From Gyanetta Leticia Oshadi: Lusa kita fitting baju pengantin ya
Orion baru selesai mandi ketika mendapatkan pesan dari Gyanetta. Sejak minggu lalu Orion sudah memindahkan semua data dari ponsel lama ke ponsel baru pemberian Gyanetta.
Sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur Orion mengetik pesan balasan.
To Gyanetta Leticia Oshadi: Jadinya pakai baju yang udah jadi aja?
Hanya butuh dua detik sampai pesan balasan masuk.
From Gyanetta Leticia Oshadi: Iya. Kalau bikin kelamaan. Keburu gede perutku nanti
From Gyanetta Leticia Oshadi: Kalau seragam keluarga kita fix aja minta dress code warna rose gold. Enggak ada penjahit yang sanggup buat bikin baju dalam jumlah banyak di waktu yang mepet. Gimana menurut kamu?
Sebetulnya awalnya Gyanetta terlihat kecewa karena tak bisa mengenakan dream wedding dress-nya. Hanya saja, entah bagaimana akhirnya Gyanetta satu suara dengan Orion.
To Gyanetta Leticia Oshadi: Aku enggak masalah
Hanya berselang 3 detik dari dikirimnya pesan itu Gyanetta menelepon Orion.
“Kenapa?” tanya Orion tanpa basa-basi.
“Aku ‘kan udah kirim beberapa design gaun pengantin. Kamu bantu pilih juga, dong. Biar aku bisa mempersempit pilihanku.”
“Oke.”
Masih dalam sambungan telepon Orion membuka galeri ponsel. Di sana Gyanetta telah mengirim 3 foto gaun pengantin dengan rancangan yang berbeda. Sekilas menurut Orion seluruh gaun itu tampak sama. Yang membedakan hanyalah detail pendukung saja.
“Bagus semua,” kata Orion pada akhirnya.
“Iya ‘kan? Tapi, coba kamu bayangin aku pake satu-satu gaun itu. Kira-kira mana yang paling cocok sama aku.”
Orion melakukan apa yang Gyanetta sarankan. Gaun pertama memiliki lekuk yang terlalu rendah. Agaknya kurang cocok digunakan untuk upacara pemberkatan. Gaun kedua lebih sopan, namun bagian bawahnya terlalu mengembang. Orion takut menginjaknya ketika nanti berjalan berdampingan dengan Gyanetta. Sementara itu, gaun ketiga … karena terlalu semangat melakukan swap tanpa sengaja Orion melewatkan satu foto. Kini layar ponselnya tidak lagi menampilkan foto gaun pengantin, melainkan potret wajah Gyanetta yang tersenyum menghadap kamera.
Di dalam foto itu Gyanetta menggunakan atasan off shoulder dan rok di atas lutut. Riasan wajahnya yang peachy membuat Gyanetta terlihat manis. Orion mengikuti nalurinya untuk menggeser layar ponsel. Kali ini layar menampilkan foto Gyanetta dengan helm gojek. Perempuan itu membuat ekspresi duck face yang lucu.
Tampaknya Gyanetta tidak menghapus foto dirinya di ponsel ini. Jari Orion terus bergerak di atas layar sampai akhirnya Orion tiba pada satu foto yang menampilkan dirinya dan Gyanetta.
Itu foto lama. Foto tersebut menampilkan Orion yang menggunakan toga, sedangkan Gyanetta di sampingnya menggunakan kebaya berwarna ungu. Orion ingat kapan foto ini diambil, yakni di hari kelulusannya. Hari itu Orion menerima banyak buket bunga. Salah satunya dari Gyanetta.
Dulu Orion dan Gyanetta memang lulus di tahun yang sama, namun Orion wisuda lebih dulu. Gyanetta baru menyusul di gelombang wisuda berikutnya.
“Rion?” Gyanetta memanggil di seberang sana. “Kamu tidur?”
Sadar akan tindakannya Orion buru-buru menutup fitur galeri. “Sorry tadi terlalu fokus milih.”
“Jadi, bagusan yang mana?”
“Yang nomor 3 aja.”
Sejujurnya sih Orion belum melihat jelas gaun nomor 3. Hanya saja, mengingat detail gaun nomor 1 dan 2 langsung membuat Orion yakin kalau gaun nomor 3 jauh lebih baik.
“Ah, okay. Yang itu aja, deh.”
Mendengar nada bicara Gyanetta yang lesu membuat Orion merasa heran. “Kamu sukanya yang mana?”
“Aku sukanya yang nomor 2, tapi kata Mami terlalu heboh. Kamu juga kayaknya enggak suka.”
Aduh, iya, sih. Tetapi, kalau sudah begini mana tega Orion menolak?
“Nomor 2 aja kalau gitu.”
“Beneran?”
“Iya, gampang nanti aku tinggal jalan jinjit biar ujung gaunnya enggak keinjek pas jalan bergadengan sama kamu.”
Terdengar tawa Gyanetta di seberang sana. “Kalau Mami protes kenapa aku pilih gaun yang itu, kamu yang pasang badan ya.”
“Iya, Netta. Aku yang akan bilang kalau kamu paling cantik pakai gaun itu.”
Orion tidak tahu bahwa efek dari ucapannya membuat pipi Gyanetta terasa panas.
Astaga! Apa-apaan Orion. Gyanetta merutuk di dalam hatinya. Untung saja Tuhan tidak memberkati manusia dengan kemampuan membaca pikiran. Kalau iya, bisa malu sekali Gyanetta.
***
Pada hari yang telah ditentukan Orion kembali bertemu dengan Gyanetta. Kali ini perempuan itu yang menjemput Orion di RS kedua tempat Orion praktik. Keberadaan Gyanetta di lobi rumah sakit agaknya cukup mencolok sehingga sejumlah pria secara terang-terangan mencuri pandang ke arahnya, sedangkan para perempuan melirik Gyanetta dengan kagum.
Orion melihat itu semua. Sebenarnya wajar saja sih kalau sosok Gyanetta mendapatkan atensi sebanyak itu dari orang asing. Gyanetta itu … kalau dilihat-lihat memang cantik sekali.
Ditunjang dengan bodycon pencil dress yang dilapisi dengan blazer hitam membuat penampilan Gyanetta sangat attractive. Memandang Gyanetta dalam sekali lihat memang tak akan cukup.
“Hai,” sapa Orion.
Gyanetta tersenyum hangat menyambut Orion. “Hai. Udah beres kerjanya?”
“Udah. Kita mau langsung ke butiknya?”
Gyanetta melirik arlojinya. “Iya. Sekarang aja yuk? Kalau kesorean aku enggak enak.”
Orion setuju. Keduanya berkendara dengan mobil menuju tempat yang dimaksud. Kali ini gantian Orion yang menyetir. Gyanetta kebagian duduk saja sampai mereka tiba.
Selama perjalanan Gyanetta berulang kali melirik Orion. Yang menjadi objek penglihatan tentu saja sadar akan hal itu.
Dengan grogi Orion mengusap pipi kirinya. “Ada noda di pipiku?”
“Hah?”
“Dari tadi kamu ngeliatin terus.”
Gyanetta melipat tangannya di depan daddda. “Bukan. Aku heran aja. Sejak putus dari cewek itu, kamu enggak pernah pacaran lagi. Maksudnya kok bisa? Apa mungkin kamu masih galau sampai menutup hati untuk orang baru?”
Aneh sih menurut Gyanetta. Orion itu secara fisik termasuk good looking. Pekerjaannya juga terpandang. Pokoknya di samping kekurangan Orion yang super hemat, lelaki itu sempurna. Masa tidak ada perempuan yang tertarik, sih?
“Ya, enggak, dong.” Orion menoleh dengan kening berkerut. “Udah jadi cerita masa lampau itu kisahku sama cewek itu.”
“Terus? Emang kamu enggak pernah naksir siapa gitu?”
Kalau dipikir-pikir Orion juga merasa heran. Sejak jadi mahasiswa sampai jadi dokter spesialis rasa-rasanya belum ada perempuan yang berhasil membuat Orion merasa dunianya jungkir balik.
“Enggak … enggak tau juga kenapa. Lagian dari zaman kuliah aku udah sibuk. Makan aja sering lupa apalagi PDKT sama cewek. Mungkin memang ada yang dekat satu atau dua orang tapi, kamu tau sendiri … balas pesan aja aku malas. Telepon juga kalau enggak urgent ya … enggak akan aku angkat. Palingan cewek juga ogah menyikapi aku.”
Gyanetta manggut-manggut. “Iya, sih. Dari dulu kamu emang future oriented banget.”
Di saat Gyanetta sudah gonta-ganti cowok Orion dapat pacar baru saja belum.
Di butik Orion menjadi orang pertama yang melakukan fitting. Gyanetta telah memilihkan kemeja, tuksedo, dan celana yang akan Orion gunakan di hari pernikahan mereka kelak. Orion sih hanya iya-iya saja. Lagi pula baginya semua kemeja dan tuksedo kelihatan sama saja bahkan untuk bagian detail.
“Bagaimana?” Orion meminta pendapat Gyanetta begitu dia menyibak tirai yang membatasi fitting room dengan ruangan di mana Gyanetta duduk menunggu. “Bagus?”
Decak kagum terdengar dari mulut Gyanetta. “Emang enggak salah pilih aku. Potongan jas dan kemejanya cocok banget di kamu.” Gyanetta melangkah mendekat. Dia memperhatikan penampilan Orion dari atas ke bawah. “Kamu keliatan ganteng banget, Rion.”
“Serius?”
“Iya. Paling ini aja ….” Gyanetta merapikan poni Orion yang hampir menyentuh mata. “Harus dipotong sedikit biar penampilan kamu makin ganteng.” Gyanetta memiringkan kepalanya sambil tangannya bergerak mengatur rambut Orion. “Eh, apa enggak usah dipotong aja ya? Kayaknya kalau dipakein pomade bakal oke.”
Orion merasa ada yang janggal. Padahal ini bukan kontak fisik pertama mereka. Padahal ini bukan kali pertama Gyanetta berada sedekat ini dengan Orion, tetapi kenapa sekarang rasanya agak canggung. Tak nyaman dengan kejanggalan itu sontak Orion melangkah mundur dan menciptakan jarak yang cukup dengan Gyanetta.
“Okay … nanti aku pikirkan apakah harus dipotong atau dibiarkan aja,” kata Orion kikuk.
Semula Gyanetta merasa heran melihat sikap Orion, namun perempuan itu tak mau ambil pusing. “Mbak, saya mau yang ini ya. Fix-nya yang ini.”
Setelah memastikan pakaian Orion dikemas dengan apik kini giliran Gyanetta yang menggunakan gaun. Butik ini menyediakan gaun pengantin dengan dua pilihan. Pertama gaun yang bisa disewa dan gaun yang bisa dibeli. Gyanetta sendiri memilih untuk membeli. Bagi Gyanetta tak ada yang boleh menggunakan gaun pengantinnya kelak. Hanya Gyanetta seorang yang bisa memiliki gaun beserta kenangannya.
Sekitar 10 menit kemudian Gyanetta keluar dari fitting room dengan dibantu oleh salah satu staf wanita. Kala itu waktu seakan melambat. Adegan Gyanetta yang tersenyum sambil berputar pelan memamerkan gaunnya tampak bagai potongan dalam film yang pernah Orion tonton di masalalu.
“Cantik enggak?” tanya Gyanetta dengan harap-harap cemas.
Gaun yang dikenakan oleh Gyanetta dilapisi oleh kain lace warna putih dengan motif bunga dan sulur. Pinggang Gyanetta yang masih ramping melekuk dengan indah. Penambahan manik-manik kaca dan payet menambah sentuhan mewah pada gaun pengantin yang dikenakan oleh Gyanetta.
Orion tak perlu berpikir dua kali untuk menjawab, “Cantik sekali … kayak princess.”
“Gaun ini punya tambahan sleeves lace, jadi bisa dipakai untuk pemberkatan. Setelah sesi pemberkatan slevees bisa dilepas dan look-nya akan berbeda.” Staf yang mendampingi mereka menambahkan informasi.
Tanpa sadar Orion mengulurkan tangan kanannya ke arah Gyanetta. Dengan malu-malu Gyanetta meraih tangan Orion.
“Beneran bagus ‘kan pakai ini?”
Orion mengangguk takjub. “Bagus. Enggak ada yang lebih pantas pakai gaun itu selain kamu, Netta.” Dia melihat sekeliling. Saat menemukan cermin setinggi 2 meter Orion membimbing Gyanetta untuk melangkah ke hadapan cermin tinggi itu.
Cahaya yang dipantulkan oleh cermin menampilkan Orion dan Gyanetta. Orion sendiri sudah berganti baju menjadi kemeja lengan pendek dan celana trouser sehingga kini penampilan keduanya terlihat jomplang.
“Aku kayak upik abu begini berdiri di samping kamu.”
Gyanetta tertawa ringan menanggapi lelucon Orion. “Enggak, dong. Kamu masih ganteng, Rion.” Gyanetta lantas menyandarkan kepalanya ke bahu Orion. Di bawah sana tangan keduanya saling menggenggam.
Ada kehangatan yang melingkupi hati Orion dan Gyanetta kala itu. Perasaan berdesir yang belum pernah mereka rasakan pada satu sama lain sejak memasuki usia dewasa.
[]