“Seandainya Sentrala balik, lo mau gimana?”
Orion bertanya ketika sedang menyetir. Sebagaimana rencana perempuan itu pernikahan mereka akan dilangsungkan dalam waktu dekat. Rencananya sore ini juga mereka akan bertemu dengan pihak wedding planner.
Gyanetta menjawab dengan tenang. “Entahlah. Gue sudah dibuang kayak sampah.” Gyanetta sempat tertawa pahit. “Sial. Gue kayak barang rongsokan ya, Rion? Setelah puas dipake … gue dibuang gitu aja.”
“Lo tau sejak awal laki-laki itu redflag, tapi dengan butanya lo malah tetap mencintai dia. Lo kasih semuanya ke dia, Netta. Bahkan dunia lo.”
“Lo malu enggak punya sahabat kayak gue?”
Orion menoleh sekilas saja. “Kayak lo gimana maksudnya?”
“Gue perempuan yang hamil di luar nikah. Gue dicampakkan oleh laki-laki yang gue cintai karena dia merasa sudah mendapatkan apa yang dicari. Gue … gue mungkin bisa dikatakan gagal sebagai perempuan.”
Seketika itu juga Orion menghentikan laju mobil. Dengan kesal Orion menatap Gyanetta. “Gue enggak suka sama mantan pacar lo karena dia selalu membuat lo mempertanyakan value diri lo sendiri, Nett. Okay, gue akui kalau lo memang bodoh karena terperdaya sama orang seperti dia. Tapi, bukan berarti lo barang rongsokan. Di mata gue, lo tetap seorang perempuan yang berharga. Yang enggak berharga di sini bukan lo, Netta … tapi, cara lelaki itu meninggalkan lo.”
Gyanetta menunduk menatap kuku-kukunya yang baru dipoles kutek merah. “Lo sendiri … gimana kalau suatu saat nanti setelah kita menikah dan lo menemukan perempuan yang membuat lo jatuh cinta. Apa yang akan lo lakukan?”
Orion terdiam. Tak menyangka pertanyaan seperti itu akan meluncur dari bibir Gyanetta.
“Kita pikirin itu nanti aja,” jawab Orion pada akhirnya. Lelaki itu kehilangan opsi jawaban yang lebih bijak.
Selesai mengucapkan itu Orion kembali melajukan mobil. Tujuan mereka kali ini adalah gedumg galeri The Red Wedding Planner. Menurut Gyanetta tempat itu menyajikan sejumlah potret pernikahan para selebritas maupun politikus negeri ini. Di tempat itu pula mereka akan membicarakan tentang konsep acara, gedung, makanan, designer gaun, dan banyak hal yang tak ingin Orion pikirkan terlalu dini.
“Rion.” Sebelum keluar dari mobil untuk masuk ke dalam gedung Gyanetta sempat memanggil Orion.
“Hm?”
“Kita mulai pake aku kamu bisa enggak? Tapi, bukan sekadar formalitas di depan orang-orang aja. Aneh banget tau masa calon pengantin ngomongnya lo gue.”
Orion mendengkus sebelum akhirnya keluar duluan. Lelaki itu tak perlu repot-repot menggandeng lengan Gyanetta sebagaimana pasangan lain yang tampak baru keluar dari gedung.
“Ibu Gyanetta ya?” Staf perempuan menyambutnya Gyanetta dan mempersilakan keduanya untuk memasuki ruangan khusus konsultasi klien.
Selama berjalan menuju ruang konsultasi Gyanetta dibuat takjub oleh pemandangan di sekitarnya. Gedung galeri The Red Wedding Planner cukup luas. Di lantai satu hampir seluruh dindingnya dipenuhi oleh potret pernikahan klien sebelumnya. Setiap potret menampilkan tema yang berbeda.
“Silakan duduk dulu. Sebentar akan saya panggilan Ibu Oliv.”
Staf itu pergi tak lama kemudian muncul seorang perempuan dengan perawakan tinggi dan anggun. Di belakang perempuan itu menyusul beberapa orang yang terlihat profesional. Besar kemungkinan ituu adalah staf tambahan.
“Sudah lama menunggu?” Perempuan itu mengulurkan tangannya duluan kepada Gyanetta. “Saya Olive Tan. Founder sekaligus pengurus The Red Wedding Planner.”
Gyanetta meraih tangannya dan menjabat singkat. “Gyanetta.”
Orion melakukan hal yang sama. “Orion.”
“Ini tim saya. Kami yang akan membantu Ibu Gyanetta dan Bapak Orion untuk merencanakan pernikahan terbaik sesuai dengan impian kalian. Sebelumnya apakah kalian sudah menentukan tema?”
Gyanetta melirik Orion. Calon suaminya itu terlihat diam saja dengan wajah datar. Jadi Gyanetta yang berinisiatif untuk menjelaskan, “Sebetulnya kami belum punya rencana, sih, Bu. Tapi, tadi pas lewat di lorong yang banyak fotonya saya jadi kepikiran pengen ballroom wedding yang temanya agak fairytale. Saya juga mau ada bunga hidup sebagai dekorasi. Terus ada iring-iringan pengantin juga ….”
“Enggak terlalu ribet, Nett?” Orion menyela ucapan Gyanetta. “Kenapa enggak pilih tema yang lebih simple aja?”
“Simple yang kamu maksud kayak gimana?”
“Iring-iringan? Big no. Terus … tema fairytale itu agak chilidish sih gue—aku rasa. Mungkin lo—kamu bisa lebih realistis dengan mikirin tema yang lebih sesuai dengan umur kita. Soal ballroom wedding … kenapa kita enggak gelar acara di vila aja? Ballroom is too big for us.”
“Villa?” Gyanetta menunjukkan pertentangan yang kentara. “Orion, ini pesta pernikahan pertama untuk keluarga aku. Kapasitas vila itu kecil dan kita enggak mungkin hanya mengundang beberapa tamu. Kenalan Papi yang udah aku list aja udah ada seratus belum kenalan Mami, kenalan Kak Ethan dan Kak Sophia mereka—”
“Netta.” Orion lagi-lagi menyela ucapan Gyanetta. Lelaki itu memasang ekspresi terganggu yang sama sekali tak disembunyikan. “Yang menikah itu kita atau keluarga kamu, sih? Kenapa dari tadi bahasnya tamu dari pihak keluarga kamu aja?”
“Ya, karena tamu mereka juga tamuku. Masa kamu enggak paham?’
Orion menyugar rambutnya. Pening sekali membahas masalah sepele seperti ini. “Aku enggak mau terlalu banyak tamu di pesta pernikahan kita. Kecuali, kamu mau berdiri sendirian di kursi pelaminan.”
Gyanetta bungkam. Ucapan Orion bagai ultimatum yang membuat Gyanetta kehilangan kata-kata untuk membalas. Mendadak suasana di antara mereka terasa dingin dan tegang. Oliv dan para stafnya juga dapat merasakan atmosfer tak mengenakan itu.
Secara profesional Oliv berusaha untuk mencairkan suasana. “Perdebatan antar calon pengantin itu wajar terjadi, Bu, Pak. Begini saja … kami akan memberikan beberapa list yang terbagi ke dalam dua kategori. List pertama berisi tema fairytale wedding, sedangkan berdasarkan penuturan Bapak Orion tim kami akan menyiapkan list kedua yang berisi tema intimate wedding dengan kapasitas tamu yang enggak lebih dari dua ratus.”
Sesi konsultasi itu tak berjalan sesuai rencana. Kurang dari 15 menit Orion dan Gyanetta sudah meninggalkan gedung.
“Aku enggak mau intimate wedding.” Gyanetta mengatakan itu ketika mobil melaju membelah jalanan yang padat oleh kendaraan. “Ini pesta pernikahan pertama untuk keluargaku. Kamu enggak akan paham keuntungan semacam apa hanya dengan mengundang orang-orang penting itu ke wedding ceremonial.”
Tanpa menoleh sedikit pun Orion menimpali datar, “Orangtua lo—kamu enggak akan peduli sekalipun kita nikah sederhana.”
“Jangan sok tau.”
“Memang tau.” Kali ini Orion menoleh. Meskipun hanya sebentar, namun tatapan yang diberikan oleh Orion terlihat dingin. “Menurut kamu apa yang akan dikatakan oleh para kolega kerja itu seandainya kurang dari setahun kamu sudah melahirkan. Kita tinggal di negara di mana hamil di luar nikah dianggap sebagai hal buruk, Netta. Para kolega yang kamu agung-agungkan itu bisa jadi para penggosip yang akan membicarakan kamu dan keluarga Oshadi secara diam-diam. Mau begitu?”
Lagi-lagi Gyanetta dibuat bungkam oleh Orion. Walaupun menyebalkan, namun argumen Orion ada benarnya. Seketika itu pula Gyanetta merasa benci pada dirinya sendiri.
“Kamu benar ….” Suara Gyanetta pelan terdengar. “Aku memang enggak tau diri banget. Sudah bikin malu keluarga, sudah menyusahkan kamu juga … tapi, masih ngotot memaksakan kehendak.” Gyanetta mengalihkan pandangannya ke jendela di sisi kiri. Dia tak mau Orion melihat airmatanya yang tumpah.
Orion tahu Gyanetta menangis. Karena itu pula ketika Orion melihat plang mini market dia memilih untuk berhenti di sana.
“Bukan itu maksud aku, Netta,” kata Orion kemudian.
Gyanetta menoleh. Pipinya sudah basah oleh airmata. “Itu maksud kamu. Aku paham sekali. Aku memang enggak tau diri.”
“Astaga ….” Orion menyandarkan kepalanya di kemudi mobil. Tiba-tiba saja Orion merasa migrain. Orion menegakkan kembali tubuhnya dan menatap Gyanetta lurus-lurus. “Aku enggak punya banyak tenaga untuk berdiri menyalami ratusan tamu yang bahkan enggak aku kenal. Lagi pula yang paling penting itu bukan pesta pernikahannya. Tapi, gimana kita bisa survive di pernikahan itu, Netta.”
“Pernikahan itu … pasti sama aja ‘kan? Kita hanya perlu tinggal serumah.”
“Enggak sesederhana itu.” Orion menjelaskan dengan sisa kesabarannya. “Pernikahan itu soal tanggung jawab, Netta. Aku bertanggung jawab atas hidup kamu dan sebaliknya. Kamu pikir hal itu mudah? Aku bahkan enggak bisa membayangkan masih bisa memperlakukan kamu sama setelah resepsi nanti. Aku takut malah menyakiti kamu setelahnya.”
Membayangkan Orion yang menyakitinya membuat Gyanetta merasa mual. Tanpa mampu dicegah perempuan itu mudah di kursi penumpang.
Orion yang melihatnya tentu saja terkejut, namun dengan cekatan Orion mencari apapun yang dapat digunakan untuk menadahi muntahan Gyanetta. Sayangnya, di dalam mobil mewah itu Orion tak dapat menemukan apapun. Jadi, mau tak mau Orion menadahkan tangannya dan menjadikannya sebagai tempat untuk menampung muntahan Gyanetta.
“Kamu belum makan?” tanya Orion ketika sembari memperhatikan cairan bening yang keluar dari mulut Gyanetta.
Selain cairan itu, tak ada lagi yang Gyanetta muntahan.
Gyanetta yang merasa sedikit lebih baik pada akhirnya menyandarkan kepala ke sandaran jok mobil. Kepalanya jadi pening dan perutnya sakit karena muntah. “Aku enggak bisa makan apapun.”
“Kenapa?”
Gyanetta membuang muka. “Engak tau. Setiap kali liat makanan rasanya aku enggak berselera aja. Bawaan hamil kali.”
Orion segera membuka pintu mobil setelah memastikan jendelanya terbuka. Tanpa mengatakan apapun Orion melangkah memasuki mini market. Sekitar 15 kemudian Orin kembali sambil menenteng sebuah plastik ukuran sedang dengan logo mini market tempat mereka parkir.
“Sini. Di sekitar muka kamu kotor. Ada jejak cairan sisa muntah yang kering dan harus dibersihkan.”
Baru saja Orion hendak mengusap pipi Gyanetta dengan selembar tisu basah perempuan itu sudah menepis tangannya dengan kasar.
“Ew! Aku enggak suka baunya, Rion. Menyengat banget.” Gyanetta bahkan harus menjepit hidungnya menggunakan jari telunjuk dan ibu jari. “Jauhkan itu dari hidungku.”
Orion menyerngit heran. Namun, begitu menyadari bahwa kemungkinan Gyanetta mengalami sensitifitas terhadap bau lelaki itu memilih untuk patuh. Sebagai alternatif Orion meraih tisu kering dan membasahinya sedikit menggunakan air mineral yang dia beli. Begitu tisu berubah lembap Orion mulai menggunakannya untuk mengelap beberapa titik di wajah Gyanetta.
“Enggak ada baunya ‘kan?” Orion memastikan.
Gyanetta mengangguk. “Aku bahkan enggak pakai parfum akhir-akhir ini. Aroma yang tadinya sangat aku suka entah gimana berubah jadi bau … bikin enek.”
“Ya, perempuan hamil memang cenderung jadi sensitif terhadap bau. Wajar aja karena mereka mengalami lonjakan hormon estrogen dan human chorionic gonadotropin.” Orion menjelaskan sambil membersihkan wajah Gyanetta dengan telaten. Tadi di mini market Orion sempat pergi ke toilet dan ikut membersihkan dirinya. “But, you will be fine.”
Selesai membersihkan wajah Gyanetta Orion mengeluarkan greek yoghurt ukuran 50 ml dari kantong plastiknya. Lelaki itu membuka yoghurt dan menyerahkannya kepada Gyanetta.
“Tunggu,” kata Orion. Lelaki itu lantas menambahkan beberapa butir roasted almond kemasan, seperempat potong snack bar, dan seperempat potong pisang ke dalam greek yoghurt. “Anggap aja acai bowl. Greek yogurt ini bisa jadi tambahan asupan kalsium yang bisa membantu pertumbuhan tulang dan gigi bayi, almond, pisang, dan snack bar bisa jadi sumber protein dan serat. Aromanya juga enggak terlalu strong. Makan ya.”
Gyanetta memandangi makanannya dengan perasaan haru. Padahal mereka baru saja bertengkar, tetapi Orion masih memiliki hati untuk merawat Gyanetta.
Tanpa banyak bicara Gyanetta menyendok yoghurtnya. Mungkin karena suasana hatinya membaik atau karena dia memang lapar, Gyanetta makan dengan lahap.
Pada saat itulah Orion buka suara. “Aku minta maaf ya karena punya opini yang berbeda. Tapi, serius, Nett. Aku enggak mau pesta yang besar. Aku hanya perlu kamu di sana sebagai pengantin.”
Gyanetta menelan makannya. Susah payah perempuan itu menurunkan gengsi. “Aku juga minta maaf karena terlalu egois dan enggak mementingkan pendapat kamu. Aku rasa … yah … mungkin intimate wedding adalah keputusan yang terbaik.”
“Jadi, kita baikan?” Orion bertanya sambil mengacungkan satu jari kelingkingnya.
Gyanetta terkekeh dan mengamit jari kelingling Orion. “Baikan.”
[]