BAB 2 : LAMARAN

1456 Kata
Berulang kali Orion memandangi nominal uang yang tertera di layar ponselnya. Uang sebanyak 2 miliar itu benar-benar menjadi miliknya sekarang. Gyanetta langsung mengirimnya begitu Orion memberi tanda tangan pada kontrak pernikahan mereka. Sekarang tinggal menunggu waktu sampai akhirnya mobil rombongan Orion tiba di kediaman Altair—ayahnya Gyanetta. Sesuai kesepakatan yang telah disetujui sore ini Orion dan Gyanetta merancang acara lamaran. Mau bagaimana pun seluruh keluarga Oshadi harus tahu kalau Gyanetta akan menikah dan akan melahirkan lebih awal dari seharusnya. “Apa Ibu kecewa kepadaku?” Orion bertanya kepada Rinjani—ibunya yang duduk di samping Orion. Sore ini mereka naik mobil yang disewa. Keluarga Orion tak banyak. Sejak ayahnya kabur dari rumah 30 tahun silam, hubungan antara Orion dengan keluarga ayahnya buruk. Jadilah Orion hanya mengajak seorang paman, bibi, dan ibunya sendiri untuk melamar Gyanetta. “Sudahlah. Yang penting kamu bertanggung jawab dan mengakui dosa-dosamu di hadapan Yang Maha Kuasa nantinya, Rion.” Orion tak mengatakan apapun lagi. Dia cukup gemetar karena harus pura-pura melamar Gyanetta di hadapan banyak orang. Begitu sampai di tempat tujuan Orion dan keluarganya turun. Mereka disambut baik oleh Vivienne—ibunya Gyanetta. Rumah mewah yang menjadi tempat Gyaanetta tumbuh itu tampak didekorasi dengan bunga bernuansa putih dan biru. Sejumlah besar tamu juga terlihat sudah duduk rapi di ruang tengah yang disulap menjadi tempat berkumpul. Orion dan Rinjani mendapat tempat khusus di bagian terdepan. Tepat di seberang Orion duduk Altair dengan ekspresi datar. Banyak juga wajah kerabat Gyanetta yang ikut hadir. Waktu rasanya berjalan begitu lamban ketika akhirnya Gyanetta memasuki ruang tengah. Sore itu Gyanetta terlihat cantik di dalam balutan kebaya berwarna sedelinggam. Rambutnya yang panjang kala itu disanggul apik. Seulas senyum terbit di bibir Gyanetta ketika pandangannya berada pada satu garis lurus yang sama dengan Orion. “Saya Ethan selaku kakak laki-laki dari Gyanetta Leticia Oshadi akan mewakili keluarga kami untuk menyambut kedatangan Orion dan keluarganya.” Ethan berdiri gagah dengan sebuah pengeras suara tergenggam di tangannya. Tatapan Ethan lurus tertuju kepada Orion. “Saya percaya setiap pernikahan yang didasari oleh cinta adalah berkat. Karena itu pula, saya persilakan kepada Ananda Orion untuk menyampaikan niatnya.” Orion berusaha menelan rasa gugupnya sejauh mungkin. Dia membayangkan uang sebanyak 2 miliar yang sudah menggendut di rekeningnya. Orion hanya perlu jadi pengantin dan Gyanetta akan memberinya seluruh ambisi yang selama Orion kubur. Dengan gerakan pasti Orion berdiri. Di tangannya juga tergenggam sebuah pengeras suara. Orion sudah pernah menghadiri acara lamaran rekan sejawatnya. Jadi, dia tahu kalimat seperti apa yang pantas digunakan pada momentum seperti ini. “Saya jatuh cinta kepada Gyanetta.” Orion mampu melihat Gyanetta yang tampak terkejut di tempatnya meskipun dengan cepat perempuan itu mengendalikan ekspresi. “Sejak umur 15 tahun, Gyanetta sudah menjadi bagian penting dari hidup saya. Dia adalah warna terang yang mengubah dunia saya yang abu-abu. Mungkin banyak orang yang terkejut mendengar pengakuan ini, tetapi di antara kami cinta tumbuh begitu cepat. Mungkin karena sejak dulu cinta itu sudah ada di hati kami masing-masing. Hanya perkara waktu sampai saya dan Gyanetta tiba di titik ini. Netta ….” Orion kini menatap Gyanetta lurus-lurus. “Sometimes love is about timing and I think this is our time to love each other. Di kehidupan ini, aku ingin menjadikan kamu sebagai istriku di dalam pernikahan yang suci. Jadi, maukah kamu menerima lamaranku?” Mikrofon di tangan Ethan dipindahkan ke tangan Gyanetta. Dengan gugup Gyanetta bangun. Dia berusaha supaya suaranya tak terdengar bergetar sewaktu menjawab, “Orion. Di kehidupan ini, hanya kamu laki-laki yang aku percaya untuk menjagaku. Di kehidupan yang luar biasa panjang dan melelahkan ini, aku juga ingin menjadi bagian dari dirimu … sebagai tulang rusukmu. Aku menerima lamaranmu.” Waktu kala itu seakan berhenti selama beberapa detik. Sosok Orion di hadapan Gyanetta tampak tak begitu nyata. Samar-samar gambaran wajah Sentrala—sang mantan kekasih muncul menggantikan wajah Orion. *** “Gue cukup terkesan mendengar kalimat lamaran lo tadi.” Gyanetta secara terang-terangan memuji Orion. “Gue hampir mengira kalau lo sungguh-sungguh ketika mengatakannya.” Setelah acara lamaran selesai digelar seluruh anggota keluarga dipersilakan untuk makan. Dan di sinilah Gyanetta serta Orion berada. Keduanya memilih titik yang paling sepi, yaitu gazebo yang menghadap kolam renang. Orion menyesap wine secara perlahan. Sejujurnya, dia kurang suka minuman beralkohol. Akan tetapi, pada kondisi stres seperti ini Orion merasa perlu untuk mengalihkan perhatiannya. “Gue sering mendengar teman-teman dokter yang lain mengatakan kalimat semacam itu ketika akan melamar pasangan mereka. Gue hanya copy paste.” “Waktu lo bilang akan menikahi gue apa reaksi ibu lo?” “Ibu kelihatan kecewa banget.” Orion memandangi cairan fermentasi anggur warna ungu pekat di gelasnya. Terkenang olehnya ketika dia menyatakan niat untuk menikahi Gyanetta karena hamil duluan. “Di keluarga gue se-ks sebelum menikah itu dianggap sebagai dosa. Dan, Ibu taunya gue sudah berdosa. Orangtua lo sendiri gimana?” “Papi tadinya mau datang dan nonjokin lo karena udah dianggap bikin malu.” Gyanetta harus menahan senyum ketika melihat raut wajah Orion berubah kalut. “Tapi Kak Sophia menenangkan Papi dengan menakut-nakuti kalau lo dipukuli dan mati di tempat maka, selamanya gue enggak akan punya suami dan anak gue akan jadi yatim bahkan sebelum lahir.” Orion mengembuskan napasnya dengan berat. “Pantes gue mimpi dikejar-kejar mulu sama Om Altair. Ternyata diam-diam dia emosi sama gue.” Gyanetta terkekeh mendengarnya. Dia lantas memperhatikan Orion. Dari samping begini Orion terlihat tampan. Kemeja batik yang dikenakannya membuat penampilan Orion lebih maksimal. Garis hidungnya yang tinggi dan lekuk rahangnya yang tajam. Semua fitur wajah itu membentuk visual dengan daya tarik yang luar biasa. “Lo tau enggak alasan lain kenapa gue memilih lo sebagai calon suami?” “Ada alasan lain?” Orion menoleh. Salah satu alisnya naik. “Bukan hanya karena gue orang yang lo percaya?” “Bukan. Ada yang lain.” “Apa?” Gyanetta melipat kedua tangannya di depan dadda. Tanpa malu dia menjawab, “Lo ganteng. Daya tarik lo secara sek-sual enggak bisa diremehkan. Mungkin banyak cowok di Jakarta yang gantengnya lebih dari lo tapi ….” Kening Gyanetta berkerut tipis. Gyanetta berusaha mencari padanan kata yang cocok. “Lo beda.” “Jangan bercanda.” “Lho, serius.” Kali ini Gyanetta menoleh. Raut wajahnya sama sekali tak menunjukkan kalau perempuan itu sedang berbohong. “Kalau lo bukan sahabat gue, udah gue pacarin lo dari dulu.” “Gue? Masa, sih?” Orion meletakkan gelasnya wine-nya. Dengan gerakan lamban Orion meraba-raba wajahnya sendiri seakan berusaha mencari kebenaran dari ucapan Gyanetta. “Bukannya gue nerd ya?” “Lo itu sek-si nerdy tau. Tipikal cowok sek-si yang keliatan cupu, tapi pada momen tertentu bakal keliatan super ganteng dan hot.” “Kayaknya yang minum wine itu gue, deh. Kenapa omongan lo yang kedengarannya melantur?” “Kenapa, sih lo enggak percaya?” “Ya, gimana? Abisnya aneh tiba-tiba lo bilang kayak gitu. Lagian kapan juga gue kelihatan super ganteng dan hot?” Orion terkekeh geli membayangkan perumpamaan yang digunakan oleh Gyanetta. Gyanetta yang kesal karena ucapannya hanya dianggap angin lalu tanpa diduga langsung memangkas jarak di antara dirinya dengan Orion. Wajah Gyanetta dan Orion hanya terpisahkan oleh jarak yang tipis. Seandainya salah satu di antara mereka memiringkan kepala maka, besar kemungkinan bibir mereka akan saling bertemu. “Sekarang,” kata Gyanetta tegas. “Lo terlihat sangat menarik sekarang.” Orion mampu merasakan sapuan napas Gyanetta yang hangat di permukaan wajahnya. Ini adalah jarak terdekat yang pernah tercipta di antara mereka. Mata Orion turun ke bibir Gyanetta. Lekuk bibir wanita itu indah membentuk heart shape yang plumpy. “Gue mungkin bisa mencium lo sekarang kalau lo enggak menjauh.” Orion berusaha mengintimidasi Gyanetta. Seulas senyum miring tercipta di bibir Gyanetta. Mau sebaik apapun Orion dia seorang tetaplah laki-laki dewasa. Naluri selalu membawanya pada insting kuno untuk menyentuh, mengecap, dan menandai perempuan yang menurutnya menarik. Persetan dengan cinta. Siapa saja bisa bertekuk lutut pada pesona Gyanetta tak terkecuali Orion. “Memangnya lo pernah mencium perempuan?” tanya Gyanetta dengan nada menantang. Kini salah satu tangan Gyanetta sudah pindah mengusap dadda bidang Orion. “Mau coba?” Gyanetta memiringkan wajahnya dan hanya dengan itu bibirnya menyentuh bibir Orion. Gyanetta hanya memberi kecupan ringan. Dia ingin melihat reaksi Orion atas tindakan tersebut. Seandainya Orion adalah lelaki normal sudah pasti kecupan Gyanetta berhasil. Tebakan Gyanetta tak meleset. Ketika dia hendak menjauhkan wajahnya tangan salah satu tangan Orion sudah menarik lembut bagian belakang leher Gyanetta. Sentuhan itu terkesan begitu lembut dan hati-hati. Gyanetta menutup matanya ketika Orion mencium bibirnya. Samar-samar Gyanetta mampu merasakan jejak aroma wine ketika lidahnya menyentuh lidah Orion. Ketika itu cinta belum hadir di antara mereka. Akan tetapi, keduanya tahu satu hal yakni tubuh mereka saling mendambakan satu sama lain. Sore itu Gyanetta tenggelam di dalam dekapan Orion—sahabatnya sendiri. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN