Kebetulan sisi kiri ruang kerja Gyanetta terbuat dari dinding kaca yang mengarah langsung ke parkiran motor. Melalui dinding kaca itu pula Gyanetta dapat melihat kemunculan motor matic milik Orion. Lelaki itu masih mengenakan jaket riding jacket pemberian Gyanetta 2 tahun lalu. Pun, helm yang Orion masihlah helm bawaan pabrik ketika pertama kali membeli motor. Kalau dilihat sekilas Orion ini keliatannya cupu abis.
Hanya saja, begitu lelaki itu membuka helm wajah tampannya langsung terlihat jelas. Tanpa sadar Gyanetta mulai memperhatikan paras Orion. Dari jarak jauh saja hidung dan rahang Orion terlihat mencolok. Bentuknya tegas dan seakan saling melengkapi fitur wajah yang lain.
“Emang kalau dipikir-pikir lo tuh ganteng,” gumam Gyanetta. “Aneh cowok kayak lo enggak ada yang naksir.”
Di tengah pikiran itu Orion yang merasa sedang dilihati lantas mengangkat pandangan tepat ke arah di mana Gyanetta berada. Gyanetta yang ketahuan curi pandang buru-buru meninggalkan dinding kaca. Semoga saja tadi Orion tidak melihat wajahnya dengan jelas.
Okay … tenang. Gyanetta berusaha menenangkan diri. Pokoknya Gyanetta tidak mau kelihatan gugup. Tidak mau juga sampai Orion tahu kalau Gyanetta memang mengharapkan kehadirannya di sini.
Ketukan di pintu membuat Gyanetta refleks menegakkan tubuhnya.
“Siapa?” Suaranya sengaja dikeraskan.
“Ini aku … Orion.”
“Oh, ya masuk aja.”
Tak butuh waktu lama sampai pintu jati itu didorong dari arah luar. Wajah Orion tampak setelahnya. Tubuhnya yang jangkung tampak menjulang.
“Kantor kamu udah sepi. Kenapa enggak balik aja, deh? Emang kalau lembur gaji kamu akan naik?” Orion mengomel sambil meletakkan sekantong plastik berisi makanan ke atas meja kerja Gyanetta.
Gyanetta melirik isinya. Di dalam sana ada smoothie yang kelihatannya masih kental. Warnanya yang merah muda bercampur ungu tua tampak sangat menggoda membuat Gyanetta tak tahan untuk mengeluarkannya. “Apa nih?”
“Buat dinner. Tadinya mau beli nasi sama ayam bakar, tapi takutnya kamu malah mual begitu mencium aroma arang. Aku cari aman aja beli smoothie. Enggak ada aroma. Rasanya manis dan sedikit asam. Makanan asam bisa merangsang produksi saliva dan membantu mengurangi mual.”
Senyum di bibir Gyanetta tak mampu ditahan untuk terbit. Tanpa perlu diminta Gyanetta sudah menyendok smoothie yang dibelikan oleh Orion. Samar-samar Gyanetta dapat merasakan asam buah blueberry, manisnya pisang, dan aroma segar khas stroberi.
“Enak,” komentar Gyanetta merasa puas. “Thanks.”
Orion yang mendengarnya merasa lega. “Kamu kok enggak pernah chat lagi, sih, Nett? Udah 3 hari sejak komunikasi terakhir kita.”
“Ya … gimana? Kamu ‘kan sibuk. Aku, sih tau diri enggak mau ganggu.”
“Kalau chat doang enggak akan ganggu.”
Gyanetta mengendikan bahunya acuh tak acuh. “Kenapa enggak kamu aja yang chat aku duluan? Kalau begitu aku jadi tau kamu lagi enggak sibuk dan punya waktu luang buat bicara.”
Aduh, sejak dulu Orion paling malas kalau soal urusan menghubungi duluan. Gyanetta juga tahu soal yang satu itu. Bagi seorang Orion Oweis pantang hukumnya menghubungi orang lain duluan kalau enggak penting-penting amat.
“Yaudah.” Orion mengalah. “Jadi, aku persiapan pernikahannya udah sejauh mana?”
“Udah survei villa, milih bahan kartu undangan, dan food testing.”
“Wow, banyak juga. Udah hampir beres, dong?”
Gyanetta berdecak gemas. “Belum. Aku belum nemu MUA, belum cek kain untuk bikin gaun dan tuksedo. Belum ketemu designer untuk bikin seragam keluarga. Masih banyak. Yang paling penting surat-suratnya belum lengkap.”
Orion memang pintar kalau soal urusan akademik, tetapi untuk masalah yang seperti ini otaknya benar-benar berhenti bekerja. “Emang enggak bisa make up sendiri aja?”
“Ah! Kamu mana ngerti.” Gyanetta mendorong mangkuk smoothie-nya. Tubuhnya agak maju ke arah Orion. “Aku mau keliatan pangling di pesta pernikahan nanti. Pokoknya aku mau jadi yang paling cantik.”
“Okay … itu semua berapa biayanya? Aku belum keluar uang lagi setelah kita bayar untuk konsultasi ke wedding planner.”
“Santai aja. Pakai uangku juga bisa.”
Orion menolak ide tersebut. “Jangan, dong. Yang menikah itu ‘kan kita berdua. Masa hanya kamu yang keluar uang?”
Gyanetta sedang mempertimbangkan. Uang yang dikeluarkan Orion untuk sesi konsultasi saja sudah besar. Gyanetta tahu gaji Orion berapa. Meskipun dia bekerja di dua RS agaknya tak mungkin jika Gyanetta harus membebankan Orion 50% biaya pernikahan.
“Berapa apa aja, deh. Terserah kamu.”
“Angka pastinya?”
Gyanetta menjawab santai. “Terserah kamu. Aku enggak masalah, sih kalau soal biaya.”
Orion mengalah. Orion merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel dari dalam sana. Lelaki itu terlihat sibuk mengutak-atik layar ponselnya selama beberapa saat sampai akhirnya kembali mengalihkan perhatian pada Gyanetta.
“Cek aja. Aku udah kirim ke rekening kamu.”
Tentu saja Gyanetta mengikuti saran Orion. Perempuan itu cukup terkejut melihat nominal yang dikirim oleh Orion.
“Dua ratus juta?” Gyanetta bertanya dengan nada tak percaya.
“Iya, sedikit ya?”
Gyanetta buru-buru menggeleng sebagai respons. “Jauh lebih banyak dari dugaan malah. Kamu punya uang sebanyak ini?”
“Ya, punya.”
“Utang-piutang kamu gimana?”
“Udah lunas … berkat kamu juga.” Orion kini dapat bernapas lega. Dia jadi tak perlu dihantui ketakutan akan telat membayar utang. “Itu ada sisa dari tabungan dan uang pemberian kamu.”
“Terus kenapa gaya hidup kamu masih ngirit banget? Motor kamu aja matic keluaran lama. Helm kamu udah jelek. Kamu juga tinggal di kost yang murah. Hp kamu … astaga bahkan kayaknya beberapa aplikasi udah enggak compatible di hp itu.”
Orion menyugar rambutnya dengan ringan. Kalau Gyanetta sudah bawel begini tandanya mereka sudah berbaikan. Perasaan bersalah yang bersarang di dadda Orion kini musnah. “Dari kecil ibuku sudah mengajarkan untuk hidup hemat, Netta. Lagian enggak ada salahnya pakai motor dan hp keluaran lama. Selama masih berfungsi.”
“Enggak bisa.” Gyanetta bangkit dari duduknya dan berjalan menuju lemari kecil yang dikunci. “Aku ada hp lama. Masih bagus, cuma layarnya agak retak sedikit aja. Kamu pake ya.” Tak lama kemudian Gyanetta sudah kembali dengan sebuah ponsel merek iphone.
“Enggak mau.”
Gyanetta memaksa. “Ambil, Rion. Kamu butuh hp yang lebih canggih. Uang di rekening kamu itu banyak. Hp yang kamu pake sekarang sistem keamanannya pasti payah. Sedangkan, hp ini sistem keamanannya jauh lebih bagus. Hp ini punya sistem buat ngeblokir iklan yang kemungkinan bawa virus. Kalau hp ini hilang kamu bahkan bisa pake lost mode. Siapapun yang pegang hp kamu enggak bisa buka isinya. Selamanya hp kamu bakal kekunci.”
Tahu-tahu ponsel itu sudah berpindah ke tangan Orion. Ponsel pintar itu kelihatannya masih baru. Memang benar ada retak di layarnya, tapi tak sampai tembus ke LCD.
“Nyalain aja. Baterainya masih banyak pas aku matiin.”
Orion menurut. Layar ponsel menunjukkan wallpaper wajah Gyanetta yang sedang membelakangi menara eiffel. “Apa password-nya?”
“Tanggal lahir kamu.”
Jari Orion terhenti ketika akan memasukan 6 kode sandi. “Kenapa harus tanggal lahir aku?”
“Itu doang yang aku inget.”
“Kenapa hp ini enggak dipake lagi? Padahal layarnya bisa dibetulkan.”
“Malas. Hp itu jatuh pas aku dan mantan pacarku bertengkar. Yah … kenangan buruk. Buat apa aku bawa-bawa?”
“Yaudah aku pake.”
Gyanetta tersenyum puas.
Pada saat itulah Orion merasa bahwa waktunya pas. Dengan malu-malu Orion mengeluarkan kotak beludru berwarna merah maroon dan meletakkannya di atas meja kerja Gyanetta.
“Apa ini?” Gyanetta mengangkat kotak beludru itu dengan perasaan berdebar. Pada satu sisi Gyanetta sudah dapat menduga apa isinya. Hanya saja, pada sisi lain Gyanetta takut harapannya tak sesuai dengan kenyataan yang ada.
“Buka aja.”
Gyanetta terkesiap ketika menemukan cincin pasangan di dalam kotak beludru itu. Salah satu cincin dihiasi dengan berlian kecil. Cincin itu terlihat sederhana—sama sekali bukan tipe Gyanetta—akan tetapi, entah bagaimana Gyanetta merasa suka.
“Cincin couple?”
“Seperti yang kamu liat.”
Gyanetta mengeluarkan cincin bermatakan berlian dan memasukannya ke jari manis sebelah kiri. Dengan bangga perempuan itu memamerkannya cincinnya kepada Orion. “Pas, dong!”
Tentu. Orion tahu ukuran jari manis Gyanetta. Karena sering menemani perempuan itu berbelanja Orion jadi hafal sendiri dengan nomor sepatu, ukuran baju, ukuran cincin, warna yang Gyanetta suka, dan brand yang perempuan itu puja.
“Suka?”
“Suka. Kamu juga mau pake?”
Orion memandangi cincin yang belum bertuan itu. Tak ada salahnya sih memakai cincin pasangan. Apalagi sebentar lagi Orion memang akan menikah. Jadilah Orion menarik keluar cincin itu dan mengenakannya di jari manis sebelah kiri.
Gyanetta meraih tangan kiri Orion dan menyandingkan cincin mereka berdua. Manis sekali kelihatannya. Kulit Orion yang terlihat kuning langsat tampak kontras bersanding dengan kulit Gyanetta yang putih pucat.
“Lucu,” kata Gyanetta. Wajahnya terlihat merona karena senang.
Orion tentu memperhatikan itu. Senyum yang terbit di bibir indah Gyanetta menular kepadanya.
[]