukan orang yang lo cari.” “Emang kenapa, sih? Lagian gue enggak menawarkan kesepakatan ini secara gratis. Gue akan melunasi utang-piutang lo. Gue enggak tau jumlahnya berapa, tapi gue berani kasih lo 2 miliar. Lo juga pengen bangun klinik pribadi ‘kan? Gue punya hadiah tanah dari kakek di lokasi yang startegis. Lo bisa membangun bisnis lo dan mengubah nasib malang ini, Orion.” “Pertanyaannya adalah kenapa gue?” “Cuma lo orang gue percaya,” jawab Gyanetta lesu. “Sentarala mengkhianati dan menghancurkan hati gue. Gue bisa aja memilih laki-laki lain secara random, tapi gimana kalau laki-laki ikut membohongi gue? Memeras gue? Atau melakukan pelec-ehan hanya karena merasa dia memiliki hak sebagai suami. Sementara lo … selama hampir 20 tahun mengenal lo sebagai sahabat, belum pernah sekalipun lo menyakiti gue. Dan karena itu pula, gue yakin lo bisa memegang kepercayaan gue.” “Ini terlalu gila, Netta. Gue enggak bisa. Sorry.” Buru-buru Orion bangun. Orion tahu semakin lama dirinya berada di sini makan semakin mudah juga bagi Gyanetta untuk memperdayanya. Sejak dulu Gyanetta selalu tahu titik kelemahan Orion. Menyepakati ajakan Gyanetta sama dengan menceburkan dirinya ke dalam kubangan petaka. “Orion, tunggu!” Tanpa disangka Gyanetta mengejar. Dengan cepat perempuan itu menahan lengan Orion. “Dengarkan gue. Mau sampai kapan lo melunasi utang-piutang itu, Rion? Ibu lo sudah semakin tua. Memangnya lo mau melihat dia meninggal enggak tenang karena memikirkan tunggakan?” “Jaga mulut lo, Netta.” “Gue menolak untuk diam. Gue akan menyadarkan lo kalau ini adalah tawaran yang bagus. Lo itu dokter, Rion. Gaji lo enggak seberapa. Lo banting tulang kerja di dua RS sekaligus hanya demi membayar utang yang terus berbunga setiap bulannya. Mau sampai kapan? Gue ….” Gyanetta menepuk daddanya sendiri secara ringan. “Gue adalah solusi bagi hidup lo yang menyedihkan. Gue bisa kasih lo uang, properti, dan jabatan. Lo mau jadi direktur di RS ini? Gue bisa kasih. Sebagai gantinya lo hanya perlu jadi suami pengganti bagi gue.” “Lo udah enggak waras.” Orion berusaha menarik tangannya, namun Gyanetta menahannya dengan erat. “Iya, tau.” Sepasang mata Gyanetta mulai berkaca-kaca. “Tapi, semuanya udah terlanjur. Gue enggak mungkin nyari cowok gue. Mau gue sujud di kakinya juga enggak akan gunanya. Dia enggak akan mau nikahin gue. Kalau pun dia terpaksa untuk menikahi gue, sudah pasti Papi enggak akan kasih restu.” Orion menutup matanya sebentar. Lelaki itu butuh waktu untuk menjernihkan pikiran. Sejak dulu Gyanetta memang selalu menjadi pihak yang membuat masalah, sedangkan Orion menjadi penyelamat yang merapikan seluruh kekacauan yang diciptakan oleh perempuan itu. Setelah merasa lebih tenang Orion kembali membuka matanya dan berkata, “Lo sahabat gue, Netta. Gue bisa membantu lo untuk banyak hal, kecuali yang satu ini. Lo harus belajar untuk bertanggung jawab.” “Ini adalah wujud dari tanggung jawab gue, Rion. Gue hanya butuh lo sampai anak ini lahir aja. Setelah itu kita bisa pisah. Enggak ada yang dirugikan di sini. Lo mendapatkan uang yang bisa membebaskan dari jerat utang, sedangkan gue punya suami pengganti. Gimana?” Orion termenung. Benar saja Gyanetta berhasil mempengaruhi isi kepalanya. Apa yang Gyanetta ucapkan tak sepenuhnya salah. Orion sendiri sudah muak harus banting-tulang mencari uang hanya demi menambal utang. Orion di hadapkan pada dua dilema besar. “Jadi, di hadapan orangtua lo, gue harus mengakui kalau gue adalah orang yang menghamili lo?” tanya Orion ingin memastikan posisi. “Iya. Kita bisa bilang kalau itu tindakan impulsif.” “Dan, kontrak hanya akan berlaku sampai bayi lo lahir?” “Iya. Gue hanya butuh nama lo ada di akta kelahiran dia. Gue hanya butuh lo untuk menutupi rahasia ini. Hanya itu. Gue janji enggak akan mencampuri urusan pribadi lo. Kalau nantinya lo punya pacar pun gue enggak akan ikut campur selama kalian berhubungan secara diam-diam.” Orion mengembuskan napasnya dengan berat. “Lo yakin sanggup? Pernikahan itu sesuatu yang berbeda. Gue mungkin sahabat lo yang baik, tapi mana tau kalau gue jadi suami … gue malah jadi suami yang berengsek.” Gyanetta menelan ludahnya yang mendadak terasa pahit. Di dalam hatinya dia masih meyakinkan diri sendiri bahwa keputusan ini adalah yang terbaik. “Gue sanggup apapun resikonya.” []

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

Kali kedua

read
221.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.1K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook