BAB 4 : USAHA MENGURAI KONFLIK

1758 Kata
Gyanetta datang lagi ke RS Harapan—tempat Orion praktik pagi. Sudah seminggu mereka mempersiapkan pernikahan. Selama itu pula Gyanetta menjadi pihak yang lebih banyak berdiskusi dengan wedding planner, sedangkan Orion hanya memberikan opini pendek ketika ada yang tidak dia suka dan hanya akan mengiakan ketika setuju. Kontribusi Orion untuk pernikahan mereka sangat sedikit. Jadilah Gyanetta curi-curi waktu dan menyelinap keluar dari kantornya hanya demi mendatangi Orion. Gyanetta hanya punya waktu sebentar sebelum rapat. To Orion Oweis: Aku di depan pintu ruang praktik kamu. We need to talk Gyanetta melirik arlojinya. Waktunya menipis, namun Orion tak kunjung membalas pesan. Dengan sedikit ragu Gyanetta masuk ke dalam ruang praktik. Di dalam sana perawat yang sedang melayani pasien menoleh pada Gyanetta dengan heran. “Ibu nomor antrean berapa?” tanya Nindy. Ditanya begitu membuat Gyanetta salah tingkah. “Saya mau ketemu dokter Orion.” “Sudah buat janji?” “Saya mau ketemu sebentar aja kok. Lagian dokter Orion juga kenal sama saya. Bisa tolong dipanggil sebentar?” Nindy mengangkat salah satu alisnya. “Tapi, dokter Orion sedang menangani pasien, Bu. Kalau Ibu memang bukan pasiennya dokter Orion maka, silakan tunggu di luar.” “Saya calon istrinya dokter Orion. Ada hal penting yang harus saya bicarakan. Bisa tolong sebentar aja panggilin Orion buat saya?” Pandangan Nindy tampak menilai penampilan Gyanetta. Secara fisik memang masuk akal kalau Gyanetta jadi calon istri Orion. Melihat itu secara terpaksa Nindy mengangguk. “Baik, Ibu. Tunggu di luar dulu ya. Nanti saya beritahu dokter Orion.” Di dalam hatinya Gyanetta bersorak senang. Dengan perasaan yang lebih ringan Gyanetta ikut duduk menunggu di kursi yang sama dengan pasien lain. Orion baru keluar 20 menit kemudian. “Lama banget?” Gyanetta mendumel saat Orion menghampirinya. Orion terlihat tak senang melihat kehadiran Gyanetta. Lelaki itu sempat menoleh kanan kiri demi memastikan ekspresi para pasiennya sebelum mengajak Gyanetta untuk berjalan mengikutinya. Mereka berjalan memasuki lorong yang jauh lebih sepi. Pada saat itulah Orion menghentikan langkah. “Kenapa harus datang di jam sibuk? Aku masih ada 30 pasien lagi yang harus diperiksa.” Melihat respons Orion yang ketus membuat Gyanetta merasa kecewa. “Aku juga menunda pekerjaan demi ketemu kamu di sini.” Orion mengangguk dengan tak sabar. Dia sempat melirik arlojinya. “Hanya 5 menit waktuku. Jadi, apa yang akan kita bicarakan?” “Pihak wedding planner udah ngasih daftar beberapa villa. Mereka minta kita buat survei sore ini. Habis itu kita harus ke percetakan buat mastiin bahan kartu undangan. Kita juga harus food testing. Masih harus pilih kain buat—" Orion memotong dengan gemas. “Hal sepele kayak gitu enggak bisa kamu lakuin sendiri aja, Nett?” “Apa?” Gyanetta tersinggung mendengar pertanyaan Orion. “Sepele?” “Dengar, aku sibuk banget. Habis ini aku masih harus buka praktik di RS kedua. Aku enggak sempat untuk melakukan kegiatan remeh kayak gitu, Nett. Kamu aja yang mewakili. Mau villa di Kemang atau Dharmawangsa aku oke-oke aja. Sisanya terserah kamu. Udah ya?” Orion sudah berbalik dan bersiap meninggalkan Gyanetta jika saja Gyanetta tak menimpali. “Kamu ngegampangin banget, sih.” Orion menoleh dengan raut wajah terganggu. “Kamu yang terlalu membuat semuanya ribet. Kita pakai jasa wedding planner biar semuanya lebih gampang.” Usai mengatakan itu Orion benar-benar meninggalkan Gyanetta. Lelaki itu berjalan cepat menuju ke ruang praktiknya. Sementara itu, Gyanetta mematung dengan perasaan kacau. Baru saja kemarin Orion bersikap manis, namun hari ini sikap lelaki itu berubah menjadi berengssek. Gyanetta mengangkat pandangan demi menghalau airmatanya supaya tidak tumpah. *** “Ngeri bener. Gue aja kena semprot Bu Gyanetta.” “Iya, gue juga. Padahal masalah sepele. Lagi mens gue rasa dia makannya sensi banget.” Sophia yang menjabat sebagai finance director Oshadi Air mendengar nama adiknya disebut. Toilet perempuan yang biasanya menjadi tempat untuk bergosip itu menjadi saksi berapa kali nama adiknya disebut sebagai atasan yang gemar memarahi bawahannya. Setelah dirasa semua orang telah pergi Sophia keluar dari balik bilik toilet. Sehubung dia masih memiliki rasa peduli kepada Gyanetta jadilah Sophia berinisiatif untuk melihat keadaan sang adik di ruang kerjanya. “Tata kramanya, tolong ya. Ketuk pintu dulu—” Gyanetta yang sedang terlihat mumet menatap layar laptop baru menyadari kalau orang yang memasuki ruangannya adalah Sophia—kakaknya yang nomor dua. “Mumet amat.” Sophia mulai bicara sambil mendudukan tubuh di kursi seberang Gyanetta. “Ada masalah sama Orion?” Sophia memang menjadi orang pertama yang mengetahui kabar mengenai kehamilan Gyanetta. Sophia sekaligus menjadi orang yang menyarankan Gyanetta untuk menikahi Orion. Mendengar nama Orion disebut membuat ekspresi Gyanetta semakin muram. “Orion tuh … ah, sebel gue! Dia bisa tiba-tiba baik. Bisa juga tiba-tiba bersikap kayak b******n. Contohnya aja tadi, dia membebankan gue semua keperluan nikah. Enggak adil banget kalau hanya gue yang cape sendirian di sini.” “Adil-adil aja kok.” Sophia menanggapi dengan kalem. “Yang butuh pernikahan ini ‘kan memang lo seorang. Kalau Orion sih nothing to lose.” “Tapi ….” “Orion memang sahabat baik lo. Dia bisa ngasih lo apa aja sebagai sahabat, tapi sebagai suami? Belum tentu. Gue harap lo enggak terlalu menyikapi sikap Orion secara personal. Anggap aja hubungan lo sama dia adalah hubungan profesional.” Gyanette memijat keningnya yang terasa berdenyut. Tadinya Gyanetta kira dengan Orion akan berjalan lebih mudah. Selama ini Orion selalu menuruti permintaan Gyanetta. Akan tetapi, mengingat sikap Orion di RS tadi menyadarkan Gyanetta bahwa ya … pada akhirnya memang Gyanetta yang harus lebih banyak meminta dan mengemis. “Mumet gue. Banyak banget yang harus diurus.” Gyanetta mengeluh. “Gue bantuin aja. Tapi, buat kali ini doang.” *** “Tadi pasien terakhir ya?” Orion bertanya kepada perawat yang membantunya mendata pasien rawat jalan hari itu. “Iya, dok.” Orion melepaskan jas dokternya dan menggantung benda itu pada standing hanger. Ketika melirik arloji waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Sudah waktunya bagi Orion untuk pulang. Di lorong rumah sakit yang menghubungkan Orion dengan parkiran lelaki itu berpapasan dengan Sophia. Keduanya sama-sama tak menyangka akan bertemu hari itu. “Abis nugas?” tanya Sophia basa-basi. Melihat Sophia membuat Orion teringat pada Gyanetta. Sudah 3 hari perempuan itu tak menghubunginya duluan. “Iya. Kakak sendiri ada kepentingan apa di sini? Ada anggota keluarga Osahdi yang sakit?” “Enggak. Gue abis medical chek-up aja. Kebetulan RS ini baru kerja sama dengan Oshadi Air. Ke depannya bakal banyak karyawan Osahdi Air yang MCU ke sini termasuk Gyanetta.” Orion mengangguk saja. Pada kesempatan itulah Sophia berusaha mengorek hubungan Orion dengan Gyanetta. “Lo sama Gyanetta baik-baik aja ‘kan?” “Hm?” Orion terlihat heran. “Ya, kami baik.” Terpaksa Orion berbohong. Sophia sempat memastikan kondisi sekitar. Yakin bahwa tidak ada yang menguping akhirnya Sophia melanjutkan, “Gue tau lo menikahi Gyanetta karena terpaksa. Tapi, begitu lo setuju pada saat itu pula lo memikul tanggung jawab atas Gyanetta.” Orion tentu saja tak bisa berpura-pura tak terkejut. Tadinya Orion pikir hanya antara dirinya dan Gyanetta saja yang mengetahui pernikahan terpaksa ini. “Itu ….” Orion berusaha mencari pembelaan. “Ya, sulit untuk pura-pura excited di saat gue memang enggak merasakan apapun kepada Gyanetta. Rasanya … datar saja.” “Gue enggak minta lo buat excited kok. Gue hanya berharap lo bisa lebih menghargai Gyanetta. Kalau menganggap dia sebagai calon istri terlalu sulit maka, lo bisa menganggap kalau bantuan yang lo berikan kepada Gyanetta adalah bentuk pertolongan seorang sahabat.” Sophia menutup kalimatnya dengan memberikan tepukan ringan ke bahu Orion lalu melanjutkan langkah. Punggung Sophia sudah menghilang dari jarak pandang Orion, tapi kalimatnya masing terngiang dengan jelas bahkan ketika Orion tiba di parkiran motor. Di tempat itu sejumlah perawat juga tampak sedang bersiap untuk pulang. “Dok, saya denger katanya dokter sudah mau nikah ya?” Salah satu perawat bertanya, sedangkan temannya diam-diam memasang telinga. Mereka semua sudah mendengar gosip tentang calon istri Orion yang datang ke RS Harapan. Gosip tersebut telah menyebar sampai ke RS kedua tempat Orion praktik. Gerakan tangan Orion yang hendak mengenakan helm tertahan. “Itu … ya, begitulah. Kamu tau dari mana?” “Berarti bener ya kata orang-orang. Tapi, kapan lamarannya, dok? Kok kita-kita enggak tau, sih.” Aduh, Orion harus bilang apa? Dari dulu dia tidak begitu jago basa-basi. Makannya Orion jarang bisa akrab dengan orang baru kecuali orang tersebut yang mendekatinya terlebih dahulu. Mau menjawab jujur pasti tak mungkin. Terpaksa Orion berbohong. “Sudah agak lama. Memang acara lamarannya digelar secara sederhana dan enggak mengundang tamu selain keluarga inti.” “Kok enggak pake cincin tunangan, sih, dok? Hati-hati lho, dok … takutnya calon istri dokter Orion ada yang naksir karena dikira masih single.” Sontak saja Orion melirik kesepuluh jari-jemarinya yang polos. Betul juga. Orion dan Gyanetta memang tidak menggunakan cincin pasangan. Buat apa juga? Pernikahan mereka dilakukan juga bukan karena kehendak hati Orion. Di perjalanan pulang Orion sempat menghentikan motornya di sebuah toko perhiasan. Sebelum turun dari motor Orion sempat mengirim pesan kepada Gyanetta. To Gyanetta Leticia Oshadi: Lagi apa? Hanya dalam hitungan detik pesan Orion mendapat balasan. From Gyanetta Leticia Oshadi: Kerja. Sibuk. From Gyanetta Leticia Oshadi: Kenapa? Orion mengetuk-ngetukan jarinya di tepian ponsel. Melihat dari typing-nya yang jutek hanya ada dua kemungkinan yang muncul di kepala Orion. Pertama, Gyanetta memang betulan sibuk. Jabatannya sebagai director of general affairs Oshadi Air—salah satu maskapai terkemuka di Indonesia—mebuat Gyanetta jarang memiliki waktu untuk berleha-leha. Kemungkinan kedua, Gyanetta masih marah karena sikap Orion tempo hari di lorong rumah sakit. To Gyanetta Leticia Oshadi: Persiapan nikahan gimana? Kali ini Orion harus menunggu sekitar setengah menit untuk mendapatkan balasan. From Gyanetta Leticia Oshadi: Aman. Gemas karena Orion hanya mendapat jawaban pendek lelaki itu pun memilih untuk menelepon nomor Gyanetta. “Apa? Udah dibilang ‘kan sibuk.” “Ini udah jam balik kantor.” Gyanetta berdeham di seberang sana. “Aku harus lembur.” “Kamu enggak boleh kecapean.” “Ngapain sih ngurusin banget? Emangnya kamu lagi enggak sibuk ngurusin pasien yang super banyak itu?” Tuh, kan. Benar apa dugaan Orion. Gyanetta masih ngambek. “Jadi, masih di kantor sekarang?” “Mau ke sini?” “Iya,” jawab Orion tanpa ragu. “Boleh?” Di seberang sana Gyanetta tersenyum kecil. Efektif juga perang dingin yang dia ciptakan. “Boleh.” Hanya dengan begitu Orion mematikan sambungan telepon dan berjalan memasuki toko perhiasan yang dia lihat. Tempat itu cukup ramai oleh konsumen. “Ada yang bisa dibantu?” Orion melirik cincin yang dipajang di balik kaca bening. “Ada cincin couple yang simple?” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN